Sunday, September 15, 2013

Analisis Roman Gadis Pantai - Pramoedya Ananta Toer


Ø  Unsur Intrinsik                              :
·         Tema                                  : Kritik pada feodalisme Jawa (karena roman ini banyak menceritakan mengenai masyarakat yang berasal dari golongan bawah dengan masyarakat yang berasal dari golongan atas/ningrat/bangsawan, serta segala perlakuan tak berperikemanusiaan yang terjadi dalam praktek feodalisme Jawa atas orang-orang yang dianggap “rendahan”/ berasal dari kaum bawah yang umumnya lahir di kampung.)

·         Penokohan              :
v Gadis Pantai – (1. Polos karena dalam cerita ia sama sekali tak tau apa itu kawin dan ketakutan saat melihat darahnya -darah haid- di atas tempat tidur. 2. Cekatan terbukti ketika ia diajari menjahit, membatik dan menyulam -kegiatan wanita utama di pendopo- ia langsung mahir. 3. Ingin Tahu terbukti ia selalu bertanya pada pembantunya apa-apa yang ia ingin tahu hingga sebagian besar dalam cerita adalah dialog tanya-jawab antara ia dan pembantunya yang ingin menenangkanya.)
v Bendoro (Suami Gadis Pantai) – (1. Sopan terbukti dari semua tingkah lakunya sebagai seorang pendopo dengan segala aturan bangsawan. 2. Kejam karena ia memanfaatkan banyak gadis yang cantik-cantik dari kampung untuk menjadi ‘istri percobaan’nya. 3. Alim karena ia selalu melaksanakan sholat dan mengaji, serta membaca buku-buku hadits.)
v Emak – (1. Polos karena begitu mengetahui anaknya dinikahi Bendoro, ia langsung menyerahkannya tanpa tahu untuk apa sebenarnya Bendoro menikahi Gadis Pantai. 2. Penyayang terbukti ia terus menenangkan Gadis Pantai saat Gadis Pantai bingung tentang perkawinannya dengan keris (pengganti Bendoro).)
v Bapak – (1. Keras terbukti di dalam cerita, ia sering memukuli Gadis Pantai ketika Gadis Pantai berbuat salah. 2. Cerdik terbukti ia mengelabui Mardinah dan pengawalnya yang memiliki niat buruk pada Gadis Pantai dengan menyuruh tetangganya untuk mengumumkan kedatangan bajak laut yang sebenarnya tidak ada.)
v Kepala Kampung – (1. Mudah Gugup terbukti ia selalu berkeringat saban kejadian penyerahan Gadis Pantai pada Bendoro.)
v Pembantu tua Gadis Pantai – (1. Setia karena dalam cerita, ia sampai rela diusir demi mengabdi pada bendoronya dan membuat Karim terusir. 2. Rendah diri karena ia berkali-kali mengatakan bahwa ia hanya seorang budak dan orang rendahan dan tak pantas begini begitu. 3. Jujur karena ia selalu menolak tiap kali Gadis Pantai menyuruhnya mengambil perhiasan mana saja jika ia mau.)
v Mardinah (Pembantu Gadis Pantai yang baru) – (1. Licik terbukti ia ingin mencelakai Gadis Pantai ketika menyuruhnya pulang diantar pengawalnya. 2. Matre karena ia hendak membunuh Gadis Pantai karena iming-iming bahwa ia akan dijadikan istri kelima Bendoro. 3. Pasrah karena ia hanya menurut ketik dinikahkan dengan Dul si pendongeng sebagai hukuman.)
v Abdullah, Karim, Said (Anak Bendoro dari istri-istri sebelumnya) – (1. Penurut terbukti karena mereka selalu menuruti perintah Bendoro. 2. Cerdas karena mereka dapat menjawab apa-apa yang ditanyakan Bendoro mengenai agama.)
v Dul si pendongeng – (1. Pintar karena ia dengan cepat dapat mengerti situasi ‘bajak laut’ buatan Bapak Gadis Pantai walaupun ia dikurung. 2. Penakut karena dalam cerita, ia tidak mau melaut seperti nelayan lain karena takut mati tenggelam atau dimakan ikan besar.)
v Kakek Tua – (1. Egois karena ia selalu menyalahkan orang kota sebagai pembawa kerusuhan serta sering memaksakan pendapat. 2. Cepat marah karena ia selalu cepat marah apabila menyangkut persoalan orang kota.)
v Warga Desa – (1. Polos karena selalu mengira bahwa kehidupan ningrat itu selalu enak, nyaman, dsb. 2. Rukun karena mereka selalu bekerja sama dan bergotong royong membantu satu sama lain. 3. Syirik karena sebagian dari mereka iri pada Gadis Pantai yang hidup mewah setelah dinikahi Bendoro.)
