Wednesday, February 11, 2015

Contoh Cerpen Budaya - Doa Terakhir Sang Penari

Doa Terakhir Sang Penari
Ratna Juwita
Lagi-lagi, oksigenku dirampas bebas alkohol, tontonanku tetap berkutat pada lampu yang berkedip-kedip manja, tapi beringas, benar-benar meluluhlantahkan logika manusia-manusia tak beretika ini. Pendengaranku masih dibungkam gaduh dan riuh yang kubenci. Ah, tempat yang kubenci tapi kucintai. Mengatakan bahwa aku tak menyukai tempat ini, ya aku tak menyukainya. Aku tak pernah menyukai laki-laki hidung belang yang selalu datang ke tempat ini dengan mata jalang, nyalang melihat dada-dada mulus kami. Kami para gadis yang dihias sedemikian rupa, ditakdirkan melenggak-lenggokkan tubuh kotor kami dan rela dipegang di sana sini.
Di belakang segala riuh ini kami saling duduk di belakang meja rias kami. Diam. Hanya melirik sesekali jika kecanggungan ini mulai terasa menyiksa. Kami bekerja, kami bertemu, tapi tak saling berkomunikasi. Apa yang harus kami bicarakan? Tak ada yang bisa dipertanyakan. Kebanyakan dari kami berasal dari panti asuhan dari berbagai kota, tak pernah saling bertatap muka, sebelum akhirnya kami memiliki nasib yang sama. Tergadaikan di tempat mengerikan ini. Tempat mengerikan tepat di haluan kotor ibukota yang memberi kami penghidupan.
“Hiks...hiks...” suara sesenggukan itu meremas ibaku. Kulirik seorang gadis remaja yang duduk di sudut ruangan mungil ini dengan wajah sembab, sedang air mata terus membanjiri pipinya.
Jantungku berdegup keras kala kutatap mata sayu itu. Mirip dengan mataku kala pertama kali dibawa ke tempat laknat ini. Kepalaku pusing membayangkan kembali masa laluku, buru-buru kutarik paksa sudut mataku yang sedari tadi menjamah gadis itu. Gadis tak berdosa, sebentar lagi mungkin kau takkan lagi merasa ketakutan di sini. Di rumah barumu ini. Aku tersenyum kecut.
Seseorang berjalan cepat ke dalam ruangan, membuat kami serentak menaruh perhatian penuh padanya. Alex. Orang biadab yang telah membawa kami kemari, dengan pongahnya menatap dada dan paha kami yang dibalut kain dan selendang tipis, hampir-hampir telanjang.
“Khekhe... pertunjukan akan dimulai.” Ia mengarahkan ibu jarinya ke arah yang berlawanan, cukup untuk membuat aku dan ‘teman-teman’ senasibku berdiri, berjalan melewatinya menuju ke panggung maksiat. Geramku sempat memuncak, tapi kutahan mati-matian ketika tak sengaja menyorot gerakan tangannya yang meremas pantat wanita di depanku.
***
Kami penari, tapi tak menari untuk seni. Entah bagaimana, kami menari untuk memuaskan birahi laki-laki tak tahu diri yang selalu saja mengantri. Gamelan dan segala gendhing itu tak ubahnya penabuh nafsi, membuat laki-laki di setiap sudut tempat ini tak terkendali. Tak pernah terpikirkan barang sejenak bahwa aku bisa bekerja di tempat ini, mungkin akan lebih tepat jika aku menyebutnya ‘terdampar’. Terdampar seperti paus mati yang tak bisa lagi kembali.
“Aku mencintai pekerjaan ini semata-mata hanya karena di sini aku bisa menari.” Aku bersikukuh, tak ingin membuatnya mengerti bahwa tak ada alasan lain aku di sini. Aku hanya berpikir, bila memang aku tak menyukai pekerjaan ini, maka aku harus dan akan menyukai tarian yang selalu kugandrungi sedari kecil ini. Titik.
“Kau tahu pekerjaan ini kotor, tapi kenapa?” Khali menanyakan pertanyaan yang kesekian kali. Pertanyaan yang sama dengan inti yang sama serta maksud yang sama, membawaku pergi dari sini. Khali sama saja bagiku seperti kebanyakan lelaki di sini yang hidup untuk hiburan keji. Yang berbeda, ia adalah orang yang telah memilih para penari di sini, dia tangan kanan Alex.
Aku selalu berpikir, aku telah terjatuh terlalu dalam pada kemaksiatan ini. Tak akan ada lagi tempat yang kutuju jikapun aku bisa keluar dari tempat ini dengan bantuan Khali. Entah apa yang dia bicarakan mengenai cinta dan tetek-bengeknya, aku tak pernah mengerti. Aku belum pernah merasakannya dan aku tahu itu hanya sebuah dongeng semata.
