Wednesday, February 11, 2015

Contoh Ulasan Puisi Terjemahan: Hsu Chih-Mo "Datang Dara, Hilang Dara"

Mengimaji Hsu Chih-Mo Dalam Kepak Burung Dara
Ratna Juwita
PENDAHULUAN
Minat baca di Indonesia yang tergolong rendah membuat sumber daya manusia kita pun menjadi rendah. Masalah utama dari berbagai masalah yang menghadang bertubi-tubi di negara Indonesia kita yang tercinta ini adalah kurangnya pengetahuan masyarakat akan kondisi di lingkungan sekitarnya akibat minimnya budaya membaca. Masyarakat cenderung masih mengabaikan pendidikan dan enggan melestarikan budaya membaca yang terbukti menjadikan Jepang, yang merupakan negara dengan minat membaca terbesar di dunia, sebagai negara yang maju ditinjau dari kualitas sumber daya manusia serta teknologinya. Apalagi jika mendengar kata ‘karya sastra’, mungkin sebagian kecil akan tertarik, tapi akan ada lebih banyak lagi orang yang langsung memilih untuk ‘melarikan diri’ daripada mencoba membacanya barang sebentar. Salah satu hal yang akan langsung terpikirkan oleh kebanyakan orang begitu mendengar ‘karya sastra’ adalah sebuah puisi. Ya, sebuah puisi akan cukup untuk mewakili ‘kesan fisik’ dari sebuah karya sastra, tampilannya yang terkesan sedikit dan lebih ringkas akan lebih banyak menarik minat baca bahkan terhadap orang yang tidak suka membaca sekalipun. Mereka kebanyakan akan memilih untuk membaca sebuah puisi dibandingkan membaca cerpen, apalagi novel. Setidaknya, ‘karya sastra’ dalam bentuk puisi akan lebih cepat selesai dibaca dibandingkan cerpen dan novel. Tapi hal ini tidak akan begitu saja mempengaruhi ‘pengaturan pikiran’ yang telah tertanam pada pemikiran orang Indonesia untuk menelaah makna, mungkin banyak orang yang lebih memilih untuk ‘melarikan diri’ lagi daripada susah payah mencoba menemukan arti yang tersembunyi dari goresan demi goresan yang tertera dalam puisi. Meski sesedikit itu.
Berbicara mengenai sebuah puisi, kita diingatkan kembali pada Chairil Anwar yang namanya sudah tidak akan asing lagi di telinga kita. Bahkan, di buku pelajaran siswa sekolah dasar pun namanya pernah—dan tidak tahu apakah sekarang masih—singgah. Di antara puisi-puisinya yang mungkin paling banyak dikenal adalah puisi berjudul ‘Aku’. Ia merupakan salah satu sastrawan muda yang dikenal menghasilkan karya-karya yang sangat bagus pada era perjuangan, yaitu angkatan tahun 1945-an. Puisi-puisinya pun memang banyak mengambil setting mengenai perjuangan dan pergolakan kemerdekaan pada masa itu. Menengok sastrawan lain yang puisinya tidak kalah digandrungi, kita mengenal sosol Sapardi Djoko Damono dengan puisinya yang berjudul ‘Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana’ ataupun ‘Hujan Bulan Juni’. Ia digolongkan sebagai sastrawan pada angkatan 66-an, puisi-puisinya banyak disukai karena ‘terlihat’ sederhana, tapi memiliki makna yang mendalam bagi pembacanya, bahasa yang biasa ia gunakan pun tak terlalu ruwet untuk dipahami oleh orang awam sekalipun, itulah salah satu sebabnya banyak orang yang menyukai puisi-puisinya. Melompat dari sastrawan-sastrawan di Indonesia, kita mencoba mengintip sastrawan-sastrawan terkenal dari mancanegara, khusunya negara bagian barat. Kita mengenal nama William Shakespeare dari Inggris dengan karyanya yang terkenal adalah Romeo and Juliet, Mark Twain dari Amerika dengan karyanya Tom Sawyer, Hemingway yang juga berasal dari Amerik dengan hasil karyanya The Old Mand and The Sea, dan lain sebagainya. Dan penyair yang menarik minat saya untuk mengulas salah satu puisi karyanya adalah Hsu Chih-Mo atau lebih dikenal dengan Xu Zhimo yang berasal dari Negeri Tirai Bambu, Cina.
