Saturday, April 13, 2013

Contoh Cerpen Cinta - Pelangi Di mata Senja


Pelangi Di Mata Senja
Karya : Ratna Juwita

            ‘Senja itu apa sih,kak?’
            ‘Senja itu lembayung.. langit indah dikala sore, yang berarti tatanan surya saat akan memasuki belahan lain bumi. Senja itu indah.. seperti dirimu...’
            “Senja.. Seenjaaa!!”  Aku tersentak kaget  mendengar teriakan itu. Tepat ditelingaku. Aku menoleh dan melotot kearah Ridwan yang menatapku jengkel.
            “Apa sih?! Jangan teriak-teriak kenapa?!” Kataku kesal. Temanku yang satu ini memang sangat menyebalkan! Selalu saja berteriak-teriak di telinga orang seperti macan yang kelaparan. Ditambah lagi, Ia telah mengusik lamunanku. Aku jadi bertambah kesal padanya.
            Yang dibentak malah nyengir kuda. Kemudian, dia duduk disebelahku. ”Maaf-maaf! Jangan marah gitu,dong! Mukamu kusut tuh,jadinya! Aku kan hanya mau membicarakan sebuah berita terhangat! Lagipula, kamu juga, sih kerjaannya ngelamun mulu!” Katanya dengan mata berbinar, seolah penuh dengan penyesalan yang diapit kemunafikan!.
            Tapi, padanya aku tak bisa marah berlama-lama, karena bagaimanapun juga dia adalah teman terbaik yang kupunya. Dia memang sedikit menyebalkan dan tidak begitu populer di sekolah tetapi, bagiku dialah yang paling populer dalam kehidupanku setelah ibu dan kakakku.
            “Berita apa?” Aku bertanya dengan malas. Ya,tentu saja! Bagaimana aku tidak merasa malas apabila dia mengatakan itu hampir setiap hari! Baginya, semua hal adalah berita hangat! Sampai anak yang terjatuh pun dianggap berita hangat untuknya.
            “Ada anak baru! Masuk kelas ini!” Matanya bersinar menatapku.
            Aku menghembuskan nafas,”Dia cewek?” Tebakku tanpa memandangnya.
            “He-emb!” Dia mengangguk cepat.
            “Cantik?” Tebakku lagi
            “Ya!”
            “Putih?”
            “Siipp!!”
            “Rambutnya panjang?”
            “Oke!”
            “Matanya indah?”
            “Banget!”
            “Bodinya...” Kata-kataku menggantung. Tidak mau meneruskanya.
            “Kerenz dan..Emmhh!” Aku membekap mulutnya dengan cepat, sebelum dia mengatakan kata-kata yang tidak ingin kudengar.
            “Kalau itu,mah.. tipe cewek idamanmu,bodoh!” Aku meliriknya lalu mengambil buku dari dalam tasku dengan menggunakan tangan kananku. Sedangkan tangan kiriku masih sibuk membekap mulut Ridwan yang sudah ingin melanjutkan kata-katanya.
            Sudah kuduga, bicaranya pasti ke arah Singapura apabila terus dibiarkan. Pikiran dan otaknya memang terkadang tidak jauh-jauh dari hal tersebut diatas. Apalagi, kalau menyangkut masalah cewek, dia bahkan bisa mengatakan hal yang lebih dari pada itu. Berbeda sekali denganku, yang justru tidak menyukai cewek manapun, secantik apapun, dan sekaya apapun selain kakak kandungku sendiri. Pelangi.
            Jangan salah paham. Aku bukanlah tipe cowok yang menyukai saudara sendiri. Aku menyukai kakakku sebagai dewa pangganti ibuku yang sudah meninggal sejak aku masih kecil. Namun, sekarang sama saja dengan tidak memiliki keduanya, karena kakakku sedah menjemput ibukku 1 tahun yang lalu. Dan aku, telah kehilangan keduanya.
            “Anak-anak! Ayo diam!” Tiba-tiba, guru Agamaku telah berdiri di depan kelas. Disampingnya, berdiri seorang cewek putih, berambut panjang dan entah aku bisa mengatakan bahwa matanya itu indah atau tidak.