v Mak Pin atau Mardikun (Saudara Mardinah) – (1. Licik karena ia juga ingin mencelakai Gadis Pantai dengan menyamar sebagai orang tua yang gagu sekaligus tukang pijit.)
v Pak Kusir (yang mengantar Gadis Pantai) – (1. Ramah karena ia selalu membuat Gadis Pantai tertawa dengan cerita dan gaya bicaranya. 2. Polos karena ia langsung gembira begitu Gadis Pantai memberikan tembakau padanya. 3. Sopan karena ia tak berani memandang Gadis Pantai karena Gadis Pantai adalah istri Bendoro.)
·        Latar                    :
§  Tempat       :
o   Di gedung besar di Kota Rembang
o   Di daerah pesisir pantai utara Pulau Jawa tepatnya kampung nelayan di Rembang
o   Di rumah Gadis Pantai
o   Di kamar Gadis Pantai dalam pendopo
o   Di ruang tamu pendopo
o   Di ruang makan pendopo
o   Di dapur pendopo
o   Di ruang khalwat pendopo
o   Di perahu
o   Di rumah Kepala Desa
o   Di gerobak
§  Waktu            : Sekitar tahun 1930 atau 1940-an dimana penjajahan Belanda masih berkuasa di Indonesia atau bahkan sudah hampir berakhir, karena orang-orang di pendopo masih menggunakan Bahasa Belanda pada beberapa waktu.
§  Suasana       :
o   Menegangkan (1. Ketika para pengawal Mardinah dibacok dan dilempar ke laut. 2. Ketika terjadi perdebatan antara kakek tua dengan warga serta dengan si dul. 3. Ketika Mardinah dipaksa untuk tidur di luar yaitu di balik semak karena telah mencoba mencelakakan Gadis Pantai. 4. Ketika Gadis Pantai berteriak mengatakan bahwa Mak Pin bukanlah seorang perempuan dan tidak gagu. 5. Ketika Gadis Pantai mencoba membawa anaknya keluar dari pendopo dengan paksa namun, dihadang olh pengawal-pengawal Bendoro.)
o   Mengharukan (1. Ketika Gadis Pantai menangis sambil menyusui anaknya untuk terakhir kali. 2. Ketika Gadis Pantai nelangsa karena pelayan tua yang selama ini menemaninya diusir dari pendopo. 3. Ketika Gadis Pantai melepas kepergian Emak dan Bapaknya kembali ke kampung.)
o   Merisaukan (1. Ketika Gadis Pantai terus cemburu pada Bendoro yang sering meninggalkan dirinya untuk bekerja.)
o   Menakutkan (1. Ketika para pengawal dan Mardinah kalang kabut dengan adanya kabar datangnya bajak laut. 2. Ketika warga berbondong-bondong datang ke rumah Gadis Pantai dengan membawa parang, cangkul, dan peralatan tajam lainnya untuk melawan para pengawal.)
o   Membahagiakan (1. Ketika Gadis Pantai disambut warga kampung nelayan saat mengunjungi Emaknya. 2. Ketika Gadis Pantai tidur bersama Bendoro dan merasa nyaman di dekat Bendoro. 3. Ketika si Dul menikah dengan Mardinah diiringi sorak sorai warga kampung nelayan. 4. Ketika si Dul akhirnya memutuskan untuk ikut melaut bersama para nelayan lainnya untuk mencari nafkah.)
o   Menyebalkan (1. Ketika Mardinah membangkang perintah Gadis Pantai serta memojokkan Gadis Pantai dengan sindirannya. 2. Ketika Bendoro tak mau menyentuh bayinya dan Gadis Pantai malah menyuruhnya pulang dan menyuruh Gadis Pantai meletakkan bayinya di ranjang.)

·         Alur                           : Maju, terbukti dari cerita mulai dari awal yaitu ketika Gadis Pantai tinggal di kampung nelayan kemudian dibawa ke pendopo, bagaimana kehidupannya kemudian di pendopo, bagaimana ia menyesuaikan diri sebagai ‘wanita utama’, menjalani hidup dengan Bendoro, mengandung dan melahirkan bayinya dengan Bendoro serta bagaimana ia diusir dari pendopo oleh Bendoro setelah melahirkan bayi pertamanya yang berjenis kelamin perempuan dan ia memutuskan untuk pergi ke Blora karena malu dengan Emak dan tetangganya di kampung.
·         Sudut Pandang      : Orang ke-3 serba tahu.