Hsu Chih-Mo lahir di Haining, Zhejiang pada tanggal 15 Januari 1897 dan meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat pada tanggal 19 November 1931 di usianya yang baru menginjak 34 tahun. Ia dikenal sebagai penyair modern yang hebat di Cina, karya-karyanya yang kebanyakan bergenre cinta banyak digandrungi sastrawan terlebih muda-mudi di Cina. Menurut pengamatan saya mengenai biografi studi-studi yang pernah ia tekuni, saya menyimpulkan bahwa ia menggemari dunia politik, terbukti dari jurusan hukum yang diambilnya di beberapa universitas baik di Cina maupun di Inggris. Sekalipun ia juga mengambil jurusan ekonomi, tapi ia terlihat paling banyak terjun di jurusan perpolitikan. Hsu Chih-Mo adalah anak yang dibesarkan di bawah didikan ekstrem keluarganya yang kental dengan budaya Cina tradisional. Hsu Chih-Mo juga dikenal sebagai salah satu penyair Cina pertama yang dengan sukses merubah kealamian bentuk keromantisan budaya barat menjadi puisi Cina modern. Dia juga bekerja sebagai editor dan profesor di beberapa universitas di Cina sebelum akhirnya ia maninggal saat kecelakaan pesawat 1931. Ia pernah menikah dengan seorang wanita bernama Zhang Youyi yang ternyata tidak berjalan dengan mulus yang kemudian menyebabkannya menikah lagi dengan seorang wanita bernama Lu Xiaoman. Seperti yang kita ketahui, Hsu Chih-Mo lahir di Cina, namun ia juga pernah singgah di Inggris untuk berkuliah di sana. Sedikit banyak, lingkungan Cina dan Inggris yang pasti memiliki banyak perbedaan baik dari segi geografi sampai pada kebudayaannya, memiliki peranan tersendiri dalam penciptaan puisinya. Tidak ada data yang terperinci mengenai kapan ia menulis puisi yang akan saya ulas pada kali ini yang berjudul ‘Datang Dara, Hilang Dara’, tapi dapat kita angankan ia menulisnya antara rentang tahun 1909 sampai dengan 1931. Saya menyimpulkan hal itu karena ia lahir di tahun 1897 dan saya perkirakan butuh waktu 13 tahun kemungkinan hingga ia benar-benar dapat menciptakan sebuah puisi, terlebih karya sastra bernilai tinggi seperti ini. Mungkin di Indonesia, usia 13 tahun merupakan usia yang masih tergolong labil dan tidak memungkinkan seorang anak sekecil itu menciptakan sebuah puisi yang bernilai seperti itu, tapi ada perbedaan dari segi tahun dan tempat di sini, pada tahun-tahun seperti itu, umur 13 tahun telah dianggap cukup ‘besar’ hingga di Indonesia sendiri pun pada tahun-tahun itu banyak anak yang bahkan telah memiliki seorang anak. Kemudian saya berpikir mengenai Cina yang berbeda kebudayaan dengan kita, bahkan anak berusia 12 tahun telah dianggap dewasa di sana dari segi fisik pada tahun-tahun sekarang ini, apalagi pada rentang tahun 1897 hingga 1931. Itulah sebabnya mengapa saya menyimpulkan bahwa ia menulis puisinya ini dalam rentang tahun tersebut.
PEMBAHASAN
A.    Bahasa dalam Puisi Hsu Chih-Mo
DATANG DARA, HILANG DARA
“Dara, dara yang sendiri
Berani mengembara
Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, dara!”

“Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.”

“Dara, rambutku lepas terurai
Apa yang kaucari.
Di laut dingin di asing pantai
Dara, Pulang! Pulang!”

“Tidak, aku tidak mau!
Biar aku berlagu, laut dingin juga berlagu
Padaku sampai ke kalbu
Turut serta bintang-bintang, turut serta bayu,
Bernyanyi dara dengan kebebasan lagu.”

“Dara, dara, anak berani
Awan hitam mendung mau datang menutup
Nanti semua gelap, kau hilang jalan
Ayo pulang, pulang, pulang.”

“Heeyaa! Lihat aku menari di muka laut
Aku jadi elang sekarang, membelah-belah gelombang
Ketika senja pasang, ketika pantai hilang
Aku melenggang, ke kiri ke kanan
Ke kiri, ke kanan, aku melenggang.”

“Dengarkanlah, laut mau mengamuk
Ayo pulang! Pulang dara,
Lihat, gelombang membuas berkejaran
Ayo pulang! Ayo pulang.”

“Gelombang tidak mau menelan aku
Aku sendiri getaran yang jadikan gelombang,
Kedahsyatan air pasang, ketenangan air tenang
Atap kepalaku hilang di bawah busah & lumut.”

“Dara, di mana kau, dara
Mana, mana lagumu?
Mana, mana kekaburan ramping tubuhmu?
Mana, mana daraku berani?”

