Wednesday, March 16, 2016

Apresiasi Puisi - Sapardi Djoko Damono "Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari"

           Sapardi Djoko Damono "Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari"
Ratna Juwita

Puisi. Puisi menurut saya adalah rangkaian kata-kata yang terjalin indah dan memiliki makna yang menggambarkan apa yang tak sempat terucap oleh penyair. Tidak. Tentu salah apabila saya mengatakan bahwa puisi hanya diperuntukkan bagi para penyair terkemuka, atau orang-orang yang memiliki kandungan kata dan diksi yang luar biasa. Orang biasa tanpa pengetahuanpun asalkan ia dapat menggambarkan apa yang tengah dirasakannya menjadi sebuah puisi pun sudah jelas dapat membuat puisi. Namun, bedanya adalah apakah puisi itu bisa menjadi renungan dan diresapi banyak orang ataukah tidak.
Segala hal takkan pernah terlepas dari bagaimana hal itu berawal dan bagaimana hal itu bisa berkembang hingga sampai pada titik ini. Sama saja dengan puisi, puisi hingga bisa seperti sekarang ini telah mengalami banyak sekali perubahan terlampau era demi era. Dulu, puisi hanya berwujud mantra yang digunakan sebagai pemujaan untuk roh, dewa, ataupun kepercayaan lain yang dianut masyarakat jaman dahulu. Tapi, sekarang puisi berwujud bebas, indah, dan dapat dinikmati serta diapresiasi.
Pada era modern seperti sekarang ini, puisi dapat kita temukan dengan mudahnya di berbagai media cetak. Pada koran mingguan, maupun majalah, bahkan tabloid biasanya akan dengan mudah kita temukan puisi di dalamnya. Media-media percetakan saat ini sangat memudahkan para penyair-penyair muda yang ingin berkarya dan menerbitkan karyanya sehingga tidak hanya mendapatkan royalty, tapi juga membagi apa yang dirasakannya pada para pembaca.
Bahkan, kini lomba-lomba membuat karya sastra berbentuk puisi sudah sangat sering diadakan demi menggali bakat-bakat muda yang tak terjamah mata. Pada saat saya SMP, saya pernah mengikuti lomba puisi di sebuah universitas negeri di Malang dan saya menempatkan diri sebagai salah satu dari 10 orang penulis yang terpilih dari sekian ribu peserta untuk menempati predikat 10 besar pada lomba tersebut. Baru-baru ini saya juga mengikuti lomba menulis puisi yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan penerbitan untuk dimasukkan ke dalam antologi puisi bertajuk ‘Cinta Dalam Diam’.
Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa puisi di Indonesia kini sudah sangat dihargai, menulis puisi bukan hanya mudah, kita juga tak perlu menulis terlalu panjang untuk menciptakan sebuah puisi. Tapi, puisi terbaik yang takkan tertelan masa tentu memiliki kualitas diksi dan pendalaman makna yang sangat menawan dan menyita perasaan, apalagi pemikiran. Tidak sembarang orang bisa membuat puisi yang bagus, tapi semua orang memang bisa menciptakan puisinya sendiri, terlepas apakah puisi yang dihasilkan menjaring perhatian pembaca ataukah tidak.
Kemudian, mari kita tengok sejenak di internet sebagai media yang kini bisa dimanfaatkan siapa saja untuk mendapatkan apa saja. Apabila kita mencari di mesin pencari GOOGLE  pasti akan muncul banyak pilihan untuk kita memilah mana informasi yang paling tepat untuk kebutuhan kita. Pilihan-pilihan tersebut datang dari berbagai blog yang tersedia juga di internet, blog-blog itu dikelola oleh masing-masing orang yang ingin membagikan kepada banyak orang pengalaman, maupun informasi yang dimilikinya.
Dari blog-blog ini, bermunculanlah banyak karya-karya pribadi maupun karya para sastrawan terkenal yang dibagi, baik oleh orang-orang yang mungkin sudah dapat dikatakan sebagai ‘penyair’ yang telah banyak menerbitkan karyanya lewat berbagai media cetak, maupun para ‘penyair-penyair’ amatir yang ingin mempublikasikan karyanya lewat media elektronik, yang mungkin masih terlalu malu untuk dapat mengirimkannya ke media-media cetak.
