Wednesday, February 11, 2015

Cerpen Fiksi Romantis - Mengenai Naluri dan Merpati

Mengenai Naluri dan Merpati
Ratna Juwita
Seekor Merpati jantan terbang rendah mengusik ketenangan angin yang berhembus pelan. Ia mengepakkan sayap dengan bebas, membiarkan beberapa bulu abu-abunya gugur di udara, sibuk mengulum biji-bijian yang ia dapat dari balik bukit.  Sang Merpati terbang menuju satu titik yang ia yakin takkan salah, di sana Merpati betina dan telur-telurnya menunggui kepulangannya. Sarang yang ia bangun di puncak teratas sebuah pohon mangga, bahkan tak terlihat sama sekali olehnya yang terbang di jarak 2 kilometer dari sarangnya.
Ia, bahkan manusia pun tak mengerti apakah ia terbang menggunakan naluri. Ia tak merasa kehilangan arah kala terbang jauh dari sarangnya, sejauh apapun ia pergi ia akan tetap menemukan betinanya duduk menanti sembari mengerami. Ia sendiri tidak mengerti, tapi perasaannya jauh lebih bahagia saat bertemu dengan betinanya, tidak untuk burung merpati lain yang kadang datang menggodanya.
***
“Aku ingin menjadi manusia.” Suatu hari sang Merpati jantan berkata dengan pongahnya. “Aku ingin tahu alasan mengapa manusia kadang tak mampu setia.” Lanjutnya.
Sang Dewa yang mendengarnya, tertawa. Merpati betina yang juga mendampingi, merapat di punggung sang suami. Ia hanya menyetujui usul Merpati jantan untuk merasakan hidup sebagai manusia dan memahami sendiri bagaimana bentuk kesetiaan seorang manusia.
“Tidakkah kau akan menyesal usai memintanya?” Sang Dewa balik bertanya pada Merpati jantan.
“Kami yakin, kami ingin. Aku mau tahu, mengapa manusia sukar setia, meski beberapa dari mereka bisa. Apakah nafsu membutakan logika mereka?” Merpati jantan bergerak maju beberapa langkah, menegaskan keputusannya.
“Kalian akan mengerti nanti.. lalu ketika kalian telah bisa memahami, kalian akan berubah kembali menjadi merpati.” Jawab Sang Dewa. Merpati jantan mengangguk, tapi sebelum ia bertanya kembali, Sang Dewa telah mengangkat tangannya. “Telur kalian akan kulindungi.”
***
Merpati jantan terjatuh, berdebam tubuhnya menghantam tanah. Perlahan, tubuhnya berubah menjadi tubuh seorang manusia, dari kaki, badan, tangan, dan kemudian wajahnya. Ia bangkit dengan rasa sakit yang menghimpit tiap kulitnya, lalu memandangi sayap abu-abunya yang kini menjadi sepasang tangan berwarna kecoklatan. Ia meraba-raba wajahnya dengan gugup, seolah ia kehilangan benda pusakanya. Paruhnya.
Di depannya, kerumunan orang berlalu lalang seperti halnya kala ia masih berseliweran di angkasa sebagai Merpati. Ia meneguk ludah, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Diam-diam ia merasa takut dengan keadaan yang dialaminya, tapi ini permintaannya.
Ia terhenyak ketika teringat akan Merpati betinanya. Ia menoleh, berusaha menangkap sosok Merpati betina di sekitarnya. Tapi nihil, tidak ada siapapun di sekitarnya kecuali kerumunan pejalan kaki yang membingungkannya. Dadanya berdebar keras, ia coba berkeliling melewati semak-semak taman kota yang belum pernah ia jamah. Ia linglung karena tak mendapati apa yang diinginkannya. Saat itulah matanya menangkap sesosok wanita yang juga memandang ke arahnya. Wanita itu tersenyum anggun dengan paras yang sedemikian cantiknya, rambut pirangnya terurai di terpa sepoi angin yang dengan nakal memainkannya. Dada Merpati jantan berdesir kala menyadari wanita itu berjalan ke arahnya.