Malam kelam mencat hitam bintang-bintang
Tidak ada sinar, laut tidak ada cahaya
Di pantai, di senja tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak –
(diterjemahkan dari puisi Hsu Chih-Mo, A Song of the Sea)
Berkenaan dengan puisi tersebut, saya menangkap makna ‘dara’ dalam kalimat-kalimat dalam bait puisi itu merujuk pada ‘dara seekor burung’. Mengapa bisa begitu? Awalnya memang terlihat percakapan biasa antar manusia, tapi dilihat dari segi penulisan kata-katanya yaitu ‘dara’ bukan ‘Dara’, saya menyimpulkan bahwa itu adalah nama spesies salah satu burung. Kita sendiri tahu dan mengenal dengan baik bahwa penulisan untuk nama orang harus diawali dengan huruf kapital, sedangkan huruf kapital untuk ‘dara’ hanya kita temukan di awal kalimat atau awal bait saja. Hal ini juga disebabkan oleh penulisan EYD kita yang mengharuskan huruf kapital untuk sebuah awalan kalimat, paragraf, dan terutama yang ada dalam puisi tersebut adalah tanda petikan langsung. Karena setelahnya, huruf-huruf untuk ‘dara’ kembali menjadi huruf-huruf kecil biasa yang telah jelas memaparkan pada kita bahwa itu adalah nama spesies burung yang tidak harus memakai huruf besar untuk beberapa sebab penulisan. Kemudian pengulangan pada kata ‘dara’ pada baris pertama bait pertama puisi ini menunjukkan ‘penekanan’ siapa dara sebenarnya dan ada apa dengannya.
‘Dara, dara yang sendiri
Berani mengembara’
Saya menemukan kejanggalan pada 2 baris pada bait pertama tersebut yang mungkin berujung pada makna yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Dara, dara yang dimaksud dalam puisi ini adalah burung dara yang ternyata memang banyak tinggal di pesisir pantai Cina, tepatnya di pantai timur Cina Zhejiang dan Provinsi Fujian. Dan daerah Zhejiang merupakan tempat kelahiran dari Hsu Chih-Mo, jadi dapat kita simpulkan di sini bahwa Hsu Chih-Mo membuat puisi ini berdasarkan pengamatannya di lingkungan sekitar ia tumbuh yaitu daerah Zhejiang yang merupakan tempat berkembang biaknya populasi dari Burung Dara-Laut Cina. Kemudian, kejanggalan yang saya maksudkan di atas adalah pada kata ‘dara yang sendiri berani mengembara’ karena pada kenyataannya dan hasil penelitiannya, Burung Dara-Laut Cina tidak suka hidup sendiri-sendiri. Burung Dara-Laut Cina merupakan tipe burung yang hidup secara bergerombol dan sering tampak di pesisir pantai timur Laut Cina seperti yang saya katakan tadi. Apakah kemudian yang menyebabkan penyair menyebutkannya ‘sendiri mengembara’? Saya berpikir kembali mengenai riwayat penyair, Hsu Chih-Mo pernah tinggal di Inggris dan tentu saja dapat dikatakan bahwa ia merupakan minoritas di sana. Ia tidak datang ke Inggris bersama sanak saudaranya, melainkan seorang diri. Mungkin yang dimaksudkan oleh Hsu Chih-Mo di sini adalah penggambaran mengenai dirinya sendiri yang sendiri pergi ke Negara Inggris untuk kuliah. Orang Cina lekat dengan pencitraan bahwa mereka suka ‘bergerombol’, meskipun tengah berada di negeri orang pun mereka akan membentuk lokasi sendiri atau kalaupun tidak, mereka akan berkumpul di suatu tempat tertentu dan pada waktu tertentu pula, yang kemudian ia gambarkan seperti burung dara-laut Cina. Sedangkan ia sendiri sebagai burung dara yang terbang sendiri dengan berani mengembara meninggalkan gerombolannya, seperti burung yang menantang maut dengan hidup sendiri padahal ia adalah tipe burung yang hidup secara bersama-sama.
‘Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, Dara!’