Aku melengos ketika kami beradu pandang. Sedikit muak dengannya. Dia bukan lelaki rupawan yang menjadi idaman, hanya kekayaan yang bisa membuatnya digandrungi baberapa penari di sini yang menganggapnya ‘lumayan baik’. Setidaknya sekalipun sama bejatnya, ia tak memperlakukan wanita seperti laki-laki yang datang kemari, menyentuh penari tanpa permisi, atau sengaja menyicil rupiah untuk menyelipkan uang di antara dada kami. Tapi sama saja jika pada akhirnya ia pernah tidur dengan hampir semua penari di tempat ini.
Aku membalikkan badan, enggan menjawab pertanyaannya. Pertanyaan simpatik yang patut kucurigai. Sesaat, kulihat sekelebat bayangan yang kukenal melintas di depanku. Masih dengan suara sesenggukan yang sama, tapi pipinya memerah, darah mengalir hampir di setiap bagian wajahnya. Aku tahu itu akan terjadi cepat atau lambat padanya, sebagai hukuman karena tak mau menari untuk laki-laki tak tahu malu itu. Aku mengerutkan kening.
“Tapi, mungkin akan kupikirkan lagi jika kau bisa membantuku sesuatu.” Aku berbicara dengan angkuh tanpa menoleh. “Hanya jika kau mau.”
“Tentu saja aku mau, katakan padaku apa yang bisa kulakukan untukmu?” Khali menjawab cepat. Ya, aku sudah tahu bahwa kau akan berkata seperti itu.
“Bantu aku untuk mengeluarkan gadis itu dari sini.” Aku menggerakkan sedikit daguku ke arah gadis yang telah sedikit berada jauh dari kami. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya, tapi aku tahu bagaimana reaksinya setelah ini.
“Kau gila?”
***
Aku mondar-mandir memikirkan rencana yang telah kususun dengan Khali tadi pagi. Ya, malam ini aku harus bisa mengeluarkan gadis itu dari sini. Bagaimanapun juga, aku tak mau melihatnya bernasib sama sepertiku, jikapun aku tak punya lagi jalan untuk kembali, aku hanya harus membuat gadis itu kembali sebelum ia sempat ternodai dan merasakan keganasan tempat ini.
Ah, apakah aku sedang berusaha menjadi seorang pahlawan sekarang? Pahlawan yang sama bejat dengan musuhnya? Aku terkekeh pelan. Orang yang kotor dari awal takkan merasa bersih meski dicuci berkali-kali. Dosa yang tak tertera di depan mata itu justru yang paling sering membayangi, membuat dadaku selalu sesak saat memikirkannya. Dosa yang kuyakin takkan pernah bisa kulupakan seumur hidupku, setidaknya aku masih bisa berkutat dengan kenyataan bahwa keberadaanku di sini bukanlah kesalahanku sendiri.
Aku selalu menyesali nasibku, mengapa aku di sini? Aku ingin pergi, tapi kutelan mentah-mentah semua harapan semu itu. Aku tak pernah tahu siapa ibuku, siapa sanak saudaraku, atau bahkan apakah mereka semua masih hidup? Jikalau iya, apakah mereka akan menerimaku yang seperti ini? Yang telah tak punya lagi harga diri? Aku tersenyum kecut.
Aku muak setiap kali melihat pantulan dari diriku sendiri pada gadis itu. Gadis baru yang selalu menyita perhatianku, biasanya aku tak pernah merasa segelisah ini terhadap apapun yang terjadi di sekelilingku. Nasibku sendiri telah mengurai segala nuraniku, tapi mengapa gadis itu bisa menyulamnya lagi walau hanya menjadi helai? Aku kelu melihat tangisnya, sakit melihat darahnya. Setidaknya sekali saja aku ingin seseorang pergi dari sini, keluar dari tempat biadab ini, dengan bantuanku, dengan bantuan yang dulu selalu kuharap tapi tak pernah kudapat.
Aku tersentak, seketika lamunanku buyar. Pemandangan yang ada di depanku bukan lagi tentang gadis itu, tapi untuk kesekian kali adalah laki-laki kurang ajar ini. Mereka semua. Aku melenggak-lenggokkan tubuhku dengan lincah, kuanggap ini sebagai terakhir kali untukku dan untuk mereka. Aku mencibir.
Kutatap sekilas meja penuh bir yang berada tak jauh  di depanku, pura-pura tak tahu ketika beberapa lelaki mencoba berebut menyisipkan lembaran lima puluh ribuan di dada. Alex mabuk, ditemani oleh Khali di sampingnya, memandangku gelisah. Rupanya ia berhasil membuat Alex sampai semabuk itu, dan aku sedikit memujinya meski ia melakukannya dengan ekspresi seperti itu. Cih, aku jijik melihat wajah itu. Wajah-wajah ini.
