Monday, December 09, 2013

Artikel Pelajar ~ Mencontek

Mencontek? NO WAY!
               Kenyataannya, banyak sekali siswa yang suka sekali mencontek, ketika mereka menemui soal yang sulit dalam ujian, atau bahkan saat mengerjakan PR pun mereka mencontek dengan berbagai alasan. Beberapa alasan yang paling umum kita temukan adalah ‘lupa’. Kata yang simpel namun jengah apabila kita dengar berulangkali. Sebagian siswa, tentu ada pula anak yang tidak suka mencontek untuk alasan apapun sekalipun nilainya terancam jelek. Biasanya, anak-anak yang tidak suka mencontek ini memiliki 2 kepribadian ketika temannya mencontek. Yang pertama, ketika temannya mencontek punyanya, ia mengatakan jawaban dengan asal-asalan karena tidak rela hasil kerja kerasnya di copas begitu saja oleh temannya. Yang kedua, mereka tetap memberi jawaban yang benar ketika temannya mencontek, namun dengan perasaan yang tidak ikhlas.

                Mencontek itu bukanlah sebuah perbuatan baik yang patut dijadikan panutan, apalagi dilestarikan turun-temurun dari generasI- ke generasi selanjutnya. Bukan. Setiap siswa bisa saja menghilangkan ‘peradaban’ menconteknya apabila mereka memiliki kesadaran untuk tidak selalu bergantung kepada orang lain dan yakin bahwa hasil yang kita lahirkan dengan penuh perjuang peluh sendiri (ceileeeh) itu lebih berharga dan bermakna daripada hasil dari mencontek milik orang lain.

                Aku tidak tau dimana letak kepuasan anak yang mencontek, dimana letak kebanggaan mereka. Tapi, ketika kulihat temanku sendiri mencontek, aku tau apa yang sebenarnya ada dipikiran anak-anak yang suka mencontek ini. Pertama, tuntutan orang tua agar nilai anaknya bagus, kedua, kepuasan (yang aku juga gak tau darimana datangnya) jika nilainya bagus dan tidak pernah memikirkan darimana datangnya nilai bagus tersebut. Usaha sendirikah? Atau hasil mencontek? Ketiga, mereka kebanyakan ikut-ikutan teman-temannya. Karena, temannya yang lain mencontek, akhirnya ia sendiripun melestarikan ‘peradaban’ mencontek tersebut.

               Keuntungan mencontek ? Apa sih keuntungan mencontek sebenarnya? Aku sendiri juga bingung. Bagi orang malas, mungkin :
1. Nilainya bagus
2. Otomatis kalau nilainya bagus ya nggak kena remidi,kan?
3. Bangga dengan angka raport yang bagus-bagus. (sekali lagi aku bingung bangga darimana kalau hasil jiplak?)
4. Membuat senang orang tua (yang biasanya menuntut anaknya dapat nilai bagus bagaimanapun caranya.)
Dannnnn.. banyak lagi alasan lainnya yang menjadi privasi masing-masing anak.

                Aku sendiri termasuk orang yang anti nyontek. Berapapun nilai yang kudapatkan, aku berusaha agar nilai-nilai itu asli dari usahaku sendiri, entah belajar sampai otak serasa kebakar atau hangus, dan aku paling gak suka sama anak yang tukang nyontek. Bagaimana mereka bisa senang-senang dapat nilai bagus tanpa belajar atau belajar pas-pasan dengan tidak mempedulikan anak-anak disekitarnya yang belajar mati-matian untuk mendapat nilai yang bagus juga.

                Terkadang hal yang menjengkelkan dan kita sering temukan adalah bahwa anak yang mencontek nilainya lebih tinggi dibandingkan anak yang telah belajar mati-matian dan selalu berusaha untuk tidak mencontek. Menyebalkan, kan? Mungkin sebagian dari kalian akan merasa ‘biarin ajah, yang penting heppy’ atau ‘terserah aku donk mau nyontek atau nggak, itu kan urusan aku!’, right? But, ayolah kawan.. untuk apa sih membudidayakan hal yang gak kreatif macam mencontek? Jika nanti, teman-teman kita sudah gak ada dan tinggallah kita seorang diri, kita mau dan bisa apa memangnya? Ilmu taawudz, kan? (:D) ilmu ngawur alias cap cip cup.