Pada bait pertama ini dan baris ketiga serta keempat di atas, menunjukkan bahwa seseorang tengah berbicara kepada dara, seseorang yang lain, satu tokoh lagi selain dara. Dari dialognya yang berbentuk puisi itu, terlihat jelas bahwa seseorang yang mengatakan ‘dialog’ ini jelas sekali peduli kepada dara, ia meminta dara untuk pulang, sangat khawatir apabila dara yang seharusnya hidup bersama-sama dengan kelompoknya justru terbang sendiri ingin mengembara. Saya tafsirkan bahwa dialog ini adalah orang yang sangat dekat dengan dara, apabila dara itu adalah Hsu Chih-Mo sendiri, maka kemungkinan besar orang yang paling dekat dengannya dan sangat khawatir padanya yang ingin merantau menempuh pendidikan di Inggris adalah orang tuanya. Pilihan kata ‘pulang’ pada baris di atas menunjukkan bahwa sebenarnya mereka telah berjalan jauh dari rumah, di pesisir pantai, saya berpikir mengenai transportasi laut, yaitu sebuah kapal. ‘pulang’ merupakan kata yang menandakan berpindahnya seseorang ke tempat asalnya, ke rumah, ke kampung halaman, dan sebagainya. Jelas sekali penyair ingin menyampaikan bahwa ia telah berada—yang saya tafsirkan di sini sebagai—pelabuhan untuk berlayar ke Inggris, tapi orang tuanya berusaha untuk mencegahnya pergi dengan menyuruhnya ‘pulang’. Kata ‘pulang’ ini tidak mungkin dikatakan apabila saat itu dara atau Hsu Chih-Mo masih berada di rumah, karena tidak mungkin kata ‘pulang’ akan digunakan oleh seseorang ketika ia telah berada di tempat asalnya, sebaliknya apabila penyair memaksudkan dengan ‘menetap’, penyair akan menggunakan pilihan kata ‘tinggal’ yang akan menjadi ‘Dara, tinggallah saja, dara!’. Lalu, ‘mencari di pantai senja’, apa yang dimaksudkan penyair dengan ini? Apa yang coba penyair cari di sebuah pantai? Dan mengapa senja? Pantai. Pantai adalah batasan antara darat dan laut, yang dicari oleh penyair di pantai adalah mimpi, mimpi menuju harapan yang baru di Inggris, negeri dimana ia akan mengembara. Pantai adalah tempat dimana ia menaiki transportasi untuk menyebrang ke Inggris, meninggalkan tanah airnya, menjemput mimpi baru. Lalu senja? Sedangkan senja adalah batasan antara pagi dan malam, antara sinar dan kelam, antara aktivitas dan tidur. ‘di pantai senja’ mengisyaratkan batasan antara 2 kehidupan yang berbeda, berbeda antara Inggris dan Cina, berbeda geografi, berbeda kebudayaan, berbeda ras, dan sebagainya. Apa yang ia cari dari segala perbedaan itu? Ia mencari kehidupan baru yang belum pernah ia temui sebelumnya, mencari ilmu dan kata-kata baru yang mungkin bisa mempertajam insting politik dan naluri sastranya terhadap puisi. Ia dengan berani, hijrah dari Cina ke Inggris, sendiri.
Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Bait ini menunjukkan ‘dialog’ dalam bentuk puisi dari dara yang menentang ajakan seseorang untuk pulang. Pada baris kedua dari bait kedua tersebut tertulis ‘biar angin malam menderu’, telah tertera jelas bahwa setting yang diambil penyair adalah malam hari, dan ‘angin malam menderu’ yang terdapat dalam baris tersebut berarti tengah terjadi badai yang besar sehingga membuat angin yang seharusnya tak memiliki suara, menjadi begitu terdengar geraknya dengan penggambaran diksi ‘menderu’. ‘menderu’ seperti yang kita kenal pada kata-kata di keseharian kita berarti bunyi bergetar disertai suara bising seperti suara kendaraan bermotor yang baru saja dinyalakan, saking kerasnya sampai angin terdengar ‘menderu’ hanyalah bisa didengar apabila terjadi sebuah badai. ‘menyapu pasir, menyapu gelombang’ bermakna menggerakkan segala sesuatu yang ada dengan kekuatannya, angin sejenis badai pasti bisa dengan mudah menerbangkan butir-butir pasir dan memang anginlah yang menyebabkan gelombang-gelombang di laut, selain gerakan dalam laut itu sendiri. Kemudian, pertanyaan selanjutnya yang terlontar adalah mengapa angin malam menderu hingga menyapu pasir dan menyapu gelombang? Saya coba berpikir, apa kira-kira yang penyair ingin sampaikan dari pilihan katanya ini. ‘angin malam’ adalah angin yang dingin dan tidak baik bagi kesehatan tubuh manusia, maka dari itu malam hari dipergunakan oleh manusia untuk beristirahat dengan tidur. Saya menangkap makna ‘angin perusak yang dahsyat’, pada penggalan baris puisi tersebut, apa yang dimaksudkan dari perusak? Yaitu kegamangan yang mungkin menghambatnya untuk pergi ke Ingris, meruntuhkan kebulatan tekadnya untuk ‘mengembara’, penyair tidak peduli pada pada segala hal yang akan menghadangnya ketika berada jauh dari kampung halamannya, ia ingin menjemput mimpinya di Inggris. Meski, mungkin ‘angin’ itu meruntuhkan semangat orang lain, ia tidak ingin membiarkan ‘angin’ itu mengendurkan semangatnya.
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu
Penyair ingin ‘menemu’, saya pikir ia ingin mencapai tujuannya. Entah untuk menjadi seorang penyair Cina modern dengan menerjemahkan beberapa puisi romantis gaya barat, ataukah untuk menjadi seorang sarjana hukum seperti yang ditekuninya.
Dara, rambutku lepas terurai
Apa yang kaucari.
Di laut dingin di asing pantai
Dara, Pulang! Pulang!
