Wednesday, April 24, 2013

Contoh Cerpen Kehidupan ~ Penyelamat Kecil


PENYELAMAT KECIL
            Luna anakku. Dia divonis dokter menderita leukimia, penyakit jahanam yang membuat anakku menderita. Penyakitnya sudah kronis dan merupakan jenis leukimia yang langka. Aku bingung harus bagaimana. Menangis,mengeluh, hanya itu yang kulakukan. Bagaimana tidak, setiap hari aku harus melihatnya menjalani serangkaian penyembuhan. Melihatnya berteriak dan menangis di bangsal kanker anak yang suram ini. Ingin kugenggam tangannya, memindahkan semua rasa sakit itu ke tubuhku. Tapi itu tidak bisa kulakukan.
            Brian duduk diluar. Menaruh kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Aku yakin dia sangat terpukul. Kutepuk pundaknya. Ia menoleh dan tersenyum melihatku, setelah itu dia memandang ke arah Luna dan berkata, “Bagaimana?”
            “Aku tak tahu sampai kapan semua ini akan terus berlanjut!” Kataku dengan bibir bergetar.
            “Bersabarlah! Dia anak yang kuat! Dia pasti akan segera sembuh!” Dia mencoba untuk meyakinkanku dengan kata-katanya yang lembut namun terdengar tegas.
            “Tapi tidak untukku! Aku harus menyelamatkanya!” Aku masih bersikeras. Brian tersenyum pahit dan menghela nafas panjang. Kami berdua berkecamuk dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Dr. Farhan, spesialis onkologi yang menangani Luna memanggil kami.
            Kami berdua segera duduk dihadapanya setelah sampai dia ruangannya, mendengarkan apapun yang keluar dari mulutnya. Baik atau buruk. Perkembangan atau kemunduran. Kami telah terbiasa mendengarnya.
            “Keadaan Luna sangat parah! Kemungkinan hidupnya hanya 20-30%! Penyakitnya sangat langka! Apakah dia memiliki seorang saudara?” Kata Dokter Farhan memulai pembicaraan.
            “Tidak..” Jawabku singkat.
            “Kita semua tahu bahwa sumsum tulang kalian tidak sama dengan sumsum tulang Luna! Tidak ada jalan lain, kami akan mendaftarkannya pada calon penerima Donor Sumsum Tulang Nasional!” Tambahnya dengan malas.
            “Tapi,itu kan membutuhkan waktu yang relatif lama! Bisa saja Luna sudah tidak punya banyak waktu lagi!” Kata Brian menanggapi ucapan Dokter Farhan.
            “Tidak ada salahnya mencoba,pak! Dia anak yang kuat!” Kata Dokter Farhan sambil melirik kearah pintu.
            Berbulan-bulan kemudian hingga satu tahun telah berlalu. Luna kecilku yang sekarang telah berusia 4 tahun, masih terbaring dengan tenangnya diatas ranjang rumah sakit ini. Wajahnya masih terlihat pucatdan rambut-rambut kecil yang mulai tumbuh dia kepalanya yang plontos. Tak lama kemudian, ia terjaga dari tidurnya dan mulai menangis memanggilku. Aku duduk disampingnya dan memegangi tangan mungilnya.
            “Mommy,sakit..” Rengeknya dengan suara lemah.
            “Mommy tau,sayang! Tapi, Luna harus kuat!”
            “Apakah orang baik sudah sampai disini? Apakah dia sudah datang kemari?” Tanyanya lagi.
            “Belum,sayang! Mommy akan segera mencari orang baik untuk Luna! Luna harus sabar!”
            “Baiklah,Mommy! Beri tahu Luna apabila dia sudang datang,ya!” Katanya. Perlahan, matanya mulai terpejam kembali. Dan sedetik kemudian dia telah terlelap dalam tidurnya.
            Aku menangis. Sedih rasanya melihat penderitaan anakku menanti datangnya seorang dermawan. Waktunya tidak banyak lagi. Akupun hanya bisa terus berdoa agar ‘orang baik’ itu akan segera datang.
            “Ibu Sarah! Saya ingin bicara dengan anda!” Panggil Dr. Farhan ketika aku belum duduk, dia sudah berkata, “Tidak ada harapan! Panitia Donor Nasional mengeluarkan Luna dari daftar!”
            “Tapi, kenapa?” Seruku  cepat.
            “Luna adalah kloter terakhir! Sedangkan, kepanitiaan ini hampir bubar, sepertinya dia tidak akan mendapatkan apa-apa!”
            “Bagaimana? Bagaimana aku harus..” kataku terbata-bata.