            “Mmff..mmff!” Aku baru menyadari bahwa tanganku masih berada dimulut Ridwan. Dia melotot kearahku dengan muka merah.
            “Oh..sorry! gak nyadar!”Aku langsung melepas tanganku dari mulutnya.
            “Lo! Hah..hah.. mau ngebunuh gue ya?!” Dia membentakku sambil sesekali melirik guru dan cewek baru itu. ”Eh.. dia cantik,kan?” Dia mengedipkan matanya beberapa kali dengan genit kearahku.
            “Jangan memandangku seperti itu! Jijik tau!” Aku tersenyum mengejek padanya.
            “Anak-anak! Ini ada teman baru untuk kalian! Ayo,silahkan perkenalkan dirimu!” Kata Bu Erni kepada cewek itu. Yang disuruh, melangkah malu-malu kedepan.
            “Nama saya..” Dia berhenti sejenak dan memandang berleliling. Dan entah ini hanya perasaanku atau dia memang melihatku lebih lama daripada yang lainnya?, “Nama saya Pelangi!”
            DEG!! Jantungku bersikap tidak normal. Berdetak jauh lebih cepat dari batas kewajaran. Bergerak lebih cepat dari kereta express sekalipun. Aku melotot dan menunduk tak percaya. Aku tau dia mengatakan hal lain lagi, tapi aku tidak mendengarnya setelah itu. Antara sadar dan tidak. Telingaku seperti dibuat tuli olehnya. Sesak. Aku punya masalah sekarang, dadaku terasa sangat sesak!
            Memori otakku mulai menghubungkan antar jembatan yang terhubung dengan cepat! Pusing. Bayangan masa lalu tentang kakak  mulai merangkak masuk lewat kilasan hitam di depan mataku. Kepalaku pening. Seakan diguncang gempa yang maha dahsyat. Semakin lama, tergambar jelas sosok kakak yang sangat kusayangi. Kakakku Pelangi. Lalu, sedetik kemudian semuanya menjadi gelap dan aku tak bisa mengendalikan cerebellum-ku.
------PDS------
            ‘Kakak,akan baik-baik saja..’ Kata kakak tersendat-sendat dan menatapku lewat matanya yang teduh.
            ‘Kakak berjanji?’ Tanyaku diantara tangisanku. Aku memegangi tangannya.
            ‘Lebih dari itu..’ Dia tersenyum lemah.
            ‘Kakak.. boleh aku tanya sesuatu?’Aku menatap matanya.
            ‘Apa?’Balasnya.
            ‘Senja itu apa sih,kak?’Dia tersenyum mendengarnya.
            ‘Senja itu lembayung, langit indah dikala sore.. yang berarti tatanan surya saat akan memasuki belahan lain bumi! Senja itu indah, seperti dirimu..’Setelah itu,matanya tertutup. Jantungku berdetak cepat. Aku mengguncangkan tubuhnya semampuku. Aku tercekat! Tidak ada suara yang berhasil keluar dari tenggorokanku. Aku menangis.
            ‘Sudah Senja!Sudah!Senja!’
            “Senja!! Senjaa!!”
            “Ngh..” Aku mendesah pelan. Dan kemudian mencoba untuk membuka mataku yang terasa berat. Aku menatap lurus kearah Ridwan yang memandangku dengan cemas.
-----PDS-----
            Seminggu sudah sejak kejadian itu. Aku duduk termenung di sudut taman. Malas. Benar-benar malas. Aku tidak mau berada dikelas bersama dengan cewek itu. Bersama cewek yang namanya mirip kakakku itu. Jujur saja, sejak kejadian itu aku trauma bertemu dengannya. Aku juga tidak tau apa yang telah terjadi padaku yang kurasa begitu membencinya. Walau terlihat tanpa alasan yang jelas, tetap saja aku tidak menyukainya lebih dari siapapun.