Ini bait yang merupakan ‘dialog’ berikutnya yang diperankan oleh tokoh selain dara. Saya berpendapat, untuk sebuah dialog untuk apa seseorang mengatakan ‘rambutku lepas terurai’ yang apabila dihubungkan dengan dialog berikutnya seakan hal itu tidak ada artinya, tapi coba kita lihat ini secara puisi. Makna dari kata ‘terurai’ adalah bercerai berai, tidak lagi menjadi satu, terurai karena sesuatu tak lagi bisa menyatukannya. Apabila kita hubungkan dengan ‘peristiwa’ dalam puisi, maka kemungkinan yang dimaksud di sini adalah tidak lagi bersatunya mereka, tidak bersatunya lagi keinginan mereka untuk bersama, sesuatu yaitu keyakinan sang penyair telah ‘menguraikan’ mereka, dsb. Kesimpulannya, makna baris puisi itu adalah bahwa seseorang yang penting bagi tokoh selain dara yaitu dara itu sendiri akan pergi mengejar impiannya, menguraikan diri.
 Tidak, aku tidak mau!
Biar aku berlagu, laut dingin juga berlagu
Padaku sampai ke kalbu
Turut serta bintang-bintang, turut serta bayu,
Bernyanyi dara dengan kebebasan lagu.
Di sini, dara bersikeras untuk tidak kembali dan memantapkan keputusannya pergi. Ia ingin ‘berlagu’ bersama bintang dan bayu. ‘berlagu’ dapat kita maknai dengan ‘menimbulkan suara’, ‘menimbulkan bunyi yang merdu’. Mungkin penyair ingin menciptakan ‘kemerduan’ dengan merantau ke Inggris. Untuk hal ini, kita simpulkan saja ‘kemerduan’ mengenai menciptakan sebuah puisi yang bagus sekaligus menuntaskan pendidikan hukum di sana. Bintang dan bayu berlagu maksudnya adalah bahwa segala di alam ini bisa dijadikan sebuah puisi, memiliki ‘suara’nya sendiri, memiliki lagu yaitu sebuah kehidupannya sendiri, ia juga ingin memperoleh kehidupannya sendiri yang dapat ia rasakan bahwa ia menikmati karena ia senang melakukannya. Ini penyair katakan dari ‘sampai ke kalbu’ yang tertera pada baris ke tiga. ‘kebebasan lagu’ berarti tidak terikat, ia membuat lagunya sendiri tanpa diatur oleh siapapun, tidak juga orang tuanya. Ia ingin menjadi orang yang bebas dimanapun ia berada sekalipun di negeri asing, menulis puisi dengan cirinya sendiri, seperti pada contoh puisi ini yang berbentuk seperti sebuah dialog drama. Pada bait ini pun kita ditunjukkan pada fonologi kata di setiap akhir barisnya, semua berakhiran dengan huruf ‘u’, sehingga apabila dibaca akan menimbulkan suara yang bersinambungan dan memiliki rima yang tepat. Berarti, dengan kata lain dapat kita simpulkan apabila Hsu Chih-Mo memakai diksi yang disesuaikan dengan baris-baris sebelumnya yang berakhiran dengan bunyi vokal ‘u’.
Dara, dara, anak berani
Awan hitam mendung mau datang menutup
Nanti semua gelap, kau hilang jalan
Ayo pulang, pulang, pulang.
Sekali lagi, nampak jelas latar suasana dalam puisi adalah ketika datangnya badai, pada malam hari yang langsung ditunjukkan dari baris kedua bait di atas. Awan hitam mendung yang akan datang menutup adalah masalah-masalah yang akan datang menghadang sesampainya maupun dalam proses perjalanan dara. Kita imajikan kembali kepada penyair yang dikhawatirkan akan menemui kesulitan hidup hingga menutup cahaya, menjadikannya mendung dengan awan kegelisahan dan kesenduan, membuat hidup tak lagi berwarna melainkan hanya gelap yang menghiasi hidupnya. Menutup pula jalannya menuju impiannya, yaitu menjadi seorang penyair dan seorang sarjana hukum. ‘nanti semua hilang, kau hilang jalan’, berarti bahwa tokoh atau orang tua Hsu Chih-Mo tidak ingin semangat anaknya itu akan luntur apabila ia tinggal di sana dan masalah memenuhi rongga tekadnya, memenuhi tiap relungnya dengan kegelapan yang tak berkesudahan, tapi penyair tahu dalam rongga dan relung itu ia akan selalu menyediakan api dan lilin kecil yang akan memberikannya sedikit cahaya untuk sekedar menghirup nafas dan menemukan secangkir kebahagiaan dan sesendok kepuasan. Masih tak gentar, ia melanjutkan perjalanannya meski semua perkiraan orang tuanya akan kehidupannya di sana tidak akan semulus yang diinginkannya.
