Tuesday, October 29, 2013

Cerpen - Tertatih Memapah Adat

Tertatih Memapah Adat
“Bangun, jang.. bangun udah pagi!” suara seseorang membangunkanku, menggoyang-goyangkan tubuhku yang masih kaku. Aku menggeliat, mengucek mata yang terasa ingin menutup lagi. Aku melirik langit yang masih belum mengijinkan mentari menganggu kekuasaannya dari jendela sederhana tanpa palang rumahku. Gelap. Aku mengerjapkan mata dan segera duduk bersila. Teteh yang tadi membangunkanku meneruskan kesibukannya menganyam tas koja. Tas koja buatan si Teteh selalu rapi dan kelihatan bagus, kulit kayu yang kemarin kupotong dari hutan lumayan halus.
Tah maneh .. cepat mandi ges eta bantuan si bapa ka ladang!” Ema yang juga sedang menganyam tas koja menatapku yang masih setengah linglung.
Nuhun..” aku berdiri dan berjalan keluar rumah panggung kayuku. Rumah ini berpondasi dari batu dengan tiang utama dari kayu, batu yang jadi pondasi itu hanya diletakkan begitu saja di atas tanah yang miring.
Sudah adat di sini, kami tak boleh merubah apapun dari alam ini untuk menjaga keseimbangannya. Sebisa mungkin, kami melestarikan semua yang ada di sekeliling kami sebagai bagian dari adat istiadat kami. Dinding rumah panggung ini saja terbuat dari bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa. Semua kami ambil dari alam, jadi kenapa kami harus merusak alam yang telah memberi kita semua yang kita butuhkan? Seperti orang-orang asing yang sering datang berkunjung kemari. Mereka merusak alam.
“Aris!” aku memperbaiki posisi ikat kepala putihku saat Izal berlari ke arahku. Aku menoleh ketika ia menepuk pundakku. “Hayu, mandi bareng ka sungai!” Izal berjalan menyejajariku. Aku hanya mengangguk.
“Ada orang asing lagi mau kamari .. mereka teh pada kenapa, ya suka banget kamari?” Izal membenarkan baju adat putihnya. Ia menatapku.
“Tentu karena arurang dieu mah menutup diri dari maraneh teh, maraneh jadi ingin tahu tentang arurang, merasakan kehidupan yang arurang jalani..” Izal berlagak sok berpengetahuan dengan memegang dagunya sambil manggut-manggut.
Maraneh selalu menggunakan barang-barang yang bakal merusak alam, kenapa maraneh tak sadar bahwa alam selalu memberi maraneh kehidupan, tapi maraneh malah yang menghancurkan pemberi kehidupan!” aku beragumen dengan kesal. Kami berjalan menyusuri jalan setapak di hutan, di sekeliling kami tumbuh pohon-pohon aren dan pohon albasiah yang berdiri mematung seakan memayungi kami dari dunia luar. Sungai tempat kami akan mandi mulai nampak dari jarak beberapa langkah.
“Aku juga bingung dengan itu, arurang teh menutup diri dari maraneh tapi justru maraneh yang mencari arurang.. maraneh teh selalu ingin tahu.. sayangnya peraturan adat tak sebebas itu membiarkan maraneh tahu..” Izal mengisyaratkan menutup pembicaraan dengan mendahului menuju sungai yang sudah ada di depan mata. Sungai jernih yang selalu kami pakai untuk kebutuhan sehari-hari kami, bagian dari alam yang kami jaga ini.
Nyarios naon ai anjeun? Ngomong apa gitu kamu mah? ” Izal akhirnya bertanya pada orang-orang asing baru yang datang ke desa kami itu. Mereka dari tadi bicara dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Yang kutahu, mereka berbicara dengan bahasa daerah lain, mungkin bahasa Jawa.
“Eh, maaf.. kami ngomong bahasa Jawa..” mereka berbicara sambil memakai pakaian adat putih kami, lengkap dengan ikat kepala putih yang menjadi simbol pakaian adat kami. “Nama kalian siapa?” salah satu di antara mereka mengulurkan tangan padaku. “Saya Ramdhan dari Malang.. tau kota Malang, kan?” aku menjabat uluran tangan laki-laki sebayaku yang bernama Ramdhan ini.
“Saya teh Aris .. Malang teh palih mana kitu? Dimana?” aku melepaskan uluran tangan Ramdhan dan ganti menjabat tangan laki-laki yang juga sebaya dengan kami, teman Ramdhan.