“Sedang mencari apa?” Tanya wanita itu sambil memegangi tasnya. Merpati jantan langsung gugup menerima pertanyaan itu, ia baru ingat sedari tadi belum mencoba mengeluarkan suaranya. Apakah masih sama?
“Aku..” Suaranya terdengar seperti bass, “Aku mencari Merpati betina.” Ia terkejut saat menyadari kebodohannya, tentu saja Merpati betinanya juga berubah wujud menjadi manusia, tapi dimana? Ia melirik wanita dengan jaket pink dan celana panjang di depannya. Apakah wanita ini merpati betinaku?
***
Merpati betina juga terjatuh. Ia mendarat di pepohonan yang lebat daunnya, memaksanya menahan sakit kala sayapnya hampir robek disambar ranting-ranting yang menjulang tajam. Saat itu pula, tubuhnya berubah menjadi tubuh seorang manusia. Ia berubah menjadi wanita yang cantik dengan alis tipis dan rambut hitam yang panjang. Matanya berwarna coklat, persis dengan matanya saat ia menjadi Merpati. Ia terkulai di tanah dengan tangan kanan yang sedikit tergores.
Seorang lelaki yang kebetulan lewat, sempat berjingkat karena kaget mendengar suara berdebam dari halaman rumah yang tak lagi dihuni. Ia menoleh dan memutuskan mencari sumber suara karena disergap rasa keingintahuan yang sangat. Ia mengendap memasuki halaman rumah dengan pagar yang sudah rapuh, mudah saja baginya membuka gembok berkarat setelah melongok sedikit ke dalam.
Suara derit pagar seakan memprotes kedatangannya ketika lelaki itu mendorongnya. Ia langsung mendengar suara rintihan tertahan yang berasal dari bawah satu-satunya pohon di halaman rumah itu. Ia bergegas menghampirinya dan sangat kaget melihat seorang wanita tergolek lemas dengan tangan berdarah.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Lelaki itu mendekat, mencoba melihat luka di tangan Merpati betina. Ia kemudian merobek sedikit tepi bajunya dan membalutkannya di tangan Merpati betina.
“Aw!” Jerit Merpati betina kala ia rasa perih mencubit-cubit lengan kanannya.
Lelaki itu panik, “Ma.. maaf! Ini.. Bagaimana bisa terjadi?” Tanya lelaki itu usai membalut lengan Merpati betina. Merpati betina menatap lekat lelaki yang menolongnya itu dengan bingung. “Oh ya, aku Radit. Kamu?” Lelaki bernama Radit itu mengulurkan tangannya pada Merpati betina.
Sejenak, Merpati betina terlihat ragu menyambut uluran Radit. Tapi ia menjabatnya juga dengan tangan kanannya yang masih terasa nyeri, “Aku..” Merpati betina langsung tersadar. Ia menarik kembalinya tangannya, berdiri, dan melihat ke sekelilingnya. Ia mencari Merpati jantan yang sedari tadi belum dilihatnya. Ia gugup, sekaligus bingung.
“Apa yang kau cari?” Radit ikut berdiri dan mencoba menelaah kecemasan di wajah Merpati betina. Merpati betina menatap Radit, ia baru ingat bahwa sejak pertama ia membuka mata, hanya ada Radit di depannya. Apakah ia Merpati jantanku?
***
Merpati jantan gelisah hampir setiap waktu. Kini ia tinggal di rumah wanita bernama Bella yang ia temui sebulan yang lalu di sebuah taman kota dan sejak saat itu pula Merpati jantan tak pernah berhasil menemukan Merpati betina. Ia bingung, seandainya ia masih berwujud Merpati, ia yakin akan bisa menemukan Merpati betina seberapapun jauhnya. Namun kini bersamaan dengan wujudnya sebagai manusia, ia mulai sedikit demi sedikit kehilangan naluri untuk melacak dimana Merpati betinanya. Naluri Merpatinya hampir punah ditelan akal yang kini berperan paling besar dalam wujudnya sebagai manusia.