            “Bu, kau harus membicarakan hal ini denga suamimu! Bisakah kau memberikan Luna seorang saudara! Saudara yang kromosomnya sama dengan Luna? Hanya dia yang nantinya bisa menyelamatkan Luna!”
            “Apakah..apakah hanya ini jalan satu-satunya?” Aku bertanya dengan ragu padanya. Dia hanya mengangguk dengan mantap.
            Sepulangku dari rumah sakit, Brian belum sampai di rumah. Kuhempaskan tubuhku di sofa ruang tamu dan meneguk sekaleng jus yang kubeli di jalan tadi.
            “Saudara? Untuk Luna? Apakah bisa yang sama persis?” Kataku dalam hati.
            “Bayi tabung,ya? Itu adalah jalanya. Untuk Luna!” Kataku lagi pada diri sendiri. Saat itu juga Brian datang. Wajahnya kusam terbakar matahari. Bagaimana tidak? Setiap hari ia harus bergelut dengan api, memedamkan pembunuh merah itu dan menyelamatkan orang lain. Dia terlalu lelah,aku tahu tiu. Aku menyambutnya dan segera mengatakan apapun ynag telah Dr. Farhan dan aku bicarakan tadi.
            Setelah mendengarnya, dia terdiam. “Ya! Mungkin hany aini jalan satu-satunya!” Katanya dengan halus.
            Keesokan harinya kami pergi ke rumah sakit bersama-sama. Kami meminta penggunaan bayi tabung untuk adik Luna. Hanya dengan ini kami dapat mendapatkan bayi yang kromosomnya sama persis dengan milik Luna. Bahkan, warna mata, rambut ataupun kulit, bisa kami minta sama persis. Bahkan, kalau kami mau, ciri-ciri manusia superpun bisa kami minta. Namun, tidak! Bukan itu. Hanya ciri-ciri seperti Luna yang kami inginkan untuk menyelamatkan hidupnya.
            Sembilan bulan sudah aku mengandung. Disaat teman-temanku asyik bebicara tentang bayi mereka,aku hanya tersenyum. “Bahkan aku sudah tau akan seperti apa anak ini!” aku berkata dalam hatiku sambil tersenyum dan memandang perutku yang membuncit. “Tidak lama lagi kau akan lahir,nak! Tolong selamatkan kakakmu Luna!” Kataku lirih sambil mengusap perutku, sambil membayangkan kami akan hidup bahagia bersama.
            Malam itu, 31 Desember 2001. Aku sudah berada diruang bersalin. Merasakan hebatnya kontraksi yang kurasakan saat ini. Brian berdiri disampingku, suster datang dan berkata,”1 jam lagi tahun baru,bu! Ia akan menjadi bayi ‘istimewa’. Memang, bayi tahun baru akan mendapatkan bingkisan popok dan uang tabungan untuk biaya kuliahnya nanti. Namun, aku sudak tidak kuat lagi untuk menahanya.
            “Brian! Suruh dokter mengeluarkannya sekarang!” Kataku dengan suara tertahan. Menahan rasa sakit yang sudah menggerogoti seluruh tubuhku. Terutama bagian perutku yang sudah seperti ditusuk-tusuk oleh pisau berkali-kali!
            Tak lama kemudian, dokter datang dan membantuku melahirkan anak ini. Kulihat wajahnya yang cantik diantara nafasku yang memburu dan keringatku yang menetes dengan derasnya.
“Dia anak yang istimewa,meskipun tidak dilahirkan di tahun baru. Karena dia adalah anak yang akan menyelamatkan kakaknya!” Kata Brian sambil memandang bayi kami.
“Siapa namanya?” Tanyaku pada Brian dengan perasaan puas.
“Bella..Nama seorang anak kecil yang kutemui hari ini. Dia membantu menyelamatkan ibunya dari kobaran api hari ini.” Jawab Brian.
“Nama yang indah..” Responku menyetujui nama itu.
Tiga belas tahun berlalu. Dan tiga belas tahun itulah Bella menyuplai kebutuhan Luna. Darah, sunsum tulang, dan kebutuhan lainnya. Dan memang karena itu, penyakit Luna jarang kambuh lagi. Aku bahagia karenanya. Tak jarang Brian memberikan hadiah-hadiah mewah untuk Bella untuk semua jasanya pada kakaknya,Luna. Namun,suatu hari Bella menanyakan padaku akan hidupnya.
“Apakah aku ada hanya untuk menyelamatkan hidup Kak Luna,Mommy? Untuk itukah aku hidup? Untuk menyuplai segala kebutuhsn Kak Luna?” Katanya dengan nada marah kepadaku.