“Eka ..” orang bernama Eka itu tersenyum bergantian sambil menjabat tanganku dan Izal. Kami ditugaskan utnuk menjadi pemandu orang-orang asing yang datang kali ini. Ramdhan menatapku tak percaya.
“Malang itu di Jawa Timur.. itu yang ibu kotanya namanya Surabaya!” Ramdhan menjeaskan dengan sikap yang tenang. Aku menangkap nama yang ia sebutkan barusan. Aku tau Surabaya, tentu saja. Tapi, hanya sebatas Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum malu pada Eka dan Ramdhan yang langsung tertawa melihatku malu-malu. “Jadi kalian teh kesini karena mau tahu bagaimana arurang hidup?” tanyaku basa basi sembari berjalan mengantar mereka dari gerbang depan desa Baduy Dalam yang menjadi batas antara Baduy dalam dengan Baduy Luar, orang-orang asing, biasa menyebut kami Kanekes Dalam dan Kanekes Luar.
“Iya, kami ngambil jurusan Antropologi di perkuliahan jadi, kami ingin tahu lebih dalam dengan budaya kalian.. kenapa tadi kami dilarang membawa kamera?” Eka menyahut dari belakang. Ia berjalan bersama Izal.
Arurang ini teh buyut difoto mah.. pikukuh palih dieu teh ketat kitu.. Pu’un tidak memperbolehkan orang asing bawa kamera! Buyut teh tabu kitu, pikukuh teh peraturan dalam bahasa Sunda mah..” Aku menjelaskan dengan sesekali melihat ke arah Eka dan Ramdhan bergantian. Eka dan Ramdhan hanya menggut-manggut serentak.
“Pu’un teh naon kitu?” Ramdhan menjulurkan lidah malu saat mencoba menggunakan bahasa Sunda. Aku tersenyum geli mendengar logat Ramdhan.
“Pu’un teh kepala adat urang Kanekes Dalam.. cara pengangkatan Pu’un teh memakai sistem keturunan, tapi tak ada batasan siapa yang akan jadi Pu’un.. asal dia masih mampu jadi Pu’un, dia akan terus jadi Pu’un.. kalau tidak mampu, ya diganti..” Izal menjelaskan dengan logat sunda yang kental. Goloknya yang terlentak di pinggang sebelah kiri bergoyang-goyang ketika ia menjelaskan dengan beberapa gerakan. Kami cukup senang menjelaskan budaya-budaya kami yang tidak dimiliki oleh orang-orang asing ini. Kami sudah selesai membantu bapa di ladang, karena itu kami disuruh menjadi pemandu kali ini.
“Kenapa kami tak boleh pakai baju kami? Sabun? Kenapa kami tak boleh bawa?” Ramdhan mulai antusias dengan penjelasan kami.
“Baju maraneh teh terbuat dari bahan yang tidak baik untuk alam, jadi maraneh teh musti pakai pakaian adat arurang, kitu pikukuh yang ditetapkan oleh Pu’un mah, teu kenging ngalawan adat.. sabun juga sama, mereka merusak alam, sedangkan arurang hidup berdampingan dengan alam, tak boleh arurang rusak alam yang telah memberi arurang kehidupan.. ngarti?” aku berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kekesalanku ketika berbicara mengenai alam yang saat ini telah mengalami kerusakan di sana-sini.
“Aku ngerti.. tapi, kami juga tak berniat merusak alam.. hanya saja sebagian dari kami ada yang tak paham dengan itu dan mengeksploitasi alam sembarangan hingga bencana terjadi dimana-mana karena ulah mereka.. illegal loging juga tak dapat diberantas karena aparat di luar sana banyak yang menyeleweng dari tugas, asalkan ada ini..” Eka menempelkan ujung ibu jari dengan ujung jari telunjuk dan ujung jari tengahnya lalu menggerakkanya seakan mengusap sesuatu di sana,”..uang..”
“Kami juga marah pada mereka yang seenaknya mengeksploitasi alam tanpa melakukan reboisasi pada alam, kadang membakar hutan untuk pemukiman dan ladang pertanian, sepertinya tak akan cukup seluruh yang ada di bumi ini untuk mereka..” Ramdhan meneruskan penjelasan Eka padaku dan Izal. Aku terdiam memikirkan ucapan Eka dan Ramdhan, aku tak tau beberapa kata yang tadi mereka sebutkan, aku tidak mengenal kata-kata itu, tapi aku tak berani bertanya pada mereka. Apa dunia di luar seluas itu? Pertanyaan ini berkelut di otakku.