Dengarkanlah, laut mau mengamuk
Ayo pulang! Pulang dara,
Lihat, gelombang membuas berkejaran
Ayo pulang! Ayo pulang
Terdapat pilihan kata ‘mengamuk’ pada bait ini. ‘mengamuk’ dapat diartikan sebagai sebuah’kemarahan’ yang besar, suatu kegiatan yang bisa merusak sesuatu, kemarahan yang sangat, dsb. Siapa kira-kira yang dimaksud penyair dengan mengimajinya dengan kata ‘laut’ ini? ‘laut’ saya artikan sebagai kesulitan hidup, apabila si dara atau penyair mengembara ke negeri asing, berapa banyak kesulitan yang dapat muncul kapan saja? Perbedaan geografi, ras, dan budaya jelas menjadi mkesulitan paling utama. Makanan pokok pun setiap negara bisa saja berbeda. Bisa saja hidup membuat kemarahan yang besar apabila si burung dara atau penyair sedang berada di sana, jauh dari orang tua dan sanak keluarga. Lalu, pilihan kata yang menarik selanjutnya adalah ‘gelombang membuas berkejaran’. Dalam hidup, tidak ada kata mulus, segala hal akan dipenuhi oleh segala rintangan, tantangan, hambatan, serta gangguan. Tokoh selain dara khawatir, gelombang itu akan memakan dara, menghabiskannya hingga membuatnya hilang entah kemana. Jelas sekali tokoh selain dara berusaha sekuat tenaga untuk membawa dara kembali pulang pada ‘gerombolannya’.
Gelombang tidak mau menelan aku
Aku sendiri getaran yang jadikan gelombang,
Kedahsyatan air pasang, ketenangan air tenang
Atap kepalaku hilang di bawah busah & lumut.
Pada bait ini, dara masih saja bersikukuh enggan pulang. Ia beralasan bahwa ‘gelombang tidak mau menelan aku’, ini dapat dimaknai sebagai kehidupan yang tidak akan ‘menghancurkannya’ takkan membuatnya ‘hilang’, seperti biasanya gelombang terkadang membuas, menelan apa saja yang tersapu olehnya. Selanjutnya, dara mengatakan bahwa ia sendirilah getaran yang menjadikan gelombang-gelombang itu, artinya penyair sendirilah yang pasti akan menyebabkan ‘gelombang’ kehidupannya sendiri kelak. Hal ini sesuai dengan asas sebab-akibat yang pasti terjadi di dalam hidup, tidak akan ada akibat apabila tidak ada sebab, begitujuga dengan semua masalah dalam hidup ini adalah buah dari apa yang kita lakukan sebelumnya, menyangkut pilihan-pilihan yang selalu terjadi dalam hidup sesuai dengan pepatah bahwa hidup adalah pilihan. Setiap pilihan yang kita ambil pasti akan membawa resiko tersendiri tergantung bagaimana kita menyikapinya, apakah dengan sikap yang bijaksana, ataukah malah membuat semuanya bertambah menjadi semakin rumit. Karena itulah dara meyakinkan kepada tokoh selainnya, bahwa dia sendirilah yang menyebabkan getaran hingga menimbulkan gelombang. Saya sedikit penasaran juga dengan baris keempat bait tersebut yang menyatakan ‘atap kepalaku hilang ditelan busah dan lumut’. Atap kepala? Menurut informasi yang saya dapatkan, umumnya atap kepala dari Burung Dara-Laut Cina berwarna putih. Lalu ada apa dengan atap kepalanya? Atap kepala adalah puncak dari tubuh kita, bagian tertinggi dari seluruh organ tubuh kita di bawah helai rambut ataupun bulu. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa atap kepalanya ditelan busah dan lumut? Busah adalah buih-buih air laut saat gelombang datang dan menyentuh bibir pantai, buih-buih berwarna putih itu akan terlihat seperti busah, dan lumut? Lumut biasanya terletak di tepian batu-batuan di tepi pantai, di bagian yang sudah pasti membelakangi cahaya matahari. Sebelumnya, terdapat kosakata ‘kedahsyatan air pasang’, maka dapat kita tebak bahwa pasang turut menenggelambakn bebatuan di pantai dan menenggelamkan dara disapu gelombang dan menghantam bebatuan. Mungkin Hsu Chih-Mo memaksudkan ini dengan kehidupan yang memang kadang menjerumuskan siapa saja ke dalam lubang paling gelap dan dasar, hingga menyebabkan keputusasaan, tapi dara mengatakannya tanpa takut. Berarti, penyair pun menyikapinya dengan cara yang sama. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari kehidupan yang terkadang memang tidak bersahabat, malah memusuhi, tapi tanpa itu manusia takkan berkembang, takkan belajar apapun dari hidup padahal hidup adalah belajar. Belajar memahami, memaknai, dan sebagainya yang dapat dipelajari oleh manusia. Jadi, untuk apa mengkhawatirkan kemana hidup akan membawa kita berlayar? Karena kitalah yang akan menentukan sendiri dimana kita ingin berlabuh.
