Saturday, April 18, 2015

Cerpen Komedi Romantis - Anonim Cinta Mustahil


Ratna Juwita
Aku berjingkrak ketika dia datang. Gadis itu, sudah lama aku tidak melihatnya sejak ia putus dengan—yang orang bilang—kekasihnya. Ia tampak sehat, meski gurat sedih masih nampak jelas di wajahnya.
“Ssstt! Diamlah!” Dia menatapku tajam. Ah, tanpa sadar aku bersuara dan mengganggunya. Sejenak, aku lupa bahwa ini adalah perpustakaan.
Aku diam. Memandangi tiap jengkal wajah manisnya yang selalu terbayang di benakku. Rambut hitamnya tergerai sebahu, kacamata duduk tenang di hidungnya, bibir berwarna merah muda yang tipis, ah, dia terlihat menawan. Ia menunduk. Menatap barisan kalimat dalam buku bersampul birunya, sesekali mengangguk.
Aku tersentak ketika kudengar langkah kaki seseorang mendekat. Sial, laki-laki itu! Lelaki lembek yang membuat gadisku menangis. Dulu. Entah kapan, aku tidak ingat. Lelaki itu berjalan perlahan ke sebuah rak, dan mengambil buku bersampul hijau. Ia membawa buku itu ke tempat duduk terjauh dari si Gadis. Si Gadis melirik sekilas, aku tak bisa menerjemahkan ekspresinya saat ini. Apakah ia senang? Ataukah sedih?
Mereka diam. Mematut buku masing-masing dengan pandangan hampa. Aku memahami raut wajah orang yang benar-benar membaca, tidak seperti raut mereka saat ini.
***
Si Gadis datang lagi. Masih di tempat yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Sudut belakang selalu menjadi tempat favorit untuk menenggelamkan diri pada buku-bukunya. Namun, kali ini terasa berbeda. Ia tidak fokus. Berulang kali ia menoleh, seperti mencari seseorang. Ah, kurasa aku tahu siapa yang sedang dicarinya.
Lalu, beginilah yang terjadi. Si Lelaki datang. Kali ini duduk sedikit lebih dekat dari gadis itu, dengan buku bersampul hijaunya. Bisa kurasakan kecanggungan merayap manja mengelilingi mereka. Aku benci suasana seperti ini. Aku tak dihiraukan, dianggap pun tidak.
Bukankah mereka hanya mantan sekarang? Hanya mantan, biar kuperjelas lagi. Aku kerap melihat si Lelaki membawa gadis ke perpustakaan ini. Gadis lain, tentu saja. Tidak ke sini untuk membaca buku, malah bermesraan. Membuatku muak. Membuat gadisku pun sesak dan akhirnya lama tak kembali. Meninggalkanku dan sejuta imaji serta rindu yang tumbuh subur akan sosoknya.
Si Gadis menyelipkan rambut, membetulkan letak kaca matanya. Si Lelaki duduk gelisah, membenarkan letak duduknya. Aku? Aku hanya mencoba mendekat pada gadisku, melangkah perlahan.
“Hei, pergilah! Jangan mendekat!” Seperti yang kuduga, aku malah diusir olehnya. Aku tidak tahu apa yang salah sampai ia selalu berlaku kasar padaku. Aku kesal. Aku cemburu pada lelaki itu yang tak pernah diusirnya seperti ini.
Aku menjauh dengan langkah gontai. Di saat aku menjauh, lelaki itu malah semakin mendekat pada si Gadis. Aku mengumpat dalam hati. Kutatap si Lelaki setajam yang kubisa, tapi tak dihiraukannya.
“Eh, Rik,” lelaki itu memanggil canggung. Si Gadis mendongak. “Rik, aku... minta maaf.” Ucapnya pelan, sarat ketakutan. Aku berharap saat itu si Gadis membentak dan mengusir lelaki itu sama seperti ia membentak dan mengusirku barusan. Namun, sepertinya harapku hanya untaian kesia-siaan. Aku tahu ia pura-pura kaget dengan kedatangan si Lelaki, tergambar jelas di wajahnya bahwa ini memang hal yang telah dinantikannya. Aku kesal.
Gadis itu melirikku sebentar, tersenyum tipis. “Lupakan itu, Rik!” Mereka berpandangan, sesaat kemudian tergelak.
Untuk sebentar saja, suasana kecanggungan di antara mereka menguap. Tergantikan tawa yang meluluhkan ketegangan yang sempat menyelubungi keberadaan mereka.
Si Lelaki berhenti tertawa, “Sudah lama kita tidak memanggil nama masing-masing dengan ejaan yang sama.” Si Gadis tersenyum, seakan lupa akan air mata yang dulu sempat ditumpahkannya karena lelaki itu. Ah, mengapa hati wanita cepat sekali berubah?
Seharusnya gadis itu tak begitu saja mengatakan “lupakan”, apa dia tidak merasa sakit hati pada lelaki seperti itu? Firasatku tidak enak. Aku tidak ingin berpikir bahwa gadis itu masih mencintainya.
Aku terkejut ketika beberapa detik setelah tawa itu, si Gadis meneteskan air mata. Aku tidak menyangka ia akan menangis di sini, di depanku lagi, dan di depan lelaki kurang ajar itu. Membuatku bingung. Membuat lelaki itu pun canggung. Si Gadis menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajah, mencoba menyembunyikan tangisnya yang terlanjur pecah. Si Lelaki salah tingkah, berdiri dengan kalut. Ia menggaruk kepalanya dan tampak tengah memikirkan sesuatu dengan gugup.
“Aku-Aku-eh... perkenalkan, aku Erik dan kau?” Akhirnya sebuah suara berhasil keluar dari mulut lelaki itu. Si Gadis tampak sedikit tenang, tak lagi sesenggukan. Ragu, ia membuka telapak tangan dari wajah, menatap si Lelaki dengan mata sembab. Ia tersenyum canggung. Ih, aku jengkel tak pernah bisa membuatnya tersenyum seperti itu.
Lelaki bernama Erik itu mengulurkan tangan layaknya orang yang baru berkenalan. Si Gadis menatap tangan yang terulur itu, kemudian membalas jabat itu dengan senyum terkembang di wajahnya. “Na-namaku Rika. Senang bertemu denganmu,” Rika tertawa kecil, menimbulkan kelegaan di wajah Erik.
Hatiku hancur. Patah hati. Aku tahu yang sedang mereka lakukan. Itu adalah hal yang mereka lakukan dulu ketika pertama kali berkenalan di perpustakaan ini. Di depanku.
Rika mencoba menyeka air matanya yang tersisa, tapi Erik menghalanginya. Ia menggantikan tangan Rika, menyeka air mata dengan tangannya. Aku marah. Aku cemburu, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain berlari pergi. Menghindari cinta yang tak kurestui, berbunga kembali.
***
“Kau tahu? Khalil Gibran mengatakan api cinta adalah api abadi. Sesekali mungkin ia padam, tapi selalu kembali menyala, cukup dengan satu percikan kecil untuk menyulutnya kembali.” Erik berkata sambil menarik buku bersampul merah muda dari rak paling belakang.
Aku melirik Rika yang terlihat antusias dengan ucapan Erik. Semburat merah nampak samar menghiasi kedua pipinya.
“Aku tahu aku salah,” Erik duduk di samping Rika. Menatap Rika dalam, sambil meletakkan buku yang baru saja diambilnya. “Aku-aku tahu aku telah berlaku jahat dengan meninggalkanmu untuk gadis lain,” ia menggigit bibir, “aku minta maaf.” Sesalnya.
Rika menunduk, mungkin mencoba menerka perasaannya sendiri. Lama mereka bergelut dalam hening. Aku berdebar, berharap semoga mimpi burukku tidak menjadi kenyataan.
Rika menghela nafas. Pelan, tapi tenang. Seakan melepaskan segala beban berat yang selama ini dibawanya.
“Dan kau tahu?” Rika menatap Erik. Nafasku memburu. Aku ingin agar hari ini tak pernah ada dalam hidupku. “waktu selalu berjalan tanpa kompromi, merenggut apapun, siapapun, tanpa pernah sekalipun meminta persetujuan. Namun, waktu juga adalah obat, obat bagi lukaku dan penyesalanmu,” Aku meneguk ludah mendengar ucapan Rika yang mengalun lembut, tapi hampir merenggut kesadaranku. “seberapapun aku mencoba melangkah jauh, aku selalu kembali pada sosokmu.” Rika tersipu, Erik tak kalah bersemu. Aku lesu.
Mereka terdiam lagi untuk beberapa saat. Tersenyum-senyum sendiri. Membuat hidupku seolah berhenti.
Erik membuka buku bersampul merah muda itu, ia membuka lembar demi lembar dengan cepat. “Engkau telah mengikatku ke dalam dirimu, mengajarkan mataku untuk melihat, telingaku untuk mendengar, bibirku untuk berbicara, dan hatiku untuk mencintaimu,”  Erik membaca kalimat dalam buku itu, lalu terlihat akan memeluk Rika.
Aku tidak rela! Aku menjatuhkan diri. Muak! Menghalangi mereka yang akan berpelukan. Kuhempaskan tubuh ke pangkuan Rika. Rika menjerit histeris. Ia mengibaskan tangannya padaku, membuatku terlempar ke lantai, menggelepar. Aku segera tersadar ketika Erik menginjak ekorku, cepat-cepat aku melarikan diri dan membiarkan ekorku terputus. Aku berlari tunggang-langgang, sayup-sayup kudengar Rika mengumpatku.
“Dasar cicak kurang ajar!”