“Kuncinya hanya satu!” Izal yang sejak tadi menyimak arah pembicaraan kami mulai angkat bicara.”Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.. Panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung.. Dieu teh aturan alam yang menjadi adat arurang secara turun temurun..” Ramdhan dan Eka nampak mengerti dengan apa yang dikatakan Izal pada mereka, seakan mereka menemukan hal baru yang belum pernah mereka jamah dari dunia luar yang seluas ‘itu’.
“Di sini orang Kanekes Dalam tak bisa baca tulis?” Ramdhan bertanya padaku setelah kami selesai mandi di sungai. Dia berbicara sambil meraba dinding bilik bambu rumahku.
Arurang tak diajarkan pendidikan formal semacam sekolah..arurang bisa berbicara dan berbahasa dengan baik, kitu teh sudah cukup.. arurang dapat berladang dan menghasilkan kerajinan tangan dari kulit kayu dan menghasilkan tas koja, memanfaatkan alam tanpa merusaknya, tinggal berdampingan dengan alam, itulah kehidupan arurang..” aku menunjuk dinding rumah panggung kecil kami. “Palih ditu dari bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa, tanpa kamar mandi dan pondasi batu, kitu teh teu ngalawan alam..” Ramdhan menatapku sambil mengerutkan keningnya.
“Kenapa tak ada sekolah? Kenapa tak belajar biar bisa baca, tulis, berhitung?” Ramdhan menatapku dengan mata yang biasa aku punya ketika aku tertarik pada sesuatu, melebihi apapun. Aku menghembuskan nafas, hal ini sering ditanyakan orang-orang asing yang datang kemari. Kenapa tidak sekolah? Bisa baca tulis? Apa mereka tak punya pertanyaan lain?
“Sekolah kitu teh tabu palih dieu, lagipula itu ngalawan adat.. Pu’un teh nyarios kalau sekolah mah hanya menghabiskan waktu arurang, sedangkan arurang teh sibuk berladang dan mencari madu serta pohon aren untuk membuat gula aren.. lagipula, nanti teh pasti akan terjadi persaingan hidup, sedangkan pengetahuan dan kemajuan pasti tidak terbatas, lalu lupa wiwitan/tujuan hidup..”
“Apa peraturan itu tak bisa dirubah? Apa yang terjadi jika kalian merubah itu semua?” Ramdhan semakin bersikukuh menanyakan hal-hal yang sebenarnya membuatku tidak nyaman dengan percakapan ini.
“Gunung tak diperkenankan dilebur, lembah tak diperkenankan dirusak, larangan tak boleh dirubah.. teu kenging teh tetep teu kenging..” pembicaraan kami terhenti ketika Eka masuk ke rumah panggungku dengan Izal mengekor di belakangnya. Mereka baru saja berkeliling dari hutan dan ini sedikit membuatku lega, karena dengan begitu kami tak perlu meneruskan pembicaraan tadi.
“Besok ‘kan para tetua arangkat ka Arca Domas, arurang sekarang baiknya tidur dulu untuk persiapan besok..” Izal langsung angkat bicara begitu ia duduk bersila di sampingku. Ia membenarkan letak goloknya.
“Arca Domas?” Eka yang tak tahu menahu mengenai apa yang dibicarakan oleh Izal, membeo.
“Besok kau akan tahu..” Izal memutuskan untuk tidur karena terlalu lelah dengan 2 orang yang banyak ingin tahu ini. Ia berbaring di atas tikar anyaman bambu yang telah dibeber sejak aku dan Ramdhan selesai mandi. Aku pun ikut berbaring di samping Izal, sedangkan bapa, ema dan teteh entah kemana sejak 2 orang asing ini datang kemari. Ramdhan dan Izal mengikuti kami, tidur berbaring di tas tikar anyaman tanpa alas kepala. Mereka mungkin agak kesulitan karena belum terbiasa karena beberapa kali aku merasakan mereka menggesr badan bolak balik badan ke kiri dan ke kanan untuk mencari posisi tidur yang pas untuk tidur mereka malam ini. Ramdhan tidur di sebelahku dan di sebelahnya lagi, Eka.  Aku mencoba untuk segera tidur namun pertanyaan-pertanyaan aneh mengganjal tidurku. Aku tak mampu mengenyahkannya dari pikiranku.