Aku selalu merasa takut hari itu akan terjadi. Bella mulai dewasa dan menanyakan hidupnya. Aku memang jahat karena memperalat anak kandungku sendiri. Tapi, ini semua demi Luna. Aku tidak bisa mencari jalan lain lagi.
Semakin lama, Bella semakin sering bertanya mengenai hal itu.. sedangkan jawabanku tetap sama.
“Kau menolong Kak Luna,sayang! Kau sangat baik! Kak Luna sangat berterimakasih kepadamu!” Seakan tak puas dengan jawabanku, dia selalu marah-marah dan menyalahkan Luna,kakaknya.
“Kak Luna sudah dewasa! Mengapa ia terus-terusan sakit? Mengapa ia selalu bergantung kepadaku?” Aku hanya berkata suatu saat Luna akan membiarkannya hidup tenang tanpa menggantungkan diri kepadanya lagi. Ya. Suatu saat.
Lalu, sesaat kemudian, Bella mulai tenang kembali. Dia diam. Namun, ia berjalan ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Aku tidak tau apa artinya itu. Yang jelas, sepertinya dia tidak puas dengan jawaban yang keberikan kepadanya.
Suatu hari,Luna kambuh. Pendarahanya sangat banyak. Aku dan Brian segera membawanya ke Rumah Sakit yang sudah biasa merawat Luna dengan panik. Aku membiarkan para suster dan juga Dr. Farhan menanganinya di dalam salah satu ruangan. Aku dan Brian duduk di tempat duduk  di lorong bangsal.
“Pak,bu! Bisa kita bicara sebentar?” Kata Dr. Farhan memanggilku dan Brian menuju ke ruanganya. Kami berdua segera duduk dihadapanya.
“Ada apa Dokter?” Tanyaku dengan gelisah.
“Kankernya mulai menyebar lagi! Banyak kinerja organ tubuhnya yang mulai menurun! Dia perlu donor organ sekarang!” Kata Dr.Farhan dengan nada cemas. Pikiranku melayang dengan cepat.
“Bella..Dia harus menolong!” Kataku dalam hati. Aku resah.
Aku minta izin kepada Dr.Farhan dan segera pergi keluar dan menelepon Bella di rumah.
“Sayang..” Kataku setelah terdengar jawaban dari telepon.”Kau mau menolong Kak Luna? Dia hampir sekarat! Dia membutuhkanmu.. Mommy mohon! Kau pasti mau,iya kan sayang?” Bujukku padanya.
“Mommy, sampai kapan lagi? Mommy tahu rasanya? Sakit sekali! Mommy tolonglah! Aku tidak mau lagi seperti ini! Tapi, kalau aku sudah meninggal, aku relakan semuanya untuk Kak Luna! Aku janji!” Jawab Bella tak kalah gelisah.
Saat itu, pikiranku sedang kacau. Aku memikirkan berapa lama lagi Luna akan bisa bertahan hidup. Saat ini dia sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan hanya Bella yang dapat menyelamatkan hidupnya!
“Bella! Kakakmu sekarat! Apa kau bisa mengerti? Kau harus menolongnya! Kau hidup untuk menolongnya!” Seruku di telepondengan perasaan gusar. Terlambat untuk menarik semua ucapanku. Bella telah mendengar semuanya. Pikiranku memang terlalu kacau saat ini untuk memikirkan apa yang baru saja kukatakan pada Bella.
“Mommy? Benarkah? Jadi selama ini benar! Aku hidup hanya untuk menyelamatkan Kak Luna! Mommy, kau jahat sekali! Aku tak menyangka Mommy akan berbuat seperti ini! Mommy jahat! Aku pergi!” Bella marah dan membanting telepon. Aku tau dia pasti akan pergi dari rumah. Aku memberitahu Brian dengan segera tentang Bella. Brian mengambil mobil dan segera mencari Bella. Aku membuntutinya. Sempat kutoleh kebelakang,Dr.Farhan mengangguk padaku dengan seulas senyum terkembang dibibirnya. Aku tersenyum juga, kuserahkan Luna padanya.
Saat di perjalanan mencari Bella, orang dari kantor Brian meneleponnya. Kulihat, Brian menjawab telepon itu dengan gusar. Aku mendengar nama Bella disebut-sebut olehnya. Mobil dihentikan. Aku sontak terkejut. Perasaanku benar-benar tak nyaman saat ini! Benar saja. Brian menutup teleponnya dan berkata,
“Sarah! Bella kecelakaan! Dia tertabrak mobil dan sepertinya dia mengalami gagar otak parah! Andre dan timnya sudah membawa Bella ke rumah sakit!” Kata Brian dengan wajah sedih.