·         Gaya Bahasa          : Campuran bahasa indonesia jaman dahulu dengan bahasa Jawa pada beberapa kata seperti “kanca” dan “colong” serta sebutan bagi orang jawa seperti “Mas Nganten”, “Sahaya”, dan “Bendoro”.
·         Amanat                     :
o   Tidak penting apakah kita ini termasuk orang rendahan ataupun seorang bangsawan, kita tetap sama di mata Allah.
o   Jangan memperlakukan seseorang semena-mena sekalipun ia seorang budak.
o   Memisahkan seorang anak dengan ibunya merupakan hal yang keji.
o   Wanita bukanlah sebuah ‘percobaan’ maupun seorang ‘pemuas nafsu seks laki-laki.
o   Kejujuran itu mahal, maka dari itu tetaplah berbuat jujur sekalipun nantinya dapat mencelakakan kita sendiri.
o   Mengabdi itu yang utama adalah kepada Allah bukan kepada manusia yang dijunjung seakan ialah penguasa dunia.
o   Hargailah siapa saja orang yang berada di sekelilingmu.
o   Kekuasaan bukanlah suatu ‘ladang’ kesombongan, berbuat adillah ketika kekuasaan berada di tanganmu.

Ø  Unsur Ekstrinsik                           :
·         Judul                               :  Gadis Pantai
·        Pengarang                     :  Pramoedya Ananta Toer
·        Penerbit                          :  Lentera Dipantara
·        Cetakan                          :  Ke-7, September 2011
·        Tahun Terbit                 :  2011
·        Tempat Terbit               :  Jakarta
·        Tebal Halaman               272 hal

Ø  Nilai-nilai dalam Roman          :
v  Nilai Sosial      : Dalam roman ini digambarkan mengenai kekejaman yang tak berperikemanusiaan dan tak beradap seorang penguasa yang memiliki kedudukan sebagai ningrat/bangsawan kepada seorang gadis lugu dari sebuah kampung nelayan yang dicampakkan setelah dijadikan istri percobaan sang penguasa. Jelas sekali bahwa ini merupakan kritik terhadap feodalisme jawa yang digambarkan sangat kental dalam Roman Gadis Pantai ini. Feodalisme yang seakan memberi sekat tebal kasat mata terhadap orang-orang dari kalangan rendahan dengan orang-orang dari kalangan atas/ningrat. Berikut cuplikan dialog dalam roman ini: ‘”Kita sudah ditakdirkan oleh yang kita puji dan yang kita sembah buat jadi pasangan orang atasan. Kalau tidak ada orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.”’ (hal. 99). Ditambah lagi, ‘orang rendahan ditakdirkan’ untuk mengabdi pada seorang atasan seperti dalam cuplikan dialog berikut: ‘“Semua, Mas Nganten, untuk mengabdi pada Bendoro.” ‘(hal. 69).
v  Nilai Moral                : Dalam roman ini, diceritakan bahwa tak seharusnya seorang ibu dipisahkan dari anak yang telah dikadung dan dilahirkannya, seperti dalam cuplikan dialog berikut: ‘“Mestikah saya pergi tanpa anak sendiri? Tak boleh balik ke kota untuk melihatnya?” “Lupakan bayimu. Anggap dirimu tak pernah punya anak.”’ (hal. 257). Apalagi Bendoro hanya menjadikan Gadis Pantai sebagai ‘istri percobaan’ sebelum akhirnya ia menikah dengan seorang dari kalangan bangsawan. Ia hanya menganggap Gadis Pantai hanya mengabdi padanya sebagai seorang rendahan kepada atasan, lalu membuang Gadis Pantai atau mengembalikannya pada bapaknya setelah Gadis Pantai melahirkan anaknya. Ini merupakan satu tindakan dari praktik sistem Feodalisme Jawa yang tak berperikemanusiaan.
v  Nilai Pendidikan        : Diceritakan bahwa seorang wanita utama sebagai istri dari Bendoro harus belajar mengaji, menjahit, menyulam, dan merenda. Dibuktikan dari cuplikan roman berikut: ”Kemudian Gadis Pantai pun belajar menyulam, merenda, dan menjahit.” (hal. 70). ‘Gadis Pantai mulai membatik, seorang guru batik didatangkan.’ (hal.69). Tidak seperti di kampung nelayannya dulu yang bahkan di usianya yang menginjak 14 tahun, ia sama sekali tidak bisa membaca dan menulis, bahkan hingga ia menjadi wanita utama di pendopo, ia masih belum bisa membaca dan menulis. ‘“Mas Nganten,: katanya perlahan. “Sahaya bisa baca bisa tulis, Mas Nganten bisa?”. Untuk ketiga kali dalam sehari Gadis Pantai terguncang.’ (hal. 125). Serta anak-anak Bendoro yang diwajibkan belajar setiap waktu. ‘ “Apa kerja mereka di sini?”. “Mengabdi, kalau siang belajar.”’ (hal. 55).