“Kau tidak akan tau dunia seluas apa yang selama ini coba kau tinggalkan jika kau tak berusaha untuk keluar dari kekangan adatmu.. baca, tulis, dan berhitung itu pengetahuan penting dalam hidup..” Ramdhan berbisik pelan ketika kudengar Izal dan Eka telah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing. Eka terlalu lelah hingga ia tak mampu lagi mengingat bagaimana keadaanya saat tidur. Tidak seperti biasa. Tapi, kata-kata Ramdhan barusan berhasil membuat tubuhku menegang, mungkin dia tau apa yang kupikirkan. Aku mencoba tak acuh dengan apa yang dikatakannya dan lebih memilih pura-pura sudah terlelap dalam tidurku. Hingga akhirnya, aku benar-benar lelap. Lelap dalam rengkuhan sejuta tanya dalam benakku.
Hari ini, para tetua tinggi dan beberapa orang kelompoknya dengan kedudukan yang tinggi pula pergi ke Arca Domas. Arca Domas adalah tempat keramat yang terletak di dekat air sungai ciujung dan sungai cisemer. Para tetua adat pergi ke sana di bulan kelima setahun sekali, itu adalah tempat bersemayamnya Bathara Tunggal, roh halus yang kami percayai. Hanya tetua tinggi dan kelompoknya yang boleh datang ke tempat keramat itu, sampai sekarang orang luar sama sekali dilarang menginjak tempat itu. Di dalam arca domas ada sebuah batu lembing yang jika air hujan yang menggenanginya itu bening, maka itu pertanda panen kami takkan ada masalah. Sebaliknya, jika batu lembing itu keruh dan sedikit airnya, hal itu merupakan pertanda bahwa panen berikutnya tak akan berhasil atau gagal.
“Rupanya kepercayaan di sini masih sangat kental.. “ Ramdhan berkata sambil bersiap-siap pergi dari daerah kami. Orang asing hanya diperbolehkan menginap selama sehari saja di sini. Tidak boleh lebih dari sehari karena pasti akan menyebabkan banyak masalah. Aku menoleh ke arah Ramdhan yang masih mengenakan pakaian adat putih-putih kami.
Nuhun..” aku hanya menjawab ala kadarnya saja. Jujur saja, pikiran mengenai pendidikan dan baca tulis masih menggenangi benakku dan aku masih merasa asing dengan itu. Aku teguh memegang adatku, tapi disisi lain orang ini telah berhasil mempengaruhiku. Bagaimana rasanya orang yang mengenyam pendidikan? Bagaimana dunia luar yang penuh persaingan hidup yang ketat dengan saling menumbangkan satu sama lain? Aku bergidik membayangkannya.
“Aku akan segera kembali ke Malang. Terimakasih selama ini telah mengajariku banyak hal mengenai kehidupan urang Kanekes Dalam.. kapan-kapan datanglah ke Malang jika sempat..” Ramdhan menyerahkan secarik kertas putih yang di atasnya ada tulisan berwarna hitam,”Ini alamatku..” katanya sambil menyerahkannya kepadaku. Aku mengerutkan kening menerima secarik kertas kecil itu.
“Aku tak bisa baca..” kataku agak tersinggung pada Ramdhan. Ramdhan menepuk dahinya spontan.
“Yaampun! Aku lupa, maaf! Aku benar-benar minta maaf! Simpanlah saja, barangkali suatu saat kau akan membutuhkannya..” Ramdhan tersenyum aneh penuh arti. Aku tak dapat menangkap makna dari senyumannya itu. Aku dan Izal mengantar Ramdhan dan Eka sampai ke gerbang masuk Baduy Dalam, kami melewati lagi jembatan sederhana dari bambu yang diikat dengan ijuk dan ditopang oleh 2 pohon besar di sekitar sana, sebagai jembatan di atas sungai kami.
Sebelum pergi, Ramdhan mengatakan hal yang kembali membuatku resah,”Dunia luar itu tak seburuk yang kau kira, mungkin memang tak selaras dengan alam.. tapi, kami juga berusaha mengikuti perkembangan jaman sembari menjaga alam..” kemudian, dia pergi. Aku hanya melihat punggungnya yang terlihat semakin menjauh dengan kening berkerut.
Nanaonan maneh saleresna? Teu kenging ngalawan adat atuh, Ris!” Izal menghadangku yang ingin pergi ke kediaman Pu’un yang sangat kami hormati dan segani. Aku sudah memikirkannya masak-masak, terlampau sudah 3 bulan setelah Ramdhan dan Eka meninggalkan kami. Tekadku bulat, pendidikan itu perlu bagi warga Urang Kanekes Dalam. Aku tak tau apa yang telah merasukiku hingga aku berani berbuat sebegini nekat.