“Neng, tariannya bagus.” Celetuk seorang lelaki berjas lengkap yang menari bersamaku. Aku tersenyum, dalam hati kuartikan perkataan itu sebagai ‘Neng, dadamu mulus.’.
“Jaipong memang asyik, Kang. Sering ke sini?” Aku membalasnya dengan acuh meski senyum tetap kutopengkan di wajahku.
“Saya selalu ke sini malah dan yang selalu saya pilih selalu Eneng...” ia menyisipkan lembarannya lagi dengan mata berkedip. Uh, kuharap aku bisa menahan untuk tak memuntahkan isi perutku sekarang ke wajahnya.
“Kenapa, Kang?” suaraku meninggi, seiring dengan alunan gamelan yang semakin menggila. Sengaja kubuat nada suaraku mendayu-dayu, membuat wajahnya semakin terlihat genit.
“Urusan rakyat selalu bikin repot, di partai rumit berebut kuasa, stres, Neng!”
Aku hanya membuat mulutku berbentuk seperti huruf O sambil manggut-manggut seolah mengerti. Mereka semua ingin segera kulenyapkan. Bukan hal baru jika wakil rakyat datang kemari dengan alasan hiburan padahal mereka berselendang kuasa. Mereka dipilih untuk memperjuangkan nasib rakyat. Nasibku. Nasib kami. Tapi apa yang mereka lakukan? Gaji mereka ditelan mentah-mentah tanpa usaha, kursi jabatan ditinggalkan dan setiap hari datang kemari untuk menari dan menyentuh tubuh kami. Biadab.
Kulirik beberapa orang yang baru masuk ke tempat ini. Orang-orang berseragam aparat keamanan. Ah, lagi-lagi. Aku selalu yakin merekalah dalang dibalik berdirinya tempat ini, bagian dari tempat terkutuk ini. Mereka melindungi tempat ini dari mata aparat yang lain demi beberapa lembar uang, bahkan tak jarang kami disuruh melayani mereka sebagai upah. Bangsat! Mengapa aku merasa begitu malu tinggal di negara ini?
***
“Lanjut, Kang!” aku mencoba merebut beberapa lembar uang mereka. Hari sudah beranjak larut, tapi tak ada satu saja dari mereka yang mengangkat kaki dari sini. Sengaja aku menggila hanya untuk hari ini, melayani tatapan genit dan tangan-tangan nakal mereka. Hanya untuk hari ini.
Pyaaar!
Alunan gamelan mendadak berhenti setelah bunyi itu. Alex, lebih tepatnya Khali yang membuat Alex seolah menjadi orang yang memecahkan bir-bir itu. Sudah dimulai. Alex menggelepar di atas lantai dengan posisi tengkurap, seolah ia benar-benar mabuk padahal beberapa dari bir itu telah kami sisipi dengan obat tidur.
Suasana hening sejenak, tapi sesaat kemudian semua kembali seperti semula. Aku lirik Khali yang menyulut beberapa batang korek api dan melemparkannya ke lantai yang dipenuhi bir.
“Kebakaran! Kebakaran!!” Khali berteriak kesetanan, mengalahkan suara gendhing yang perlahan senyap.
“Kebakaran!” Beberapa lelaki lain dengan wajah kalut berlari menuju pintu, membuat gaduh riuh suasana di tempat ini. Ah, aku lebih suka gaduh riuh yang seperti ini. Aku tertawa pelan. Entah setan mana yang berhasil menyusup di pikiranku hingga aku merasa segembira ini, tak pernah terasa menyenangkan melihat wajah dan teriakan ketakutan mereka.
Beberapa penari juga panik, berebut keluar dari tempat ini. Dasar bodoh, tak ada dari orang-orang ini yang berusaha untuk memadamkan api. Mereka bergelut dengan ketakutan mereka dan keselamatan nyawa mereka sendiri. Khali menyeret tubuh Alex sedikit menjauh dari api, membuka paksa beberapa botol bir yang telah diganti dengan bensin, lalu menyiramkannya secara membabi buta ke seluruh ruangan. Tak ada yang melihatnya. Tentu saja karena mereka semua buta, telah buta pada upaya untuk mencari jalan keluar.
Aku mengangguk pada Khali yang bergidik memandang kobaran api yang semakin membesar, sudah tak bisa lagi dipadamkan. Aku mengangguk padanya, ia berlari ke ruangan dalam untuk merespon, tapi aku mengikutinya. Gadis itu juga panik, tapi hanya mampu berdiri di sudut ruangan dengan mata yang rapuh, tubuh yang demikian ringkih.