v  Nilai Agama              : Dalam roman ini, Bendoro selalu sholat dan mengaji di sebuah ruangan yang bernama ‘khalwat’. Khalwat sendiri dalam Bahasa Arab artinya ‘seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berduaan tanpa ada siapapun sebagai orang ketiga’. ‘Pada tangan kanannya ia membawa tasbih, pada tangan kirinya ia membawa bangku lipat tempat menaruhkan Qur’an. ......,langsung ia menuju ke permadani di depan, meletakkan bangku lipat di samping kiri dan tasbih di samping kanan dan mulai sembahyang.’ (hal.36). bendoro pun juga mengaji setelah melaksanakan sholat. ‘Dan Bendoro telah menyelesaikan “Bismillahirohmanirrohim”,...’ (hal. 37). Anak-anak Bendoro pun diajari mengaji setiap hari. ‘”Ya, di samping kiri kan ada surau. Di sana mereka belajar, juga mengaji.”’ (hal. 55). Lalu, nilai-nilai agama yang diterapkan di pendopo berbeda dengan di kampung. ‘“... sepuluh tahun yang baru lalu aku juga pernah datang ke kampungmu. Kotor, miskin, orangnya tak pernah beribadah. Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh orang yang tahu agama.”. “Kebersihan,Mas Nganten, adalah bagian penting dari iman. Itu namanya kebersihan batin. Ngerti Mas Nganten?”’ (hal. 41)
v  Nilai Budaya              : Dalam roman ini, nilai budaya sangat kental terasa di setiap sudut masalah/konflik yang terdapat dalam cerita. Bagaimana perbedaan budaya dan tradisi antara orang atasan dengan orang bawahan, antara orang kota dan orang kampung. ‘”Di kampung orang tak berhias bunga pada sanggulnya,”. ”Di kota, Mas Nganten, barang siapa sudah bersuami, sanggulnya sebaiknya dihias kembang.”’ (hal. 55). ‘”... Karena dengan emas... karena.. ya, supaya dia tidak kelihatan seorang sahaya, supaya tidak sama dengan orang kebanyakan”’ (hal. 54).  Bahkan, di kampung juga tak mengerti apa itu dan bagaimana minyak wangi itu. ‘”Apa ini?”. “Minyak wangi, Mas Nganten.”’ (hal. 27). Serta perilaku seorang wanita utama yang harus selalu tenang, sopan dan santun. ‘“Antarkan!” Gadis Pantai menumbuk lantai dengan kaki sebelah. “Ceh,ceh,ceh. Itu tidak layak bagi wanita utama, Mas Nganten. Wanita utama cukup menggerakkan jari dan semua akan terjadi....”’ (hal. 28). Lalu, di kampung, orang-orang biasa melayani diri sendiri. Mandi, makan, minum, dsb sendiri, namun di pendopo, sebagai seorang atasan/ningrat, ia didampingi oleh seorang pelayan yang selalu setia mengabdi dan membantu urusannya di dalam pendopo. ‘“mBok, aku tak pernah dilayani sebelum ke mari.”’ (hal. 64). Dan hal yang paling tidak saya mengerti adalah budaya masa lalu yang memperbolehkan saja menikah dengan diwakilkan sebilah keris hanya karena ia seorang Bendoro yang dianggap tak pantas turun ke kampung untuk melaksanakan pernikahan percobaan yang bahkan untuk dirinya sendiri. ‘Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris.’ (hal. 12). Bahkan, wayang juga asing keberadaanya di kampung sedangkan ada di pendopo ‘“Wayangkah itu?”. “Di tempat Mas Nganten tak ada wayang?”. “Kami hanya pernah dengar. Tak ada gambar wayang di rumah-rumah kami di kampung nelayan.”’ (hal. 85) serta perbedaan keyakinan antara orang kota dengan kampung nelayan yang hanya melihat bahwa laut itu berkuasa. ‘”Mereka tidak mengerti, Mas Nganten. Wayang itu nenek moyang kita sendiri.”. “Nenek moyang mBok sudah tidak ada, tapi laut tetap ada.”. “Uh-uh Mas Nganten, kita tidak bakal ada kalau nenek moyang kita tidak ada.”. “Kakek itu pernah bilang mBok, segalanya bersumber di laut. Tak ada yang lebih berkuasa dari laut. Nenek moyang kami juga bakal tidak ada kalau laut tidak ada.”’ (hal.86). Hal ini jelas membuktikan bahwa kampung nelayan hanya menganggap bahwa laut itu berkuasa, berkuasa menelan nelayan yang diburu ombak, atau membiarkan salah satu ikan besarnya melahap nelayan yang tak sengaja menangkapnya, serta memberikan penghidupan pada para nelayan, sedangkan di pendopo, Bendorolah yang berkuasa, semua orang mengabdi kepada Bendoro, semua di tangan Bendoro.