Tidak hanya lewat berbagai media cetak maupun elektronik seperti yang telah saya sebutkan di atas, media pendukung lainnya dari bidang formal seperti sekolahpun sudah ikut andil banyak dalam menghasilkan bibit-bibit baru sebagai penyair. Prodi-prodi sastra telah ada di hampir semua universitas di Indonesia maupun dunia, yang berperan sangat penting dalam mengajarkan para penyair-penyair muda tentang cara untuk menghasilkan sebuah karya sastra yang bernilai.
Banyak sekali para sastrawan yang dapat dijadikan panutan dalam membuat karya sastra bernilai, dari era ke era, muncul satu persatu sastrawan-sastrawan terkemuka yang berperan penting dalam pembentukan karya sastra pada era sekarang ini. Mulai dari Amir Hamzah, sejak sebelum kemerdekaan, Chairil Anwar pada masa kemerdekaan, hingga sastrawan era 66 dengan puisi sedalam makna lautan dan sering dijuluki sebagai ‘sajak-sajak SDD’ yaitu Sapardi Djoko Darmono.
Sapardi Djoko Darmono dikenal sebagai sastrawan dan penyair yang memiliki kualitas puisi yang mengagumkan. Tiap baris puisi yang beliau tulis, masing-masing memiliki makna yang dalam tanpa celah, bahkan banyak puisi-puisinya yang ditangkup ke dalam bentuk lain yang disebut musikalisasi puisi. Diantara karya-karyanya adalah ‘Aku Ingin’, ‘Hujan Bulan Juni’, ‘Mata Pisau’, dan puisi yang akan saya ulas yaitu ‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’ yang beliau tulis pada sekitar tahun 1987.
Dilihat dari judulnya saja, puisi ini menarik perhatian karena jujur saja, saya tidak tau makna dibalik judul yang beliau torehkan ke dalam puisinya ini. Biasanya, judul mengekspresikan isi dari sebuah karya sastra yang mewakili apa yang terkandung di dalamnya, dari mulai cerpen, puisi, sampai novel pasti memiliki pemilihan judul yang berperan apik dalam mewakili isi yang dikandungnya. Tapi, berbeda dengan puisi ini. Dari mulai judul, kita seakan dituntut oleh Sapardi untuk menggali lebih dalam apa yang terkandung dibalik rangkaian kata-kata ini.
‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’. Saya berpikir ‘Berjalan ke barat’ berarti ‘menghadap ke arah kiblat’ dan mengapa beliau tak menggunakan kata ‘menghadap ke barat’ adalah karena ‘berjalan’ berarti mendekati tempat yang ingin kita tuju. Berbeda dengan hanya ‘menghadap’, kata ‘menghadap’ berarti meskipun kita menginginkan sesuatu, kita tak akan bisa mendapatkannya hanya dengan menghadapkan wajah kita padanya. Namun, ‘berjalan’ memiliki makna yang berbeda. Dengan ‘berjalan’ akan memungkikan kita untuk semakin mendekat dengan apa yang kita inginkan. ‘berjalan’ juga merupakan usaha dan untuk mendpatkan sesuatu yang kita inginkan, kita membutuhkan ‘usaha’ itu.
Sedangkan, mengapa saya menyimpulan ‘barat’ sebagai kiblat adalah kepribadian Sapardi Djoko Damono sendiri yang berlatar belakang sebagai orang yang religius. Beliau banyak menyebutkan mengenai firman Allah dan kata-kata lainnya yang memuja keagungan-Nya. Saya tidak menemukan arti lain ketika saya mencoba berpikir mengenai arti dari ‘barat’ kecuali ‘kiblat’, karena tak mungkin seorang Sapardi Djoko Damono menuliskan kata’barat’ tanpa kandungan makna yang tersisip di dalamnya.
Hal lain yang saya pertimbangkan dari judul yang beliau berikan pada puisinya ini adalah kata ‘Waktu Pagi Hari’. ‘Waktu Pagi Hari’ berarti ‘ketika matahari terbit’ dan sesuai teori ilmiah, matahari terbit sudah pasti dari sebelah timur. ‘Pagi Hari’ di sini juga tidak berarti ‘ketika matahari terbit’, bisa pula kita artikan ‘pagi hari’ di sini ketika benang putih di ufuk timur mulai merajut selendangnya, atau yang biasa kita sebut fajar. Fajar adalah waktu yang bisa kita sebut sebagai ‘pagi’ dan juga waktu ketika salah satu dari salat lima waktu dilaksanakan, yaitu ‘waktu subuh’.