            Semakin lama, semakin banyak saja hal darinya yang mirip dengan kakakku. Sungguh menyebalkan! Dan lagi, sekarang hampir seluruh cowok di sekolah ini menyukainya! Termasuk Ridwan! Ah! Aku mengacak-acak rambutku dan menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Anak baru itu kini benar-benar telah menguasai sekolah ini.
            Tap-tap-tap
            Aku mendongak. Menyadari ada orang datang mendekat dan bersiap untuk meninggalkan tempat renunganku ini. Tetapi, aku tak jadi melakukanya. Aku diam. Melihat sosok yang berdiri tegak di hadapanku. Sosok yang menatapku dengan tatapan yang lembut sebenarnya, tetapi berhubung aku yang melihatnya, bagiku itu menyebalkan!
            “Hai,Senja!” Sapanya sok ramah. Aku memutar bola mataku dan bersiap untuk pergi dari tempat itu. Aku sama sekali tak berniat berada disini bersamanya.
            “Eh,tunggu”! jangan pergi! Aku mengganggumu,ya?”
            “Sangat!” Jawabku cepat.
            “Maaf,ya! Kenapa sih, kau sepertinya tidak menyukaiku?”
            “Aku bukan laki-laki di sekolah ini yang kebanyakan memujamu!” Jawabku ketus.
            “Oh ya? Aku tidak merasa seperti itu!” Dia tersenyum dan masih berdiri didepanku.
            “Hah..” Aku menghembuskan nafas,”Memangnya..”
            “Senja..” Potongnya. Aku semakin kesal.”Aku tau kau tidak menyukaiku karena namaku,kan?” Dia menatapku sedih.
            “Jangan sok sedih! Pasti Ridwan yang telah memberitahukanmu,iya kan? Sudahlah! Malas aku disini bersamamu!” Aku berjalan menjauh darinya dengan langkah cepat. Aku benar-benar tidak suka bersamanya disini. Tidak suka.
-----PDS-----
            Bel pulang sekolah berdentang dengan keras. Aku berjalan keluar kelas setelah merapikan buku dan membawa tasku. Aku sedang marahan dengan Ridwan. Sehingga, dia tidak duduk di sebelahku sekarang. Tentu saja semua ini karena gadis itu. Dia yang telah membuat aku dan Ridwan bertengkar setelah dari taman tadi.
            Aku berjalan keluar kelas. Namun,lagi-lagi langkahku terhenti. Memang, ini karena gadis itu. Tapi, kali ini lain perkaranya, karena kulihat dia sedang diseret oleh 3 orang siswi yang selalu menyebut diri mereka itu cantik dan selalu membuatku muntah dengan gaya mereka yang menurutku norak sekali! Dan sekarang, apa yang sedang mereka rencanakan dengan membawa gadis itu bersama mereka? Kelihatanya, gadis itu juga tidak suka berada diantara mereka.
            Ah,sejak kapan aku menjadi begitu peduli pada gadis itu? Itu bukan urusanku! Namun, kakiku sama sekali tidak bisa kuajak untuk menjauh dari sini. Jangankan hanya untuk selangkah, sesenti-pun aku tidak mampu berpindah dari tempatku berdiri. Sedangkan mataku, terus mengikuti setiap gerakan yang mereka lakukan.
-----PDS-----
            “Ehm..”Aku berdehem keras begitu aku sampai didepan pintu gudang. Tentu saja aku melakukannya dengan sengaja.
            “Se..Senja??”Mereka bertiga dengan kompak membelalakkan mata dan berkoar.
            “Ngh.. para gadis yang imut namun menjijikkan! Mau tidak apabila perbuatan yang kalian lakukan ini diketahui oleh kepala sekolah? Hukuman apa ya, yang pantas diberikan kepada siswi yang suka melakukan kekerasan?” Aku menatap mereka dengan senyum menyindir. Tanganku bergerak perlahan kedalam saku celanaku. Mereka kini menatapku ketakutan, ”Mmm.. satu lagi! Aku punya bukti rekaman soal perbuatan kalian barusan, akan kutunjukkan dengan senang hati apabila kalian menginginkannya!”
            “Ti..tidak!” Jawab salah seorang dari mereka dengan tubuh gemetar. Wajahnya mulai terlihat memucat sedikit demi sedikit.