Ø  Kekurangan Dalam Roman      : Menurut pendapat saya, Roman Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer ini memiliki kekurangan pada bahasa yang digunakan kurang komunikatif pada pembaca, sehingga pembaca yang tidak mengerti atau belum mengerti tentang sastra, terkadang tidak menangkap maksud dari hal yang coba dituangkan oleh Pramoedya Ananta Toer, sang penulis dalam karyanya ini. Memang, gaya bahasa yang digunakan oleh beliau merupakan gaya bahasa yang ada pada saat itu, belum tersentuh EYD dan belum mengenal perubahan jaman yang pada saat ini, kita rasakan telah mengubah sebagian besar bahasa yang kita gunakan. Pramoedya hidup pada jaman penjajahan Belanda, dan memang setting dari cerita ini adalah sekitar tahun 1930 atau 1940-an di mana penjajahan Belanda masih atau bahkan sudah hampir berakhir karena pelayan tua pembantu Gadis Pantai, di dalam cerita sering menceritakan mengenai bagaimana ia dan suaminya serta kakeknya berjuang melawan penjajahan Belanda dan berulang kali mencoba untuk kabur dari Kerja Rodi Belanda yang sangat menyiksa rakyat Indonesia pada saat itu.
Saya sendiri juga tidak tahu dimana tepatnya latar waktu dalam roman ini terjadi, karena di sisi satu, pelayan tua Gadis Pantai menceritakan bagaimana pengalamannya dulu menghadapi Belanda, disini bisa saja berarti Penjajahan Belanda sudah berakhir. Tetapi, Bendoro merupakan Bendahara dari Belanda, dan sebagian diceritakan bahwa Bendoro dan beberapa pengawal/keluarga pendopo masih menggunakan Bahasa Belanda, berarti Penjajahan Belanda saat itu masih belum berakhir.
Sehingga, bahasa yang digunakan pun masih bahasa kental pada saat itu dengan sedikit perubahan dari pihak penerbit, saya rasa. Di sisi lain, pada awal cerita, jujur saya merasa bosan membacanya karena sudah tak sesuai lagi dengan perkembangan jaman pada saat ini, walaupun saya juga mengerti bahwa justru novel-novel seperti ini yang banyak dicari dan digemari oleh para sastrawan di Indonesia, lagipula novel ini juga telah diterjemahkan ke 42 bahasa, serta mendapatkan berbagai macam penghargaan dari berbagai pihak baik dari dalam maupun di luar negeri. Tapi, saya akan bahas ini menurut sudut pandang orang-orang biasa seperti saya.
Pada awal cerita, novel ini langsung memasuki puncak konflik yaitu dengan diceritakannya Gadis Pantai yang tahu-tahu sudah dinikahi oleh seorang Bendoro di kota menggunakan (atau mungkin diwakilkan) sebuah keris. Kehidupan yang baru pun mulai dijalaninya, bagaimana ia mulai belajar bersikap, belajar menjahit, dan sebagainya. Dari sini, cerita berjalan dengan datar-datar saja sampai hampir berakhir, dimana Gadis Pantai mendapatkan haid pertamanya, rasa cemburu pada Bendoro yang sering meninggalkannya untuk bekerja, kerinduannya pada Bendoro dan seorang laki-laki tamu Bendoro yang kemudian mulai membuatnya jatuh cinta. Namun, setelah itu laki-laki itu tak pernah diceritakan lagi oleh Pramoedya. Perjalanan cerita dari roman ini memang penuh dengan konflik, baik itu konflik batin maupun konflik keluarga, namun hanya itu yang diceritakan, dan pada akhirnya Pramoedya benar-benar ‘menombakkan’ kritikannya terhadap sistem Feodalisme Jawa yang tak berperikemanusiaan pada saat itu dengan menceritakan bahwa dengan kejinya, Bendoro mengusir Gadis Pantai dari pendopo dan merampas anak Gadis Pantai darinya.