“Kau, keluarlah!” Ketika aku mengatakan hanya ‘kau’ aku memang benar-benar serius. Khali Membopong gadis itu paksa meski ia meronta di sisa tenaganya, suara-suara teriakan orang yang terkunci di ruangan luar terus menggigiti pendengaranku.
Kami bergegas, sebelum orang-orang itu sadar ada pintu di ruangan ini yang tidak terkunci. Beberapa penari rupanya menyadari dan segera beranjak mengikuti kami. Kini kami semua berada di luar, menghirup udara yang sebagian terantai alkohol dan bau-bauan lainnya. Khali menurunkan gadis yang gemetaran itu, segera beberapa penari memeluknya untuk menenangkannya. Kuambil kayu yang telah kusiapkan sedari awal di samping pintu, menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan berat.
“Terimakasih.” Kuayunkan pukulan bersamaan dengan kata-kata terakhir itu ke arah Khali yang masih membelakangiku. Para penari memekik keras, aku mengacuhkannya. Khali tergeletak tak berdaya di depanku dengan kepala bersimbah darah, “...dan maaf.” Aku tersenyum kecut, beberapa penari memandangku ngeri, aku hanya mengedikkan bahu seolah tak terjadi apapun.
“Kalian pergilah! Aku memang sama sekali tak mengenal kalian, tapi aku tahu kalian orang-orang baik. Terimakasih untuk kerja keras kalian selama ini...” aku menatap mereka satu persatu. Merangkai beberapa memori yang sempat terekam di benakku.”...maaf telah membuat keributan ini.”
“Ha?” seorang penari yang terlihat lebih tua dariku mengerutkan kening. “Kau...” ia tak meneruskan kalimatnya.
“Ya, aku yang membuat semua keributan ini, maafkan aku. Kita sama-sama ada di sini karena kita mencintai jaipong, tarian impian kita. Sedikit banyak, aku tahu bahwa kalian bertahan hanya untuk tarian ini, hanya karena di tempat lain hampir jarang ditemukan jaipongan lagi...” ucapku panjang lebar. “...setidaknya tolong teruskan tarian ini, tidak di tempat seperti ini, aku serahkan nasib tarian ini pada kalian...” aku melirik gadis kecil yang memandangku iba itu, “dan padamu.”
Aku tersenyum sekilas, tak pernah aku bicara dengan mereka seperti ini. Kali ini entah mengapa aku merasa bahwa kami—aku dan mereka—sama-sama hidup, bukan seperti boneka mati yang diam saja diperlakukan tak senonoh oleh para lelaki bejat di dalam sana. Segera kuseret tubuh Khali ke dalam dengan susah payah. Aku juga tak bisa meninggalkannya hidup, ia dan semua laki-laki yang kini terkurung itu sama. Dan akan kulenyapkan bersama.
“Kau mau kemana?” penari yang duduk paling dekat denganku di meja rias memandangku penuh tanya ketika pintu akan kututup dari dalam. “Kau tak ikut dengan kami?” aku menggeleng sebagai jawaban.
“Tempatku sudah bukan dunia.” Aku mengunci pintu.
***
Aku harus minta maaf pada Tuhan soal ini nanti. Aku terkekeh. Suara orang-orang yang masih menjerit itu tak kuhiraukan, terdengar pula beberapa bunyi dobrakan pada pintu, tapi sudah jelas takkan berhasil. Khali menaruh beberapa benda besar di pintu sebelum ia memecahkan bir-bir itu, atas perintahku. Barang-barang besar yang takkan mungkin berpindah dengan hanya sebuah dobrakan.
Tapi aku menyukai suara kepanikan dan kobaran api yang semakin ganas ini. Aku menyukai tempat ini, yang seperti ini, yang dipenuhi kobaran api yang menghancurkan segalanya, termasuk kami dan mereka semua.
Jikapun nanti aku tak bertemu dengan Tuhan, aku ingin minta maaf pada orang-orang ini di neraka. Aku tertawa, apa yang kupikirkan? Aku sungguh membenci orang-orang ini, sudah lama aku berniat melakukan ini dan gadis itu memberiku alasan terkuat untuk melakukannya.
Kubiarkan rasa sakit menjalari seluruh tubuhku yang dijamah api, panas, nyeri, sakit. Aku mendesah. Bisakah aku mengutuk-Mu untuk semua rasa sakit ini, Tuhan? Aku percaya padamu bahkan jikapun aku tak sembahyang dan terlalu berkubang dalam dosa, tapi aku menuntut-Mu untuk jaipong yang kucintai. Biarkan ia lestari, meski aku harus menjadi bahan bakar nerakamu karena ini, pintaku satu yang pasti, biarkan jaipongku tetap menari.
***

Malang, 10 Oktober 2014
What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com