            “Atau,kalian mau meninggalkan tempat ini dengan cara damai?”Aku menatap mereka tenang, dan hanya membiarkan mereka lewat saat mereka berlari keluar gudang dengan buru-buru dan penuh rasa ketakutan. Aku tersenyum lega. Entah kenapa aku bisa berada disini tapi, kakiku terkadang memang bergerak semaunya.
            Begitu melihat mereka menuju kearah gudang, tanpa sadar aku mengikuti mereka. Ya,tapi aku juga tidak mau mengatakan bahwa aku mengkhawatirkan gadis itu. Sama sekali tidak! Aku mulai melangkah lagi meninggalkan gudang.
            “Senja,terimakasih!”Aku mendengar suaranya yang lemah.
            “Bukan untuk menolongmu!” Aku menjawab ucapannya tanpa menoleh kearahnya dan terus melanjutkan langkahku.
-----PDS-----
            Aku duduk ditepi tempat tidurku. Gelisah. Aku tidak tau apa yang telah membuatku segelisah ini. Tapi, perasaan ini benar-benar membuatku jengkel. Tidak enak. Perasaan yang pernah kurasakan sebelumnya disaat kakak dan ibuku meninggal dunia. Aku berdiri, dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Arah langkahku tak menentu, berjalan sekehendak urat dan syaraf  kakiku.
            Dibenakku, terlukis wajah gadis itu. Aku tidak khawatir. Bukan, kurasa bukan. Aku bingung. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Tapi, yang pasti aku yakin bahwa aku sama sekali tidak mengkhawatirkannya.
            Tok-tok-tok
            Aku terlonjak kaget mendengar pintu kamarku diketuk. Aku melangkah mundur karena terkejut, namun sedetik kemudian aku telah bisa mengendalikan diriku lagi.
            “Si..siapa?” Tanyaku sambil memandang kearah pintu.
            “Anu,Den! Ini saya Mbok Nah!” Suara itu membuatku lega sesaat, ”Ada Den Ridwan diluar!” Aku mengerutkan kening.
            “Oh,suruh dia masuk,Mbok! Aku akan segera keluar!”Setelah itu,terdengar langkah menuruni tangga dari luar kamar. Aku diam sejenak. Berpikir.
            Ridwan? Mau apa dia kesini? Bukankah aku dan dia sedang marahan? Ataukah dia ingin minta maaf padaku? Mungkin saja! Aku tersenyum senang dan membuka pintu kamar lalu, menuruni tangga dengan cepat .Aku melihat Ridwan duduk di sofa dengan posisi menghadap kearah yang berlawanan denganku. Aku semakin senang karenanya.
“Ridwan?” Sapaku. Dia menoleh dengan seulas senyum tipis dibibirnya.
“Hai,Nja!” Balasnya singkat. Aku langsung duduk didepannya. Kulihat, dia memegang sebuah surat ber-amplop putih ditangannya.
“Mau apa? Kalau minta maaf aku juga..”
“Nja..” Dia memotong ucapanku. Lalu, dia menatapku dengan sedih. Aku bingung karenanya, ”Pelangi..”
“Jangan sebut nama itu!”Aku ganti memotong ucapannya. Dadaku berdebar-debar.
“Yah,..dia..” Kata-katanya menggantung. Aku semakin gelisah melihat gelagatnya yang tidak biasa itu. Dan lagi, dia menyebut-nyebut nama Pelangi.
            “Kau menemukannya di gudang?” Aku mencoba untuk menebak inti pembicaraanya.
            “Ya! Dia sebenarnya tidak apa-apa, hanya..”Lagi-lagi dia tidak meneruskan kata-katanya.
            “Ada apa?”Tanyakun  gugup. Sebenarnya,aku lega tetapi karena imbuhan ‘hanya’-nya aku jadi menaruh rasa curiga.
            “Ini!”Dia menyerahkan amplop yang sedari tadi digenggamnya padaku. Aku mengerutkan kening, lalu tanpa banyak bicara membuka dan membaca surat yang ada didalamnya.