Novel ini tidak membawakan sesuatu yang baru kepada para pembaca, hanya sebuah kekejaman Feodalisme Jawa dan praktiknya di masa lalu dan memang itu tujuan Pramoedya menulis novel ini. Sebagai orang yang tak tahu seluk beluk bagaimana penulisan sastra dan sebagainya, saya memang tidak menangkap makna lainnya selain hanya melihat bahwa praktik Feodalisme memang merupakan praktik yang kejam. Tapi, saya juga tahu, bahwa saat ini, sudah banyak film-film yang juga menceritakan hal serupa walaupun tidak sama persis mengenai perbuatan semacam ini ataupun bahkan lebih kejam dari ini. Namun, mungkin karena waktu itu beliau tinggal di jaman yang berbeda dengan kita, perbuatan semacam ini masih belum terlalu umum ada di Indonesia dan mungkin biasanya hanya terjadi pada kalangan atas dan kalangan bawah dalam sistem Feodalisme Jawa, sedangkan saat ini walaupun kita sudah tidak menyebutnya dengan ‘Sistem Feodalisme Jawa’ lagi, hal-hal seperti ini sudah bukanlah sesuatu yang tabu. Bahkan, telah umum dan banyak kita temui dalam kehidupan masyarakat di sekitar kita seperti memisahkan anak dengan ibunya atau marilah kita tengok kejadian yang belum lama terjadi di Negara Indonesia tercinta ini tepatnya di kota Garut, Jawa barat.
Bupati Garut, baru-baru ini juga menikahi seorang gadis belia dengan iming-iming uang dan kekayaan yang didapatkannya dari jabatannya sebagai Bupati wilayah Garut, Jawa Barat. Namun, 4 hari setelah pernikahan tersebut, Bupati itu menceraikan gadis belia tersebut bahkan tidak secara baik-baik, melainkan melalui sms. Tidakkah itu jauh lebih kejam dari cerita dalam roman Gadis Pantai? Memang, gadis itu juga tak berumur 14 tahun seperti Gadis Pantai, melainkan telah berumur 17 atau 18 tahun, tetapi di jaman sekarang ini, umur segitu masih dianggap ‘kecil’. Gadis belia itu diceraikan bahkan sebelum memiliki anak, dan difitnah pula oleh Bupati itu bahwa gadis itu sudah tidak perawan lagi. Bukankah itu merupakan sebuah bentuk pelecehan terhadap wanita?
Ya, saya juga tahu bahwa jaman dahulu, Gadis Pantai maish sangatlah polos karena berasal dari keluarga miskin di sebuah kampung nelayan. Ia memang memprihatinkan karena ia tak lagi memiliki anak yang telah dilahirkannya, kehilangan kedua orang tua dan suaminya, serta pergi dari kampung yang selama 14 tahun telah melihatnya tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dengan segala kepolosan dan keluguannya. Namun, masih banyak juga di jaman sekarang ini, orang-orang yang bernasib jauh lebih buruk dari Gadis Pantai. Hanya saja, sayangnya di masa itu, hukum dikuasai oleh Belanda, jadi tidak ada hukuman yang menjerat Bendoro yang telah mencampakkan dan membuat hidupnya terasa sangat menderita itu, berbeda dengan sekarang yang telah dibentengi oleh hukum yang melindungi hak-hak kaum perempuan terutama HAM bagi masing-masing warrga negara walaupun hukum di negeri ini juga belum sebaik yang diharapkan. Masih kecolongan disana-sini serta bolongnya keamanan negeri terhadap siapa-siapa yang dilanggar HAMnya, namun tidak mengadukannya pada aparat negara.

Ø  Kelebihan Dalam Roman           : Roman ini berisi tentang kritik pada Feodalisme Jawa yang dirasa tak beradap serta tak berperikemanusiaan, tentu saja saya baru membaca roman dengan cerita seperti ini. Ini merupakan salah satu kelebihan dalam roman ini, yaitu jarang sekali ada orang yang menuangkan cerita sejenis ini pada novel yang digarapnya. Dari segi cerita, memang cerita seperti ini sudah tidak asing lagi dimata kita yang telah banyak melihat, membaca ataupun menonton cerita dengan tema seperti ini. Namun, roman ini dapat membawa saya benar-benar seperti memasuki jaman yang telah diceritakan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam roman Gadis Pantai ini.
Saya seperti ikut terlarut dalam cerita karena penjelasan letak tempat, bentuk serta sikap para tokoh pelaku tergambar jelas di dalam roman ini. Jadi, imajinasi pembaca seakan dapat menyatu dengan imajinasi yang diinginkan oleh penulis agar pembaca mengetahui dengan jelas bagaimana rupa dan bentuk tempat-tempat maupun benda-benda yang ada dalam cerita. Penggambarannya begitu simple, walaupun ada beberapa benda yang hanya disebutkan namanya saja tanpa dirincikan lebih lanjut mengenai rupa dan bentuknya karena mungkin pada masa itu benda tersebut sudah tidak asing lagi ditemui dalam kehidupan sehari-hari, namun mungkin di jaman sekarang ini sudah beralih nama ataupun telah tak dipergunakan lagi karena perbedaan jaman.