***
What do you think? :

12 comments:

  1. oh ternyata kmu toh cicak2 di dinding

    ReplyDelete
  2. Bhahaha... sampai di pertengahan Aku nanya. Dimana comedinya? Eh. Tau tau ada cicak di endingnya

    ReplyDelete
  3. Bhahaha... sampai di pertengahan Aku nanya. Dimana comedinya? Eh. Tau tau ada cicak di endingnya

    ReplyDelete
  4. hehe.. aku juga gak tau apa itu komedi wkwk

    ReplyDelete
  5. Sempat bertanya2 peran utamanya siapa? Dan saat di akhir kisah, ternyata, ah sudahlah 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkterima kasih sudah membaca :)

      Delete
  6. lah ternyata cicak haha bagus-bagus ga ketebak peran utamanya

    ReplyDelete
  7. Cicak kampret sampe mewakili perasaan temenku setelah di baca kan nyaring sama gebetannya kok ujung2nya cicak

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk 🀣🀣🀣
      sebelum dibaca keras keras, dibaca dalam hati dulu πŸ˜‚

      Delete

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

γ‚ˆγ‚γ—γ!

γ―γ˜γ‚γΎγ—γ¦ !

γƒ©γƒˆγƒŠγ‚Έγƒ₯ウィタです、γ‚ˆγ‚γ—γγŠι‘˜γ„γ—γΎγ™!
ε‚εŠ γ™γ‚‹γ“γ¨γ―γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†γ”γ–γ„γΎγ—γŸ。 \(^o^)/ ζ₯½γ—みてね 😘

友達にγͺろう πŸ˜ƒ

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maedaγ€€(前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com