Jadi, dapat kita simpulkan dari judul puisi yang saya ulas ini yaitu ‘Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari’ sebagai ‘Mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa ke arah kiblat sebelum matahari menyingsing’.
Pada bait pertama puisi ini setelah judul, terdapat rangkaian baris kata ‘Waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang’. Saya berpendapat bahwa barisan kata ini bermakna ‘Kala ku bersujud di hadapan-Mu di waktu subuh, cahaya menyelemutiku dari belakang tubuhku, hangat menerpa raga dan ruhku’. Saya menyimpulkan demikian karena ‘waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi’, saya artikan sebagai ‘bersujud kepada Yang Maha Kuasa di waktu subuh’ dan kata selanjutnya yaitu ‘matahari mengikutiku di belakang’.
‘Matahari’ saya artikan sebagai pencahayaan terang yang hangat, yaitu bagian dari kerendahan hati seorang hamba yang bersujud di hadapan Tuhannya. Hal ini hanya terjadi apabila manusia telah begitu pasrah beribadah kepada Tuhan yang menciptakannya, memberikan kenikmatan dunia dan segala isinya. ‘Matahari’ di sini sebagai simbol terang usai kegelapan yang menyergap jiwa.
Kemudian kata ‘mengikutiku’ yang saya definisikan sebagai ‘menyelimuti ruhku’. Kata ‘mengikuti’ apabila kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari akan bermakna sesuatu yang ‘melakukan apa yang kita lakukan’, tapi saya mengambil kesimpulan lain bahwa ‘mengikuti’ di sini adalah ‘menemani’ yang apabila digabungkan dengan pemaknaan yang sebelumnya dapat pula menjadi kata ‘menyelimutiku’, ‘memberikan terang padaku’.
Dan kata ‘di belakang’ yang saya artikan ‘dari hal yang sebelumnya tak dapat kulihat’. Biasanya, orang normal takkan bisa melihat bagian belakang, kecuali dengan menoleh, itupun takkan menghasilkan penglihatan yang sempurna pada tubuh bagian belakang. Berarti, ‘cahaya itu datang dari tempat yang tak terlihat’. ‘Cahaya itu menyelimutiku, memberikan kehangatan pada jiwa dan ruhku dari tempat yang sebelumnya tak kujamah’. Mungkin, hal ini berarti Sapardi mendapatkan ilham dari ibadaha yang dilakukannya, yang dulu mungkin ia bukanlah orang yang cucukp religius, tapi segera setelah ia kembali pada Yang Maha Kuasa, ia diselimuti cahaya  yang sebelumnya ia tak pernah coba untuk meraihnya.
Bait selanjutnya berisi ‘Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang ke depan’, saya artikan bahwa Sapardi ingin mengungkapkan kalau ia tak memiliki tujuan lain selain mengikuti bayang-bayangnya. ‘Bayang-bayang’ ini dapat digambarkan sebagai ‘dirinya yang  lain’ entah itu sisi gelapnya ataukah sisi baiknya. Yang jelas, bayangan itu seperti cermin, walaupun tak setegas bagaimana cermin menggambarkan seseorang yang ‘sebenarnya’, ‘bayangan’ juga mewakili apa yang ‘diserupainya’.
‘Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri’. Mengapa ia tak mencari tujuannya sendiri? Dalam kalimat itu tak disebutkan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat, karena ia bergerak berdasarkan gerak bayangannya. Namun, permasalahannya di sini adalah bahwa bayangan takkan bergerak apabila ‘yang dibayanginya’ tak bergerak. Otomatis, apabila Supardi menggambarkan dirinya berdiam diri saja, bayangannya pun tak dapat menunjukkan padanya apa-apa.
Pada kalimat ini, ia seakan seperti orang yang linglung. Bagaimana bisa secara logika, sumber dari bayangan bergerak mengikuti bayangannya? Saya menyimpulkan dari permasalahan yang saya sebutkan, bahwa Sapardi ‘memiliki tujuan’ sekalipun ia mengatakan ‘mengikuti bayang-bayangku sendiri’. Ia bergerak, menuju tempat ke arah barat, dimana matahari menyinarinya dari timur dan membuatnya bayang-bayangnya berada di depannya lalu menyimpulkan bahwa ia ‘seperti’ berjalan mengikuti bayangannya, karena bayangannyalah yang berada di depan.