Saya mengerti bagaimana penggambaran dan dapat mengimajinasikannya dengan baik selama membaca roman yang menurut saya cukup menyentuh ini. Saya seakan tidak mau berhenti membaca begitu cerita mengalami konflik yang baru setelah di awal cerita, telah langsung dimulai konfliknya. Menurut saya, novel ini tidak membosankan, hanya saja menurut teman sebangku saya, novel ini membeosankan dan saya tahu apa sebabnya. Bagi orang yang tak terlalu menggeluti bidang sastra, novel seperti ini memang bukanlah sebuah novel yang cukup menarik untuk dibaca. Bukan berarti saya menganggap saya cukup mengetahui seluk beluk sastra, sehingga saya tidak bosan membaca roman ini. Bukan. Saya hanya berpendapat bahwa cerita yang diangkat ini unik. Jujur saja, pada awalnya saya sempat kesal karena Pramoedya berusaha menunjukkan kejamnya sistem Feodalisme Jawa yang berlaku pada saat itu. Karena saya juga orang Jawa, saya tidak terima orang Jawa dikatakan tidak beradab dan tak berperikemanusiaan.
Tapi, kemudian saya mencoba untuk memahami apa yang coba disampaikan oleh Pramoedya ini lewat roman Gadis Pantai. Saya mengerti, bahwa Pramoedya sendiri juga sebenarnya orang Jawa, lahir di Jawa dan keturunan Jawa, hanya saja beliau tidak menyukai sistem yang berlaku pada saat itu. Saya juga tidak menyukainya karena memang sistem ini tidak berperikemanusiaan dengan membuang seorang gadis lugu yang berasal dari kampung setelah menjadikannya ‘istri percobaan’ atau dengan alasan lain setelah menjadikannya ‘pelampiasan seks’ seorang atasan/ningrat pada mas itu.
Pramoedya berhasil merubah sudut pandang saya mengenai novel yang dianggap membosankan oleh teman saya ini menjadi roman yang menyentuh. Saya ingin sekali membaca kedua buku lanjutan dari Roman Gadis Pantai ini, tapi sayangnya itu tidak mungkin karena telah dibuang/dibakar/dimusnahkan oleh kekejaman penjajahan pada masa itu. Saya jadi sedikit banyak mengerti bagaimana kekuasaan pada masa itu serta kesenjangan sosial yang sebenarnya telah ada sejak jaman dahulu kala, mengenai orang dari kalangan bawah dengan orang yang berasal dari keluarga ningrat.
Alurnya cukup pelan, namun pasti. Pelan-pelan merambat ke duduk permasalahan dalam roman hingga akhir dari cerita yang membuat saya penasaran bagaiamana lanjutan dari roman yang membuat hati saya seakan tak ingin berhenti membaca cerita ini. Saya tidak puas kalau hanya membaca sampai disini saja, tapi apa daya memang hanya sampai sini saya harus berhenti membacanya. Saya kira, memang pantas kiranya roman ini diganjar dengan berbagai penghargaan dan diterjemahkan ke dalam 42 bahasa, karena roman ini memang berbeda dari yang lain. Seakan mampu menguliti ‘neraka tanpa perasaan’ yang disebutkan Pramoedya dalam roman ini, mengajari kita bagaimana dahulu kala orang rendahan diperlakukan dan disuruh mengabdi kepada atasan.
‘”Ya, orang kebanyakan seperti sahaya inilah, bekerja berat tapi makan pun hampir tidak.”’ (hal. 54). Atau ‘“Tambah mulia seseorang, Mas Nganten, tambah tak perlu ia kerja. Hanya orang kebanyakan yang kerja.”’ (hal. 68) ‘”Sahaya sering berpikitr, Mas Nganten... betapa adilnya kalau setiap orang punya rumah sebesar ini.”’ (hal. 80) ‘”Mas Nganten adalah wanita utama, segala apa terbawa karena Bendoro. Begitulah Mas Nganten, jalan kepada kemuliaan dan kebangsawanan tak dapat ditempuh oleh semua orang.”’ (hal. 83). ‘“Sahaya adalah sahaya. Dosa pada Bendoro, pada Allah seperti sahaya begini menempatkan diri lebih tinggi dari lutut Bendoronya.”’ (hal. 64).