            ‘Untuk Senja,
Maaf telah membuatmu kembali teringat akan masa lalumu. Tapi,bukankah itu juga bukan kehendakku? Ngh.. aku akan pergi! Orang tuaku ingin agar aku sekolah di Singapura. Aku juga yang memintanya. Maaf juga untuk seminggu yang mengganggumu. Kukira,kita akan bisa berteman baik saat pertama kali aku melihatmu. Tapi,kau membenciku.
Tidak apa-apa! Aku tidak menyalahkanmu. Dan untuk kakakkmu,aku turut berduka.
Pelangi’
            Aku menatap surat singkat itu dengan tangan gemetar. Bingung. Aku tidak bisa menahan kegelisahanku setelah membaca isi surat itu.
            “Dia pergi,kan? Aku rasa kau tidak mendengarnya tadi pagi! Kau terlalu cuek padanya! Sekarang dia pergi, bagaimana? kau puas?” Aku hanya menunduk mendengar ucapannya, ”Sebenarnya,kupikir kau akan senang dengan kedatanganya! Karena dengan begitu kau masih punya kesempatan untuk menjaga 1 pelangi lagi!”
            Aku masih menunduk tak percaya. Tubuhku semakin gemetar. Kau akan punya  kesempatan untuk menjaga 1 pelangi lagi!. Kata-kata Ridwan itu terus terngiang di telingaku. Panas rasanya aku mendengarnya.
            “Tapi, sekarang kau membuang kesempatan itu percuma! Apa yang seharusnya bisa kau lindungi malah kau campakkan! Kau telah kehilangan semuanya sekarang!” Ridwan mengatakannya dengan penuh penekanan pada setiap kata-katanya. Aku menutup mukaku dan kurasakan, butiran keringat telah memenuhi seluruh dahiku. Keringat yang terasa dingin ditanganku.
            “Tapi,..”Dia melanjutkan. Aku sudah tidak sanggup mendengar kalimat selanjutnya. Aku benar-benar kehilangan kendali sekarang. Rasa apa ini? Rasa yang perlahan-lahan menyusup kedalam hatiku. ”Dia baru berangkat! Apa kau masih ingin meraih pelangimu?” Setelah itu dia menyebutkan bandara dan juga jadwal keberangkatan pesawatnya. Perlahan, aku membuka kedua tanganku dan menatap wajahnya yang menyunggingkan senyum. ”Kejarlah langitmu!”Imbuhnya.
----PDS-----
            Aku berlari,berlari secepat yang kubisa! Kurang 15 menit lagi sampai pesawatnya berangkat. Ayo! Berlari lebih cepat lagi! Aku tidak tau apa yang sedang terjadi padaku saat ini! Wajah gadis itu terus-menerus memenuhi otakku akhir-akhir ini! Aku gelisah setiap saat! Aku merasa begitu membencinya setiap kali kutatap matanya! Tapi, ternyata sekarang aku sadar bahwa segala kegelisahanku terhadapnya adalah rasa suka yang tak dapat kupungkiri lagi!
            Ya, aku menyukainya! Sejak pertama kali aku menatap matanya. Akan tetapi, mengapa selama ini aku sama sekali tak menyadarinya? Pikiran dan hatiku telah tertutup oleh kebencian yang tak beralasan hanya karena namanya yang mengingatkanku pada kakakku. Aku bodoh! Benar-benar bodoh! Dan sekarang, aku akan kehilanganya apabila aku tidak cepat-cepat sampai di bandara untuk mencegahnya.
            Akhirnya aku sampai. Tepat didepan bandara itu aku berdiri. Langit yang seakan menggambarkan suasana hatiku segera menumpahkan air dengan derasnya. Aku berlari masuk. Aku baru sadar. Harus kemanakah aku mencarinya? Aku melihat jam ditanganku. Kurang 2 menit lagi. Oh,Tuhan! Dimana dia? Aku celingukan mencarinya.
            “Pelangi..” Desahku disela-sela nafasku yang memburu. Keringatku menetes perlahan demi perlahan. Aku khawatir dan cemas. Aku takut. Aku tak menemukanya ditengah kerumunan orang yang membawa kopor-kopor besar ini. Kakiku mulai melemas. Apa yang harus kuperbuat sekarang?