‘Yang memanjang ke depan’ sudah jelas menandakan bahwa cahaya dari timur akan menyebabkan munculnya bayangan sesuatu yang terletak di sebelah barat. Sapardi tau, tujuannya adalah ‘mendekat’ pada Sang Ilahi, ia bergerak sesuai nurani dan jiwanya, bersujud dan ingin selalu lebih ‘dekat’, ia bergerak maju, lebih khusyu’, seolah dialah yang mengikuti bayangannya. ‘Bayangan’ pula, dapat diartikan sebagai rentetan kisah masa lalu yang kemungkinan besar berisi dosa, karena kodrat manusia yang tak akan pernah luput dari dosa.
Ia berjalan mengikuti bayang-bayangnya, mengungkap serentetan kisah masa lalunya, berharap memeohon ampunan dari Yang Maha Kuasa, seolah, memang jalinan kisah dosa itulah yang menuntunnya pada imannya sekarang. Ia menyesali apa yang luput dari sadarnya, apa yang khilaf dari lakunya.
Lalu pada baris ketiga tertulis ‘aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang’. Saya mengambil kesimpulan bahwa kalimat ini berarti, ia dan cahaya yang kini menyelimuti batinnya dengan iman, ‘tak bertengkar’ mengenai salah siapa kisah-kisah yang mungkin berupa rentetan dosa itu terjadi. Mereka tak berebut bayang, yang berarti mereka saling memiliki. Tanpa serentetan kisah itu, ia takkan berada pada jiwanya yang sekarang yang mungkin di rasa nyaman dilubuknya karena itulah apa yang telah terjadi adalah khilaf, yang selanjutnya adalah tobat untuk mencapai iman yang sebenarnya.
Kata ‘tak bertengkar’ yang tercantum dalam baris kalimat itu berarti ‘tidak menimbulkan masalah’, jelas bahwa tidak berarti ‘bayang-bayang’ itu meninggalkan penyesalan berlarut-larut yang dapat menyebabkan hilangnya logika orang yang ingin bertaubat. Ia menerima cahaya itu dan di waktu yang sama, ia bersyukur atas dosa yang diperbuatnya dulu.
Pada baris terakhir, ‘aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan’. Ini saya simpulkan sebagai ‘tak masalah siapa yang memulai untuk bertaubat antara aku dan kisah masa laluku’. Ia berdiri di belakang bayang-bayang, tak berarti bayang-bayang memimpin dan memerintah apa yang dilakukannya, sebaliknya dia sendirilah yang menentukan dan memutuskan apa yang ingin dan harus diperbuat oleh dirinya sendiri. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa bayang-bayang ada mengikuti apa yang dibayanginya, apabila sesuatu yang dibayanginya bergerak, bayang-bayang pun juga akan ikut bergerak dan berpindah tempat, kalaupun sesuatu yang dibayanginya diam, takkan ada kesempatan baginya untuk dapat merubah posisi kecuali sumber cahayanyalah yang merubah posisi bayang-bayang itu.
Jadi, kesimpulan pada bait terakhir ini adalah ‘Kau dan aku sama-sama berperan dalam perjalanan iman ini’.
Secara keseluruhan, puisi ini seperti puisi-puisi lainnya, sangat menguras pikiran pembaca untuk lebih memahami apa sebenarnya yang dirasakan oleh penulis dan ingin disampaikannya kepada pembaca. Puisi seperti ini memang sangat menarik untuk diapresiasi mengenai bagaimana menurut apresiator mengenai makna sebenarnya yang terkandung dalam puisi tersebut.
Kelemahannya, puisi seperti ini seringkali menimbulkan multi tafsir bagi pembaca dan apresiator, tentu saja tergantung bagaimana setiap orang memaknai puisi ini. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai pendapatnya tentang sebuah puisi, terlebih puisi semacam ini yang sangat terkenal karena penulisnya yang ‘memiliki makna dalam di setiap kata yang ditulisnya dalam puisi ciptaannya’. Sapardi Djoko Damono.
Dilihat dari sudut pandang diksi, puisi ini tergolong puisi dengan kata yang cukup padat, memang di dalam puisi ini terdapat banyak pengulangan kata, namun dengan intensitas makna yang berbeda, sehingga menghasilkan pemikiran yang berbeda pula walaupun dengan kata yang sama. Apabila dijadikan musikalisasi puisi, puisi ini tergolong puisi yang cocok untuk itu. Kata-kata yang terekam dalam puisi ini memiliki makna yang dalam dan bahasa yang pas untuk dijadikan sebuah lagu.


What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com