Dara, di mana kau, dara
Mana, mana lagumu?
Mana, mana kekaburan ramping tubuhmu?
Mana, mana daraku berani?
      Pada bait ini, tokoh selain dara kehilangan ‘pandangannya’ dari dara yang bisa kita simpulkan bahwa ia menghilang. Menghilang di sini dalam artian ia telah terbang jauh, menuju tempat perantauannya, sama dengan Hsu Chih-Mo yang tak gentar tetap memutuskan untuk pergi ke Inggris, entah apa yang akan menghadangnya di sana. Tokoh ini menyebutkan mengenai ‘lagu’ sekali lagi, menanyakan ‘mana lagumu?’, ‘mana kekaburan tubuhmu?’, apa yang coba ditanyakannya? Menurut pendapat saya, seperti yang sudah saya bahas sebelumnya bahwa ‘lagu’ yang dimaksudkan penyair dalam puisi ini adalah ‘syair’ dari puisinya dan lika-liku kehidupannya sendiri. Jadi, dapat kita tuliskan sebagai ‘mana kau? Dan syairmu?’. Kekaburan tubuh, sebuah pilihan kata mengenai ‘samar-samar’, remang-remang’, ‘tidak jelas’, jadi awalnya hanya bayang-bayang samar dari dara yang sempat tertangkap oleh tokoh karena awan gelap dan mendung seperti yang tertera dalam puisi, lalu setelah itu lenyap tak berbekas karena dara telah terbang menjauh, semakin jauh hingga ia ditelan oleh kegelapan pekat malam dan badai.
Malam kelam mencat hitam bintang-bintang
Tidak ada sinar, laut tidak ada cahaya
Di pantai, di senja tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak –
      Dari sini, dialog telah berakhir, dan hanya ada bait puisi biasa yang menggambarkan kesedihan dari tokoh yang kehilangan dara entah kemana. Membuat hari-harinya sendirilah yang dipenuhi kegelapan karena tidak ada dara, dara pergi mengembara meninggalkannya meski seharusnya ia tahu dara-nya mencoba untuk mencari sendiri kehidupan dengan sisa-sisa keberanian yang dikumpulkannya susah payah untuk menopang tekadnya yang begitu besar untuk mengenyam pendidikan di negeri Tirai Besi tersebut. ‘di pantai, di senja tidak ada dara’, mengapa penyair masih membicarakan mengenai ‘senja’? padahal telah jelas bahwa latar suasana dalam puisi tersebut seperti yang digambarkan dalam dialog tokoh itu sendiri bahwa saat itu adalah malam dan sedang terjadi badai, serta laut pasang. ‘senja’ yang dikatakan di sini mungkin adalah usia senja yang ‘dikunyah’ oleh orang tuanya yang pasti tidaklah masih muda. Di masa-masa senjanya pun mereka tak mendapati anaknya berada di sekitar mereka untuk menemani, ia memutuskan pergi, meski tidak untuk selamanya. Setidaknya, orang tuanya yang entah saat itu masih hidup ataukah telah meninggal, tak menemukannya untuk beberapa waktu.
B.     Tema Puisi ‘Datang Dara, Hilang Dara’
Dari bait demi bait yang telah saya ulas di atas, kita dapat menyimpulkan dengan sangat jelas bahwa tema yang coba disampaikan oleh Hsu Chih-Mo dalam puisinya yang berjudul ’Datang Dara, Hilang Dara’ ini yaitu kisah pengembaraan seekor burung dara yang sendiri melenggang, jauh dari kawanannya yang menggambarkan hidup si penyair sendiri yang melenggang lepas dari Cina dan ‘gerombolannya’ yaitu orang-orang suku Tionghoa untuk menuntut ilmu dan meraih impiannya menjadi seorang penyair dan sarjana hukum. Hal ini berkaitan dengan sikap Burung Dara yang dengan berani meninggalkan kawanannya untuk pergi mengembara meski ia tahu saat itu laut tengah mengamuk karena pasang, terjadi badai, dan malam mendung hingga hanya cahaya samar yang berhasil menerobos masuk, menimbulkan bayangan dirinya yang hanya terlihat samar dari sudut pandang ‘tokoh selainnya’.
C.    Subject Matter pada Puisi ‘Datang Dara, Hilang Dara’
“Dara, dara yang sendiri
Berani mengembara
Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, dara!”
“Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.”
Pada 2 bait awal puisi ini, diceritakan 2 orang tokoh yaitu seekor dara dan tokoh selainnya sedang melakukan dialog mengenai keputusan dara untuk mengembara ke tempat lain seorang diri, padahal Burung Dara-Laut Cina yang diceritakan dalam puisi ini adalah jenis burung yang hidup berkelompok dan bermigrasi ketika musim dingin tiba. Tokoh selain dara ini melarangnya untuk pergi karena cuaca tak menentu, awan menudungi langit malam hingga menjadi semakin pekat, air laut tengah pasang hingga menenggelamkan bebatuan di pinggir pantai, dan badai yang besar disertai gelombang. Namun, dara tidak mau kembali, ia bersikukuh untuk tetap pergi dan meyakinkan kepada tokoh selainnya bahwa ia tak akan apa-apa. Ia sangat yakin dengan apa yang telah diputuskannya dan tidak akan menyerah.