“Aku hayang bertemu Pu’un, Izal.. “ aku berusaha berjalan melewati Izal tapi tak berhasil. Izal dengan tegas menghentakkan tubuhku ke belakang.
Teu kenging buat bodoh atuh, Ris! Kitu teh ngalawan adat! Pantang arurang teh ngalawan pikukuh adat urang kajeroan!” Izal dengan seluruh ketegasannya yang selama ini tak pernah kutahu, kini berhasil mengekangku. Aku tak tau kharismanya sebegini kuat ketika ia mencoba untuk melindungi adatnya.
“Aku teh teu ngalawan adat.. aku cuma mau menyampaikan pada Pu’un bahwa sekolah kitu penting pula artinya bagi kehidupan urang kajeroan!”
Kitu teh sama saja ngalawan adat! Kamu mau merubah adat! Sekolah teh buyut, inget, Ris! Pikukuh! Sudah hilangkah keteguhan maneh selama ini memegang adat maneh sendiri? Adat ema bapamu, adat arurang semua.. udah lupa maneh, Ris?” aku tertegun mendengar ucapan Izal yang cukup menohok tepat di ulu hatiku. Kemana adat yang selama ini selalu kupegang dengan teguh?  Aku menunduk sejenak. Tapi, jika terus dibiarkan begini kami urang kanekes tak akan pernah bisa baca tulis. Semua diingat dan disampaikan secara lisan terus-menerus.
Punten, kamu ngahalangan aku..” aku sekali lagi, berusaha menerobos Izal yang sudah bersiap menghadangku lagi, ketika tiba-tiba semak-semak di sekita kami bergoyang. Aku dan Izal sama-sama tertegun melihat Jaro Tangtu sudah muncul dari balik semak. Jaro Tangtu adalah sejenis ‘aparat’ desa kami yang bertugas menghukum orang-orang Kanekes Dalam yang melanggar adat dan pikukuh urang Kanekes Dalam.
Maraneh teh nanaonan cekcok di dieu? Kitu teh ngalawan adat! Hayu, urang angkat ka rumah Pu’un sekarang!” Jaro Tangtu yang berjumlah sekitar 5 orang langsung meringkus aku dan Izal. Kami tak berdaya dibawa para Jaro Tangtu ke rumah Pu’un. Jujur, aku ingin datang kemari secara baik-baik, bukan malah diseret begini karena melanggar adat yaitu cekcok dengan sesama urang Kanekes Dalam.
Kami bersila di atas tikar anyaman bambu milih Pu’un., duduk di depan Pu’un dengan penuh rasa hormat dan malu karena ini adalah pertama kalinya aku melanggar adat dan dibawa ke hadapan Pu’un. Kelima Jaro Tangtu yang tadi meringkus kami, ikut duduk bersila mengelilingi kami yang duduk dengan kikuk dengan kepala tertunduk.
Aya naon kituKu naon maraneh teh cekcok sesama urang Kanekes Dalam? Maraneh teh tahu  kitu teh ngalawan adat!” Pu’un berbicara dengan nada yang tenang dan halus. Membuatku semakin segan untuk menutarakan maksudku, bahkan hanya mengakui kesalahanku saja lidahku seakan kelu. Kharisma yang dimiliki oleh Pu’un memang luar biasa, tidak ada yang boleh melanggar pikukuh di bawah kepemimpinan Pu’un yang sangat teguh. Aku dan Izal saling lirik sembunyi-sembunyi, menyuruh satu sama lain untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Tapi, kami sama-sama segan untuk memulai dan terlalu kikuk untuk sekedar mengeluarkan suara kami.
Hayu, nyarios atuh, Jang!” Pu’un memandang kami bergantian. Meminta kami untuk segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kami hingga kami beradu mulut sesama urang Kanekes Dalam. Setelah meneguhkan pendirian dan mencoba merangkai kata-kata yang tepat dalam bayangku, aku menghembusan nafas pelan untuk mulai angkat bicara. Keringat dingin menetes pelan lewat dari ikat kepala putih pakaian adat dan langsung turun ke pelipisku.