Tidak. Ia tidak ingin menyerah pada kesetiaan sebenarnya yang tengah diuji atas permintaannya. Kini ia tahu mengapa manusia terkadang tak mampu bersikap setia pada pasangannya, itu karena mereka tak memiliki naluri sebagai Merpati. Tapi, apakah hanya itu? Ia ingin tahu apa sebabnya manusia mampu setia apabila mereka tak memiliki naluri Merpati seperti halnya dirinya?
“Kau masih cemas?” Bella telah masuk dan menghampiri Merpati jantan tanpa disadarinya. Merpati jantan mengangguk. Ia beruntung di rumah ini hanya ada Bella dan 2 manusia yang Bella sebut sebagai ‘pembantu’. Bella pernah bercerita pada Merpati jantan bahwa orangtuanya bekerja di luar negeri dan hanya pulang 3 bulan sekali. Itulah sebabnya ia dengan mudah menawarkan tempat tinggal sementara untuk Merpati jantan.
“Aku ingin tahu..” Merpati jantan kembali menekuri angkasa yang bersemburat warna kuning bercampur merah di sisa-sisa terakhir takhta mentari.
“Soal?” Bella meletakkan nampan berisi susu dan sepiring nasi di atas meja berukuran sedang di dalam kamar.
“Mengenai kesetiaan. Bagaimana manusia bisa setia padahal mereka bukan Merpati?” Merpati jantan menoleh sedikit pada Bella yang tengah duduk di atas tempat tidurnya. Bella sedikit berpikir untuk menjawab pertanyaan aneh yang untuk kesekian kalinya ditanyakan oleh Merpati jantan.
“Memangnya kesetiaan hanya ada pada Merpati?” Bella balik bertanya, “Manusia justru memiliki kesetiaan yang melebihi Merpati, karena manusia juga memiliki naluri.” Merpati jantan memandang Bella lama.
“Kalau begitu mengapa banyak manusia yang tak dapat setia?”
“Menurutku, itu karena manusia adalah makhluk yang sempurna.” Merpati jantan mengerutkan kening tak mengerti, “Justru karena manusia memiliki nafsu dan akal, terkadang mereka tak dapat mengendalikannya. Jika naluri kita lebih kuat dari nafsu, manusia bisa sangat setia. Namun, apabila nafsu yang menguasai kita, kadang akal pun tak sanggup menahannya, lalu jadilah apa yang disebut..” Bella membuat tanda petik di udara, “Pengkhianatan?”
Merpati jantan terdiam. Memikirkan apa yang dikatakan oleh Bella. Ia tahu, ia dan manusia memiliki kondisi psikologi dan biologi yang berbeda. Dalam wujudya sebagai Merpati ia hanya memiliki naluri, sedangkan manusia dibarengi akal dan nafsu. Jika dengan segala hambatan itu manusia masih mampu setia, Merpati jantan yakin itu akan menjadi titik kesetiaan paling mengagumkan yang pernah ia mengerti.
“Lalu kau?” Merpati jantan duduk di samping Bella, “Mana yang lebih berkuasa, nafsumu atau nalurimu?” Bella menunduk, mencoba menyembunyikan degup jantungnya yang berdetak cepat saat Merpati jantan duduk di sampingnya. Sedekat itu dengannya. Ia mengumpat, tidak tahu sejak kapan dirinya menjadi begitu terpesona oleh Merpati jantan. Ia enggan mengakui bahwa ia jatuh cinta pada Merpati jantan. Bella memejamkan mata, berusaha mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Merpati jantan hanya orang asing. Orang asing yang baru dikenalnya, yang bahkan tak pernah ia tahu nama dan asal-usulnya.
Merpati jantan juga merasakan hal yang sama. Ia tidak tahu benda apa yang berada di balik dadanya, yang tiap kali berdetak cepat hampir membuatnya sesak ketika berdekatan dengan Bella sejak awal jumpa. Ia dan Bella saling berpandangan, menemukan irama detak terbaik yang menyusup di kesenyapan mereka. Entah mengapa tubuh mereka memaksa untuk saling mendekat, meski Bella mencoba menahannya, wajahnya terus maju mendekati wajah Merpati jantan.