                Yah.. mungkin itu memang lebih baik ketimbang mencontek, tapi akan lebih baik lagi jika kita belajar dan gak perlu cap cip cup saat ulangan. Ketika ujian, mungkin akan ada beberapa soal yang kita nggak ingat atau nggak baca ketika belajar, tapi itu bukanlah alasan untuk membudidayakan dan ‘membangun peradaban’ mencontek. Biasanya, aku akan menuliskan sekenanya yang ada di otakku, dan memperkirakan baik-baik ‘kira-kira’ mana atau bagaimana jawaban yang seharusnya dari soal itu. Gak perlu khawatir, gugup, keringetan, adem-panas, segala. Hal seperti ini wajar ada dalam ujian. Jika kita kerjakan sendiri, kita tidak perlu takut siapapun pengawas yang akan berjaga saat ujian, sekalipun tiap pengawas duduk di depan kita juga nggak masalah jika kita mau berpikir dan mengerjakan sendiri soal itu.

                Mungkin di antara kalian ada yang kesulitan mncerna atau memahami pelajaran, sehingga takkan ada hal lain yang terlintas di pikiran kita selain mencontek. Berikut ini aku berikan beberapa tips menurut pengalamanku sendiri bagi kalian agar belajar dan menghadapi ulangan ‘sendiri’ :

1.       Pahami, bukan menghapal pelajaran. Jika menghapal, begitu kita mengalami suatu kejadian tak terduga atau yang membuat kita gugup, ilmu itu bisa menguap begitu saja padahal sudah menghapalnya mati-matian. Salah satunya, padankan kata dengan hal-hal apapun yang menarik menurut kita, seperti : ‘Tanah Panjaen : tanah yang diberikan orang tua pada anaknya ketika ia sudah menikah.’ Kita bisa mengiustrasikannya dengan kata ‘Manja’, manja biasanya kita artikan sebagai anak mama, yang selalu minta sesuatu yang bukan hasil usahanya sendiri. Nah, jika kita analogikan seperti itu, kita akan mengingat apa itu Tanah Panjaen. Mungkin menurut kalian, ini hanya kebetulan mirip atau bisa diterima akal, tapi percayalah.. cobalah dengan melakukan hal seperti ini dalam sistem hapalan sekelas sejarah, geografi, atau antropologi. Yang penting, lakukan dengan senang hati dan bebas berimajinasi ..

2.        Untuk rumus-rumus sejenis IPA atau Matematika, baiknya kita tulis pada selembar kertas. Hal ini juga bisa berlaku pada nomor 1, karena penelitian menunjukkan, menulis dapat meningkatkan daya ingat. Dan hal yang terpenting lagi adalah memahami..

3.       Ketika sudah memahami dan menghapal, tapi tetap ketika ujian, kita lupa. Kita bisa merangkai kata-kata sendiri menurut pemahaman kita. Tidak perlu ‘plek’ seperti di buku, cukup apabila kita ambil intinya trus kita karang sendiri kalimatnya. Hal ini membutuhkan pemahaman ketika menghapal. Jadi, sekalipun kita lupa, kita bisa mengingat 1-2 kata kunci yang merupakan jawaban, lalu buatlah karangan indah pada lembar jawaban. Maksudku, terserah apapun yang kalian tulis, yang penting intinya itu. Hal ini sering kuterapkan pada ujian-ujian yang membutuhkan hapalan dan aku paling senang jika ujian essay karena aku bisa mengarang indah sekalipun sebenarnya aku tidak hapal jawabannya, setidaknya aku paham 1-2 kata kuncinya.

4.       Percaya diri dan pantang menyerah. Sekalipun godaan contek menebar, tetap putuskan sendiri jawaban mana yang akan kau pilih. Jika itu soal objektif, lebih baik pikirkan kira-kira mana yang masuk akal untuk dijadikan jawaban. Jangan pakai metode cap cip cup.

Sungguh, akan lebih lega jika hasil itu adalah hasil dari usaha keras kita sendiri. Ayo jadi generasi yang berguna bagi bangsa dan negara J Hilangkan budidaya dan ‘peradaban’ mencontek. Berjuang sendiri akan terasa lebih lebih lebih jauuuuuuhhh puass.. ketimbang mencontek.

Sekian postingan kali ini, semoga bermanfaat. Terima kasih. J
What do you think? :

1 comment:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com