“Heeyaa! Lihat aku menari di muka laut
Aku jadi elang sekarang, membelah-belah gelombang
Ketika senja pasang, ketika pantai hilang
Aku melenggang, ke kiri ke kanan
Ke kiri, ke kanan, aku melenggang.”
“Dengarkanlah, laut mau mengamuk
Ayo pulang! Pulang dara,
Lihat, gelombang membuas berkejaran
Ayo pulang! Ayo pulang.”
Bait di atas saya anggap sebagai konflik dalam puisi ini karena tokoh dara dan tokoh selainnya semakin sama-sama ngotot untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing bahwa dara tidak ingin kembali, tapi tokoh selainnya gencar menyuruhnya untuk pulang.
“Dara, di mana kau, dara
Mana, mana lagumu?
Mana, mana kekaburan ramping tubuhmu?
Mana, mana daraku berani?”

Malam kelam mencat hitam bintang-bintang
Tidak ada sinar, laut tidak ada cahaya
Di pantai, di senja tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak –
      Dan pada bait ini merupakan ending puisi dimana tokoh selain dara tidak lagi melihat dimana dara berada. Dara menghilang dalam pekatnya malam, deru badai, dan gelombang berkejaran yang mengamuk. Dan tokoh selainnya mencarinya, hingga seperti kehilangan seseorang yang berharga, membuatnya begitu putus asa.
D.    Feeling Hsu Chih-Mo Menuang ‘Datang Dara, Hilang Dara’
Dalam puisi ini menggambarkan Hsu Chi-Mo yang mengungkapkan kronologi keputusannya untuk hidup terpisah dengan keluarga dan sanak saudaranya yang digambarkannya lewat Burung Dara-Laut Cina yang banyak dilihatnya di lingkugannya di daerah Zhejiang, kemudian ia ceritakan bahwa Burung Dara itu pergi sendiri meninggalkan kawanannya karena ingin mencari sesuatu yang entah apa, apakah sebuah tempat persinggahan ataukah hal lain yang dia inginkan seperti sebuah pulau karena naluri dari Burung Dara-Laut Cina suka mengunjungi pulau-pulau ketika mereka bermigrasi saat musim dingin tiba. Yang saya simpulkan di sini bahwa yang dicari oleh Hsu Chih-Mo adalah mimpinya yang ingin ia kejar ke Negeri Tirai Besi, Inggris.
E.     Tone Hsu Chih-Mo dalam Kehidupannya
Hsu Chih-Mo menurut saya dalam masalah Tone ini menginginkan pembaca untuk mengetahui riwayat hidupnya sendiri, disertai berbagai amanat yang disampaikannya dalam tiap baris puisinya. Puisi yang ia buat meyerupai sebuah dialog drama sehingga membuatnya terkesan menarik dan unik untuk lebih dipahami dan digali lagi makna yang terkandung di dalamnya. Pembaca diajak merenungi hidup dan memahami apa yang dilakukan oleh Burung Dara dalam puisi, mengenai semua kenekatannya, keberanian, dan ketidak peduliannya terhadap apa yang bisa menjatuhkannya, atau bahkan bisa sampai membunuhnya dalam perjalanannya mencapai apa yang diinginkann dan dicarinya.

PENUTUP

          Kesimpulan yang saya ambil dari kesuluruhan puisi tersebut adalah mengenai kehidupan yang tidak harus berkutat pada satu tempat yang kita tinggali. Kita harus berani mengambil langkah untuk memulai kehidupan baru yang mungkin bisa membawa kita menjadi orang yang lebih baik lagi, dan bahwa sekeras apapun kehidupan yang kita jalani, serta bagaimanapun kehidupan itu bisa menjatuhkan kita, ia takkan pernah bisa menghancurkan kita kecuali jika kita sendirilah yang menghancurkan diri kita sendiri. Hidup adalah pilihan, setiap langkah yang kita ambil adalah pilihan yang tersedia dan kita putuskan untuk memilihnya. Kehidupan memiliki banyak makna yang dapat mendewasakan diri kita dengan berbagai masalah yang datan, bukan bermaksud untuk memusuhi, tapi justru berkawan dengan kita. Tergantung bagaimana kita menyikapi semua yang kita lalui dan akan kita hadapi, tidak akan masalah selama kita percaya bahwa yang kita tengah jalani dan sedang kita kejar adalah hal yang benar-benar kita inginkan. 
What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com