Merpati jantan tersentak kala sekelebat bayangan Merpati betina terbayang di benaknya. Ia berdiri tergopoh-gopoh dengan nafas yang tersengal-sengal, lalu berlari keluar meninggalkan Bella yang turut berlari mengejarnya dengan perasaan yang kalang kabut luar biasa.
***
Merpati betina memutuskan untuk berjalan-jalan di sore hari bersama Radit. Tepat sebulan ia bersama Radit, meninggalkan kenangan yang tak pernah kenyang memenuhi memorinya. Mereka berdua berjalan beriringan, menapaki jalan entah ke arah mana kaki akan membawa mereka pergi. Merpati betina masih belum lupa pada Merpati jantannya, tapi ia juga hampir putus asa mencarinya. Radit, laki-laki yang baru ia temui mau membantunya menemukan apa yang tidak jelas ia cari.
Cukup lama mereka saling mendengarkan degup jantung masing-masing dan membiarkan kenyamanan menaungi kebersamaan mereka, hingga akhirnya Merpati betina menemukan topik yang selama ini ingin ditanyakannya pada Radit.
“Radit..” Panggil Merpati betina lirih, membuat Radit menoleh. “Menurutmu, kesetiaan itu bagaimana?” Radit menangkap kepolosan yang tersirat dari wajah Merpati betina, ia tersenyum samar.
“Mmm.. kesetiaan, ya?” Radit memandang sudut langit yang paling jelas warna senjanya, “Kesetiaan itu tidak pudar di telan waktu, tidak punah ditelan nafsu, dan tidak tergadaikan karena jauh.” Jawab Radit. Matanya menerawang entah kemana. “Kesetiaan itu menunggu.” Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menutupi rasa malu yang tidak ia tahu darimana mampirnya.
Merpati betina tahu manusia lebih dari sekedar mengkhianati. Manusia itu luar biasa dengan segala kekurangan yang ada, mereka bisa melompati apa yang menghalangi. Ia berpikir, Merpati jantan salah mengenai manusia yang tak mampu setia. Justru kesetiaan manusialah yang paling sempurna, karena masih dapat setia ketika mereka dihadapkan pada banyak pilihan dan rintangan yang disebabkan akal dan nafsu mereka. Benar-benar salah.
Tiba-tiba seorang lelaki berlari keluar dari dalam sebuah rumah. Mengagetkan mereka dengan keributan yang tak mereka ketahui. Dada Merpati betina langsung berdebar ketika lelaki itu menatap sekilas padanya, namun ia masih terus berlari ke jalan  tanpa menyadari sebuah mobil melaju mendekatinya.
Spontan Merpati betina berlari. Ia tak mengerti mengenai naluri atau apapun yang memaksanya berlari, yang ia tahu ia melompat, mendorong lelaki tadi ke tepi jalan, dan membiarkan mobil itu menghempaskannya ke badan jalan.
***
Mobil itu berhenti. Merpati jantan yang masih setengah sadar, hanya mampu menatap nanar darah yang mengalir deras dari wanita yang baru saja mendorongnya. Menyelamatkannya. Wanita itu tergeletak tepat di depan matanya. Membuat seluruh tubuhnya bercucuran keringat yang seakan tiada habisnya.
Radit berlari menyusuri jalan yang melengang sepi. Menghampiri wanita yang baru saja dikenalnya sebulan belakangan, kini terkapar tak berdaya di hadapannya untuk kedua kalinya.
Jantung Merpati jantan mencelos ketika ia melihat titik hitam di telapak tangan kanan wanita itu. Titik itu mengingatkannya dengan titik hitam pada ujung sayap kanan Merpati betinanya. Ia lekas menghampirinya. Ia pangku tubuh wanita yang menatapnya dengan mata sedikit terpejam itu. Tangannya bergetar. Barulah ia benar-benar yakin, ini Merpati betinanya dengan mata berwarna coklat yang membuatnya jatuh cinta. Ia menangis.