            Jantungku semakin berdebar. Bodohnya diriku! Mengapa aku tadi berlari seakan aku masih memiliki harapan? Tidakkah aku berpikir bahwa ia takkan kembali? Mataku mulai basah. Dan aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakannya. Pandangku buram dan otot kakiku sepertinya sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhku.
            Aku terduduk. Tak kupedulikan pandangan orang-orang yang menatapku aneh. Air mataku mulai menetes dengan perlahan. Aku menatap lantai dengan tatapan kosong. Tiba-tiba, kudengar bunyi pesawat yang lepas landas. Jantungku berdebar semakin keras. Sedang air mataku tak henti-hentinya mengalir. Payah! Aku memukul lantai dengan kepalan tanganku. Tubuhku berguncang menahan tangis.
            “Pelangi,.” Panggilku lirih. Aku menyesal sekaligus marah! Marah pada diriku sendiri yang begitu tolol! Seandainya ini adalah sebuah drama pasti, masih ada harapan! Pasti masih bisa dikejar! Tapi, sayangnya ini adalah kenyataan!
            Semakin deras air mataku mengalir. Aku tak kuasa menahanya, dan dadaku mulai terasa sesak. Aku kehilangan semuanya sekarang! Disaat aku bisa mendapatkanya aku membuangnya! Dan disaat aku membutuhkanya, dia berbalik pergi! Selamanya! Selamanya dari kehidupanku!
            Aku berdiri dengan langkah gontai. Dia masih tetap tidak ada. Aku berbalik, dan melangkah keluar bandara. Aku menatap sayu pada hujan. Walau terasa berat, aku tetap melangkah. Selesai sudah! Semua telah selesai disaat aku baru menyadarinya!
Sebuah taksi menghalangi jalanku dengan tiba-tiba. Berhenti tepat didepanku. Aku teralu linglung untuk menghindarinya. Ah,aku benar-benar bodoh! Seseorang keluar dari dalam taksi tepat saat aku mulai melangkah lagi. Tetapi, kakiku segera terhenti.
            “Senja?” Panggil seseorang yang baru keluar dari dalam taksi itu heran, ”Mengapa kau ada disini?”Dia menatapku bingung dan dengan kening berkerut. Aku menatapnya tak percaya. Aku sama sekali tak percaya pada mataku sendiri.
            “Pelangi?” Aku ganti memanggilnya tak percaya.
            “Hei! Ada apa denganmu?” Dia bertanya dengan nada cemas melihat keadaanku. Di dalam hatiku terjadi pergulatan sengit. Aku merasa bingung menghadapi kejadian yang begitu tiba-tiba ini. Padahal, aku baru saja menangis karenanya. Tapi, sekarang dia sedang berdiri menatapku.
            Kepalaku benar-benar pusing! Tapi, aku tak mau menundanya lagi! Aku ingin mengatakan semua kepadanya. Air mataku yang belum kering kembali turun dengan derasnya. Dia terlihat gugup menyadarinya.
            “Pelangi..” Kali ini, suaraku terdengar bergetar. Dia menatapku kaget. “Jangan,.Kumohon jangan..” Aku menggigit bibirku.
            “Apa? Oh,iya! Aku tak akan mengganggumu lagi! Kau tak perlu khawatir!” Dia tersenyum sedih dan melewatiku begitu saja. Bukan! Ini tidak benar!
            “Jangan pergi! Kumohon jangan pergi!”Kudengar langkahnya berhenti. Aku dan dia berbalik bersama-sama. ”Ya,.aku pikir aku membencimu! Tapi, ternyata aku salah! Ternyata, ..aku..aku..menyukaimu!”
            Dia terbelalak mendengarnya. Dia menatapku tak percaya.”Tapi,tapi aku..”
            Bagiku itu adalah sebuah jawaban. ‘tapi’-nya itu telah membuatku sadar sekaligus membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku tak memandang matanya untuk sesaat. Aku mencoba untuk menguatkan diriku bahwa dunia ini memang tak seindah harapan.