Jadi kieu, Pu’un! Saya teh mau ke rumah Pu’un, tapi Izal teh ngehalangi saya kamari.. jadilah arurang cekcok berdua tadi mah..” aku melirik Izal yang mengerutkan keningnya padaku. Pertanda bahwa ia tidak suka aku berbicara begitu, mungkin karena pasti nanti Pu’un akan bertanya alasan aku kemari dan tentunya justru akan ada adu argumen antara aku dan Pu’un yang akan memperkeruh suasana.
Tapi, tekadku sudah kubulatkan selama 3 bulan ini. Pu’un harus tau apa yang ingin aku lakukan untuk urang Kanekes Dalam agar bisa membaca dan menulis sekalipun itu menentang adat. Hal ini mungkin akan membahayakanku, tapi aku tak mau menundanya lagi dan malah akan membuatku terus terbayang akan hal yang selama ini berkerubung di dalam otakku. Aku tidak mau.
Teu kenging..” Izal berbisik pelan padaku. Mencoba memperingatkan bahaya yang di hadapanku jika aku bersikukuh ingin mengutarakan pendapatku mengenai sekolah bagi urang Kanekes Dalam. Terlibat cekcok dengan Izal tadi saja sudah akan mendapatkan hukuman apalagi jika aku mengutarakan ini dan menentang adat, hukumannya keras dan bisa saja aku dikeluarkan dari urang Kanekes Dalam lalu menjadi urang Kanekes Luar yang notabenenya adalah orang-orang yang melanggar adat.
“Kamu teh hayang kamari mau apa?” Pu’un mengalihkan pandangannya dari Izal padaku. Izal sudah terlihat sangat cemas. Aku kembali mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang mungkin terjadi kepadaku.
Abdi teh kamari hayang nyarios ka Pu’un.. masalah sekolah..” aku meneguk ludah, mencoba membasahi kerongkonganku yang terasa kering. Pu’un dan para Jaro Tangtu hanya diam memandangku menyelidik.”Sekolah teh perlu kitu bagi urang Kanekes Dalam mah, terutama anak-anak kecil.. harusnya anak-anak seumuran mereka teh bisa baca tulis, tapi disini teu kenging sekolah, kitu tolong diubah, Pu’un,..” aku termenung menunggu jawaban dari Pu’un yang masih terdiam tak menanggapi permintaanku.
“Kamu tau kitu ngalawan adat, Jang! Kamu tau teu kenging kitu diubah.. Gunung teu meunang dilebur, Lebak teu meunang diruksak.. gunung tidak boleh dilebur, Lembah tak boleh dirusak.. itu pepatah adat arurangkan, Jang!”
“Saya tau, Pu’un.. tapi, ini ‘kan demi masa depan anak-anak urang Kanekes Dalam pisan..”
“Sekolah teh hanya menghabiskan waktu, Jang.. arurang ini sibuk berladang, berkebun dan bertani.. Lagipula, pasti nanti akan terjadi persaingan hidup sedangkan pengetahuan dan kemajuan pasti tidak akan ada batasnya, lalu lupa wiwitan/tujuan hidup.. kamu udah ngarti kitu kan, Jang?”
Aku mulai gelisah menanggapi reaksi Pu’un. Aku benar-benar merasa bersalah menentang pikukuh dan beragumen dengan Pu’un. Aku menggenggam kertas yang pernah diberikan oleh Ramdhan dan meremasnya untuk menahan gejolak dalam hatiku. Aku masih belum bisa membaca apa yang tertulis di kertas ini. Setiap malam, aku terus menatapnya tanpa tau apa isinya dan inilah yang membuatku kesal. Aku tak bisa membacanya! Menulis pun aku tak bisa, kalaupun bisa aku harus menulis dengan apa dan bagaimana?
Adat telah dengan tegas menggaris dan menganak daging dalam tubuhku, tapi kenapa kali ini aku tak mampu? Beragumen dengan Pu’un saja tak pernah kubayangkan akan terjadi selama ini. Pu’un orang yang sangat kami segani, pemimpin kami, orang yang paling kami hormati di desa ini, ketua adat suku ini, bagaimana aku hendak menentangnya? Kharismanya saja telah mampu membuatku mati kelu dalam kegalauanku sendiri, kegelisahanku sendiri.
Aku teringat Ramdhan seketika.
Kumaha, Jang?” Pu’un mencoba menarikku dari dalam pikiranku sendiri.
Upami urang Kanekes Dalam ditakdirkan hirup tanpa keganasan keilmuan, lalu pemuda mengasingkan diri dari lingkungan sareng perbendaharaan kehidupan, abdi merasa miskin, Pu’un..” aku menatap Pu’un yang menatapku dengan kening berkerut. 5 Jaro Tangtu yang mengelilingi kami, menggeser duduknya dari semula dan mulai bersiap menunggu perintah dari Pu’un.