“Mer.. pa..ti.. jantanku?” Tanya Merpati betina dengan nafas tersengal dan kalimat terpenggal. Ia meneteskan air mata kala dilihatnya Merpati jantan mengangguk. “Akhir..nya..” Ia tersenyum, sedangkan darah masih terus mengalir deras dari kepalanya.
Radit dan Bella saling bergantian memandangi 2 orang asing yang ternyata saling mengenal satu sama lain. Mereka berusaha memahami hal yang belum sepenuhnya mereka ketahui.
“Maafkan aku..” Merpati jantan tergugu dalam tangisnya. “Aku hampir menggadaikan kesetiaan kita, maafkan aku..” Tuturnya dengan rasa penyesalan yang bergerumbul di dada. Merpati betina menggeleng lemah.
“Kau.. mas..sih.. sama. Masih..se..galanya” Ucap Merpati betina sambil berusaha mengusap pipi Merpati jantan perlahan, hingga akhirnya tangannya terjatuh dan matanya terpejam penuh. Tak lagi sanggup berbuat sesuatu. Nyawa telah terpisah dari raganya, membuat Merpati jantan merasakan nyeri yang teramat sakit di ulu hatinya. Nyeri yang tak pernah ia tahu kapan ia pernah rasakan selain ini. Ia mengiba, meminta Dewa mengembalikan nyawa betinanya dengan segala penyesalan yang tersumbat di jiwanya.
Ia teringat kala Merpati betina tersenyum untuknya, terbang bersamanya, dan mengerami telur menunggui pulangnya. Ia tersedu dan airmata semakin deras membanjiri wajahnya. Ia hampir mengkhianati Merpati betinanya jika tadi ia tak terbujuk naluri. Seandainya ia bisa memacu kembali waktu yang pernah terlampaui, ia ingin memberi kenangan paling indah yang pernah ia buat untuk betinanya.
Merpati jantan menggeleng dan kemudian berteriak dengan suara yang menyayat-nyayat hati.
***
Radit dan Bella terkesiap dari lamunannya. Mereka terduduk di trotoar tanpa tahu mengapa mereka bisa duduk di sana. Mereka saling berpandangan. Kemudian memperhatikan jalan yang sepi, dengan mobil menepi di sisi kiri. Mereka mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi sekeras apapun mereka mencoba menelaah apa yang terjadi, mereka tetap lupa dengan apa yang pernah mereka lalui.
***
Satu waktu, Merpati jantan mati disaat anak-anaknya telah berhasil mendewasakan diri. Anak-anak merpati bergerumbul menangisi kepergiaan sang ayah dan menguburnya di bawah pohon tempat sarang mereka berada. Di samping kuburan yang mereka buat untuk ayah mereka, ada sebuah gundukan lagi yang mereka tahu dari ayah mereka bahwa itu adalah makam ibu mereka.
Selebihnya mereka hanya didongengi oleh ayah mereka mengenai Merpati yang mencoba setia sebagai manusia, yang entah mengapa seolah terdengar begitu nyata. Tentang seekor Merpati yang dengan hati hancur mengubur sendiri bangkai Merpati betinanya, tentang seekor Merpati yang berjuang mati-matian seorang diri menetaskan telur-telur yang ditinggal mati ibunya, dan tentang seekor Merpati yang dengan keyakinannya bermonolog mengenai kesetiaan yang berbuntut pada sebuah pengorbanan.
Mengenai naluri dan Merpati.

***
What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

よろしく!

My photo
Suka banget sama segala jenis buku, mau buku gambar, buku kosong, buku matematika, fisika juga oke, tapi gak perlu ngomongin nilai lah ya hehe. Suka dunia tulis-menulis sejak di Lauhul Mahfudz dan lagi gandrung banget nulis kata-kata baper padahal nggak kenapa-napa.

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com