            “Hm..”Aku memaksakan untuk tersenyum,”Ya! Itu pantas untukku! Aku benar-benar orang yang bodoh! Pergilah! Aku tidak berhak untuk memintamu kembali setelah aku mencampakkanmu!” Aku menangis lagi. Aku memandang kelangit. Berharap, air mataku masuk lagi kedalam mataku. ”Maaf..” Bibirku semakin bergetar, ”Aku, benar-benar menyesal!”
            Aku berbalik. Dan melangkah lagi dengan langkah pelan. Meninggalkanya. Dan mengubur semua harapanku. Hujan berhenti turun. Pipiku masih berlinang air mata. Harapanku telah runtuh,luluh dalam darah. Aku merasakan sakit yang luar biasa pedih. Hal ini memang pantas untukku. Bagus. Aku kehilangan semuanya sekarang.
            Kenapa begini? Inikah rasanya sakit hati yang sebenarnya? Pahit sekali! Aku tak mau mengalaminya lagi! Cukup sekali saja! Kakak,ibu tenangkah kalian disana? Lihatlah kebodohanku ini. Lihatlah ketololanku ini. Aku terus mengumpat diriku sendiri. Setidaknya, memang begitulah aku. Penuh dengan takdir yang malang dan pribadi yang tak berguna.
            “Kau mau pergi?” Tiba-tiba seseorang berkata dari belakang. Aku menoleh dengan pelan. Dia berdiri,memandangku. “Kau! Mau meninggalkanku? Mencampakkanku lagi?”  Air matanya mulai turun perlahan. Aku tak bisa berkata apa-apa. “Aku kan belum selesai bicara,bodoh!” Katanya di sela-sela isak tangisnya.
            Jantungku berdebar keras,”Pelangi..?” Aku memanggilnya tak percaya.
            “Jangan campakkan aku lagi!”Dia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Aku kaget. Mataku tiba-tiba beralih menatap pemandangan dibelakangnya. Disana, tampak pelangi yang turun perlahan dari langit. Dan dibelakangnya, matahari hampir bersembunyi di balik gunung. Aku menatap pemandangan itu dengan takjub. Itu benar-benar pemandangan yang indah!.”A..aku..aku juga..aku juga..” Aku menoleh padanya lagi. Dia menunduk dan wajahnya perlahan berubah warna menjadi merah. Dia tersipu.
            Aku tercengang. Apa yang terjadi ini? Apakah dia..? aku tidak mengerti, tapi..
            “Kau mau pulang,Pelangi? Bersamaku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari dalam mulutku. Tetapi, aku hanya mengulurkan tanganku padanya. Sekarang, entah kenapa aku jadi merasa sangat lega. Sejuk sekali rasanya. Secepat inikah suasana hatiku berubah?
            “Mmm!” Dia mengangguk, “Senja, boleh aku tanya sesuatu?”
            “Apa?” Balasku cepat. Dalam hati aku sangat bersyukur.
            “Menurutmu,pelangi itu apa?” Aku menatapnya kaget. Wajah yang cantik itu tampak tersenyum.
            “Pelangi,ya? Mm..” Aku sengaja menggantungkan kalimatku, “Dimataku,..” Lanjutku, ”Pelangi itu biasan cahaya yang sangat indah! Bahkan, ciptaan terindah yang pernah kulihat! Tapi, ..pelangi itu akan terlihat lebih indah lagi apabila ia bersama dengan senja..”
            Dia memandangku. Aku tak mengerti apa arti tatapanya itu. Tetapi, sedetik kemudian, dia menyambut uluran tanganku.
           
-----------------------PDS-----------------------

What do you think? :

3 comments:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

よろしく!

My photo
Suka banget sama segala jenis buku, mau buku gambar, buku kosong, buku matematika, fisika juga oke, tapi gak perlu ngomongin nilai lah ya hehe. Suka dunia tulis-menulis sejak di Lauhul Mahfudz dan lagi gandrung banget nulis kata-kata baper padahal nggak kenapa-napa.

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com