Ujang kasep.. “ Pu,un menghembuskan nafasnya tertahan,”Kamu teh anak baik, pemuda yang dulu selalu menaati pikukuh adat arurang.. jika itu maumu, aku tetap teu kenging merubah adat, Jang.. buyut tetaplah buyut.. teu kenging dilanggar atau keseimbangan alam akan goyah.. Arurang sejak dulu telah terpatri mengasing dari kehidupan luar, sejak jaman Soeharto bahkan sebelum kitu.. arurang berbeda, arurang teu kenging ngalawan pikukuh, sampai ayeuna pun masih tetap sama, Jang.. teu kenging..” Pu’un menegaskan sekali lagi pikukuh yang baru kali ini kutentang dengan sangat halus. Jaro Tangtu kembali duduk seperti semula melihat reaksi dari Pu’un yang memang terkenal sangat bijak.
Upami kamu teh bilang kamu merasa miskin tanpa mengenal kehidupan luar,” Pu’un meneruskan kata-katanya,”..kamu salah.. Bhatara Tunggal yang telah melindungi arurang selama ini sudah cukup membuat arurang kaya..”
“Tapi, Pu’un ..”
“Sudah, Jang.. kamu masuk ke penjara desa sareng renungi kesalahanmu di ditu selama 40 hari karena telah ngalawan adat.. jika kamu hanya cekcok dengan Izal, aku hanya akan memberi peringatan padamu.. tapi teu kenging ngalawan adat, ges eta teh kamu boleh pilih, masih hayang tetap menjadi urang Kanekes Dalam, atau memilih menjadi urang Kanekes Luar..”
Belum sempat aku menjawab perkataan Pu’un, Pu’un telah memberi tanda pada kelima Jaro Tangtu, mereka bergegas membawaku ke dalam tahanan desa. Aku menoleh pada Izal yang menatapku sarat kekhawatiran. Di matanya tergambar jelas jika ia ingin sekali menolongku dari para Jaro Tangtu, tapi ia tahu ia takkan mampu. Maaf, Izal.. kali ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir arurang.. aku tetap hayang bersikukuh dengan pendapatku, dan hal itu semakin menguat tiap kali aku terbayang Ramdhan. Aku mungkin melanggar adat, tapi aku tidak merusak adat.
Setelah keluar dari ini aku ingin pergi dari sini.
Kelima Jaro Tangtu memasukkanku ke dalam tahanan desa yang tak seberapa luas dengan sebuah jendela berpalang bambu. Mereka menutup pintu kembali setelah aku terduduk di pojok ruang tahanan panggung itu dan mengikatnya dengan ijuk. Aku menatap langit-langit rumah tahanan panggung yang tertutup daun pohon kelapa.
Sudah berapa tahun aku tinggal di suku ini? 16 tahun? 17 tahun? Entahlah. Aku mendadak rindu ema, bapak dan teteh. Jika aku keluar, aku akan kemana? Hidup jauh dari adat yang selama ini menaungiku karena seorang luar yang tinggal di sebuah kota bernama Malang? Aku tak bisa menikah dengan gadis di desa ini, menyerahkan mas kawin berupa peralatan masak dan membina rumah tangga, tak bisa bermain lagi bersama Izal dan membantu bapak di ladang. Aku takkan bisa.
Tanpa terasa, air mataku menetes perlahan. Aku membuka kembali secarik kertas dari Ramdhan dan mengusap air mata hingga ke sudut mataku. Ini berat. Aku tak mampu melawan adat, tapi aku juga tak mampu membiarkan diriku sendiri terkurung kebodohan.. diriku sendiri atau urang Kanekes Dalam? Apa aku mampu, pergi tanpa tujuan pasti sedangkan aku tak pernah pergi ke luar desa sama sekali? Apa yang akan aku temui setelah 40 hari dan aku harus mengambil keputusan untuk pergi?
Ema, bapa, teteh.. hapunteun ujang.. Izal, Pu’un.. hapunteun abdi..
“Janten kumaha, Jang ?”