Dari cuplikan beberapa dialog di atas, tahulah kita bagaimana Sistem Feodalisme Jawa dipraktikkan di masa lalu, Pramoedya berhasil menggambarkannya pada hampir setiap dialog yang ada pada roman ini. Membawa, para pembaca pada jaman yang berbeda dengan beliau, memahami bagaimana Feodalisme Jawa itu membatasi manusia dan membaginya berdasarkan derajatnya atau keturunannya serta dari mana dia berasal. Tidak hanya itu sebenarnya yang ditusuk oleh Pramoedya dalam Roman Gadis Pantai ini. Disini, ia juga menceritakan bagaimana Bendoro itu sholat, mengaji, dan membiayai segala apa yang dibutuhkan Gadis Pantai dikampungnya mengenai didirikannya sebuah surau ataupun didatangkannya seorang guru mengaji. Namun, terlepas dari semua itu, ia menjadikan beberapa orang gadis cantik dari kampung sebagai ‘istri percobaannya’ termasuk Gadis Pantai sendiri.
Ini jelas sudah bertentangan dengan ajaran agama Islam sesungguhnya. Ia mengaji, ia sholat tapi apa yang dilakukannya tak ubahnya seorang binatang. Saya jadi sedikit merasa bahwa tak hanya Feodalisme yang disinggung oleh Pramoedya, melainkan Agama Islam pula. Agama Islam jelas tak mengajarkan kepada pemeluknya untuk melakukan apa yang telah dilakukan oleh tokoh Bendoro dalam roman tersebut, sungguh tidak pantas dan sama sekali bertentangan apabila ia sholat, ia mengaji tetapi apa yang diamalkannya di kehidupan sehari-hari berbeda dengan apa yang dipelajari dari sholat dan mengajinya. Saya jadi menyimpulkan, bahwa Pramoedya berusaha untuk memberitahu kita bahwa Sistem Feodalisme Jawa bahkan lebih kuat pengaruhnya dibandingkan ajaran Agama Islam yang selama ini ditekuri tokoh Bendoro. Segala apa yang dilakukakannya bernafaskan Islam, namun itu tak menghalanginya untuk tidak mencampakkan seorang gadis di bawah umur yang telah dinikahinya serta merampas anak darinya. Berarti, Sistem Feodalisme Jawa sudah tak dapat lagi diganggu gugat pada masa itu.
Perbedaan kasta sangat kental terlihat dan terasa antara orang kampung dengan orang kota, orang rendahan dengan orang atasan. Pramoedya benar-benar menceritakan secara gamblang bagaimana Feodalisme yang dibencinya itu merangkak jauh dari rasa kemanusiaan yang seharusnya ada dalam diri setiap manusia. Karena sebab itulah seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa roman ini memang mampu menjelaskan segala titik permasalahan Sistem Feodalisme Jawa yang berkembang pada masa itu dengan lugas, pelan namun pasti, menusuk dengan perlahan dan menunjukkan setiap lekuk tak berperikemanusiaannya sistem itu berjalan.
Menurut saya, gaya bahasa yang digunakan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam roman Gadis Pantai ini sangat menarik karena merupakan campuran dari Bahasa Indonesia dengan beberapa Bahasa Jawa dalam beberapa kata. Ini menjadikannya seakan ‘utuh’ dengan nuansa Jawa di dalamnya dan semakin menekankan bahwa yang beliau bahas dalam roman ini adalah tentang masyarakat Jawa beserta sistemnya pada masa itu. Dialognya seakan murni berada di depan kita, seakan kita mendengarkannya tepat di depan tokoh-tokoh yang berbicara lengkap dengan tempat yang menaungi tiap kejadian. Tidak banyak ulasan mengenai gerakan tokoh selama tokoh tetap diam selama pembicaraan, berbeda dengan novel jama sekarang yang saban percakapan disertai gerakan tokoh ataupun kata ‘katanya’/’ujarnya’/’ucapnya.
Dialognya benar-benar sederhana, namun mudah dipahami, walaupun saya sempat bingung pada beberapa dialog, siapakah yang sedang bicara ini karena tidak ada keterangan setelah dialog tentang siapa yang sedang bicara, baru diakhir dialog saya paham sesiapa yang sedang berdialog tersebut. Tidak terlalu menekan, apa adanya dan terkesan memang inilah sastra lama. Bahasanya khas, enak dibaca dan tidak terlalu banyak kata-kata yang tidak dimengerti oleh pembaca. Dari sudut cover saja, roman ini telah menggambatrkan masa lalu yang kental dengan pakaian serta raut muka orang-orang pada jaman dahulu, sehingga begitu melihat covernya, pembaca akan langsung mengerti latar waktu kapankah cerita dalam roman ini berlangsung.
Sampai sekarang, saya sendiri masih terngiang-ngiang dengan kata-kata pada dialog  dalam roman Gadis Pantai ini, karena dialognya yang sederhana serta menyentuh perasaan mengenai praktik Sistem Feodalisme Jawa. Roman yang luar biasa.
What do you think? :

1 comment:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com