“Apa? Bellaku?? Bellaku sayang..” Aku mulai menangis karena tak kuasa membendung air mata yang perlahan turun.
Brian membelokkan menuju rumah sakit. Dari cara dia mengemudi, dia tampak gugup. Aku pun demikian. Bella anakku, aku menyayanginya bukan hany karena jasanya kepada Luna, tapi karena dia adalah anak yang istimewa. Dia anak yang baik.
Sesampainya di rumah sakit, aku dan Brian berlari menuju ruang Unit Gawat Darurat. Bella sedang terbaring disana. Aku tau dia sedang sekarat. Kugenggam tanganya dan dia segera tersadar.
“Mommy, aku sayang pada Mommy,Daddy dan Kak Luna! Aku tau sebentar lagi aku akan pergi!  Aku minta maaf karena telah marah kepada Mommy dan Kak Luna! Aku juga tahu bahwa sebenarnya Mommy sangat sayang kepadaku! Aku merelakan semua organ tubuhku untuk Kak Luna dan juga orang lain yang membutuhkannya.” Katanya sambil menangis namun, disisi lain bibirnya menyunggingkan senyuman yang lembut.
“Mommy minta maaf,sayang! Mommy sayang kepadamu! Kau anak yang baik! Jangan tinggalkan Mommy!” Air mataku mulai turun dengan derasnya. Aku menggenggam erat tangannya yang mungil. Tangan yang sama persis dengan tangan Luna yang kugenggam dulu. Sama persis.
Namun, detik-detik itu telah berlalu dengan cepat. Nyawa dan raga Bella tak lagi menyatu. Dia meninggal dengan seulas senyum yang sangat manis. Wajah ini. Wajah malaikat ini. Aku tercekat. Sedang air mataku tak urung berhenti, malah semakin lama semakin deras. Aku meremas tubuhnya. Tubuh anakku. Anakku Bella.
“Selamat tinggal.. Terimakasih, malaikat kecilku!” Desahku disela-sela isak tangisku. Wajah Luna segera terbayang dibenakku.
Brian membiarkanku di dalam dan ia memberitahu dokter bahwa, organ tubuh Bella semuanya disumbangkan. Air mataku masih mengalir. Meratapi kepergian anakku. Sulit rasanya melepas tangan Bella yang mulai terasa dingin. Tapi, aku harus merelakanya.
Saat operasi pemindahan organ, aku teringat Bella pernah bertanya,”Mommy,saat Kak Luna meninggal pasti banyak yang akan hadir ke pemakamanya, karena banyak orang yang menyayanginya! Tapi, bagaimana denganku?” Teringat akan hal itu, mataku semakin terasa panas.
“Sayang,banyak yang sangat menyayangimu! Mommy juga..”Tangisku dalam hati.
Setelah operasi selesai, Luna kembali pulih. Dia bertanya kepadaku,”Mommy? Mana Bella?” Aku hanya tersenyum hambar dan berkata,
“Bella ada di dalam darahmu.. mengalir di setiap lekuk tubuhmu! Dia ada di dalam jantungmu.. mengatur detak setiap nafasmu! Dan yang terpenting, dia ada di dalam hatimu.. bersemayam kekal sampai akhir hayatmu!”
“Mommy.. apa kita telah kehilanganya untuk selamanya? “ Tanya Luna dengan wajah sedih. Brian meremas pundakku. Berusaha untuk menguatkan diriku.
“Tidak,sayang! Kita tidak kehilanganya untuk selamanya.. dia selamanya akan memenuhi hidup kita! Mengisi setiap kehampaan kalbu kita.. karena dia,kini telah tersenyum di tempat keabadian sambil mengawasi kita! Dia adalah malaikat kecil kita!” kami bertiga berpelukan.
“Aku menyayanginya dan aku akan selalu menjaganya karena ia adalah aku. Ada di dalam diriku..” Kata Luna sambil tersenyum. Senyuman yang sama persis saat Bella pergi memenuhi kehendak sang Ilahi.
Akhirnya,Luna telah sembuh total. Dan itu semua berkat semua organ Bella yang disumbangkanya. Dan sekarang, tidak hanya ada pada Luna, namun oragan tubuhnya menjadi bagian juga dalam diri orang lain yang telah menerima donornya. Walau kami telah kehilanganya, namun kemuliannya akan terus hidup selamanya.
What do you think? :

1 comment:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com