Aku mengerjapkan mata ketika Pu’un berdiri di pintu tahanan desa dengan disinari cahaya matahari yang menorobos masuk dari balik bayang-bayang tubuhnya. Sudah genap 40 hari aku di sini dan sudah kuputuskan sejak awal apa yang akan kulakukan selanjutnya. Pu’un dengan didampingi para Jaro Tangtu menatapku dengan tegas, tampak dari guratan di wajah mereka bahwa mereka sangat mengharapkanku kembali menjadi bagian dari mereka. Sebagai urang Kanekes Dalam. Urang Kanekes Dalam yang memegang erat pikukuh adat. Yang tak akan pernah melawan adat.
“Yang bukan harus ditolak, yang jangan harus dilarang, yang benar haruslah dibenarkan.. kumaha, Jang?” Pu’un kembali mengulangi pertanyaanku karena aku tak kunjung memberi jawaban padanya.
“Yang benar haruslah dibenarkan, Pu’un?” aku membeo pikukuh urang Kanekes Dalam yang sangat membenam di seluruh pikiran urang Kanekes Dalam. Pu’un mengangguk mendengar pertanyaanku, ia tersenyum dengan bijaksana, menanti segala kemungkinan yang dapat kujadikan sebagai jawaban.”Urang Kanekes Dalam musti sekolah, Pu’un.. tidak harus menyita waktu.. maraneh teh bisa belajar sambil berladang, atau belajar di waktu malam saja, abdi yang akan ajarken ka maraneh teh..Punten Pu’un,” aku menatap wajah Pu’un yang masih tampak tenang, namun jelas sekali terlihat bahwa ia merasa kecewa dengan jawabanku. Aku menunduk pasrah, itu berarti aku harus keluar dari desa ini, dari suku ini.
“Keluarlah, Jang.. Kitu pilihanmu..”
Abdi kenging kembali, Pu’un?”
“Yang di luar tetaplah di luar..” jawaban Pu’un membuatku patah semangat. Apa gunanya aku keluar jika aku tak bisa kembali? Sama saja aku tak bisa merubah urang Kanekes Dalam. Aku berdiri dan melangkah gontai keluar rumah panggung tahanan desa. Para Jaro Tangtu mengikuti setiap gerak-gerikku. Tanpa pamit, tanpa minta maaf.. ema, bapa, teteh..
Aku berbalik. Berjalan menuju arah yang berlawanan dengan desaku. Desa yang telah membesarkanku selama 17 tahun. Melihatku tumbuh dan berkembang di sekitar alam, tak menentang adat, tak melawan ema bapa. Tapi sekarang berbeda, mereka kini melihatku seperti penjahat adat. Perusak adat yang pantas keluar dari suku Baduy Dalam. Biarlah segala pedih ini aku yang tanggung sendiri.
“Jang, Ujang kasep! Aris!” aku mendengar teriakan yang sangat kukenal. Seseorang terdengar berlari menyusulku dan langsung menepuk bahuku, dia memelukku.
“Izal..”
Arurang arangkat sesarengan, Ris! Arurang tumbuh sesarengan, arurang pisan arangkat sesarengan.. suatu saat arurang kembali kamari, diterima ataupun tidak, membawa ilmu yang arurang miliki, dengan segala permohonan diri, mari arurang melangkah pasti!” Izal melepaskan pelukannya, ia tersenyum kepadaku dengan air mata meleleh di pipinya. Sorot matanya menegaskanku bahwa apa yang telah aku lakukan adalah benar. Bukan. Bukan karena melawan adat. Aku tak merubah adat. Tapi, mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan menempuh beratnya kehidupan di luar adat.
Aku mencoba mencari kebimbangan di wajah Izal, tapi tak kutemukan apa yang kucari. Dia menggandengku, keluar bersama dari pemukiman kami. Pemukiman adat urang Kanekes Dalam. Mengubur segala kenangan yang berdampingan dalam irisan madu dan tebangan kayu. Suatu saat kami akan kembali. Menghitung segala kenangan yang terpaksa dikubur oleh adat kami. Tak boleh bermimpi, tapi aku coba memberanikan diri melawan semua ini.
Aku dan Izal saling memantapkan diri sepanjang perjalanan keluar. Hingga kami sampai di perkampungan urang Kanekes Luar. Aku terhenyak. Tempat yang selama ini tak pernah kubayangkan akan kuinjakkan kaki di sini sebagai bagian dari adat ini. Aku lebih terhenyak lagi, ketika kulihat seseorang berdiri tegak menatapku. Dengan pakaian yang tak pernah kukenakan selama ini, bukan pakaian adat kami. Tapi aku mengenal sosok ini. Ramdhan tersenyum.
SELESAI


What do you think? :

1 comment:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com