Wednesday, March 16, 2016

Curhatan - Seberkas Masa Lalu karena Pembully-an



Seberkas Masa Lalu karena Pem-bully-an
Ratna Juwita

Bully. Siapa yang tak mengenal arti kata itu? Di zaman seperti sekarang ini, kata itu bukan lagi hal yang asing mengingat maraknya kasus yang digonjang-ganjingkan sebagai ‘pem-bully-an’.
Tentu tidak semua orang mengalaminya, tapi entah bagaimana aku adalah salah satu dari korban pem-bully-an itu. Aku tidak sedang meracuni pembaca dengan berbagai atraksi lewat tulisan mengenai ‘Stop Bullying!’. Aku hanya ingin berbagi rasa mengenai pengalaman pem-bully-an itu.
Saat itu aku masih duduk di bangku SMP, masih cukup kecil di mata orang tua, tapi tidak cukup kecil untuk mulai merasakan ‘cinta monyet’. Aku bukanlah tipe orang yang mudah bersosialisasi, tapi tidak juga anti-sosial. Bisa dikatakan juga aku adalah seorang anak yang penakut, cukup penakut sampai-sampai aku harus merencanakan dahulu untuk berkenalan dengan teman-teman sekelas. Misal, waktu itu aku meyakinkan diri bahkan sampai sepuluh kali untuk membalik badan dan memerlukan cukup banyak pertimbangan untuk mengatakan,”Salam kenal! Namaku...”
Kehidupanku di kelas tujuh tergolong manis. Setidaknya berjalan cukup baik, meskipun tanda-tanda anak labil seperti anak SMP pada umumnya masih sangat terasa. Aku memiliki tiga orang teman dekat waktu itu, dan sangat dekat dengan salah satunya. Mereka teman-teman yang baik, namun perilaku yang ambisius dariku membuat semuanya terlihat buruk. Aku selalu menaruh rasa iri pada teman terdekatku itu karena dia selalu mendapatkan nilai yang lebih tinggi dariku.
Jujur saja, aku adalah murid yang cukup berprestasi di SD dan masuk di SMP favorit di kota. Hal itu, mau tidak mau, secara langsung membuat kesombongan tumbuh dan berkembang dalam hati. Apalagi untuk anak seusiaku. Seperti di SD, aku jarang belajar meskipun mendapatkan nilai yang baik dan juara kelas, namun di SMP terasa berbeda, pelajaran terasa sulit dan tak mungkin dilalui tanpa belajar. Tapi karena terbiasa dari SD, aku jarang belajar dan sering tidah mengetahui bahwa ada ulangan di hari tersebut. Akibatnya dapat ditebak dengan mudah, menjadi murid pas-pasan.
Berada di sekolah favorit membuatku tertekan dengan teman-teman yang memang berasal dari SD yang bagus, lolos seleksi masuk dengan nilai yang tidak main-main pula. Aku yang masih kecil itu tak menyadarinya dan terbawa arus begitu saja.
Sampai di semester dua, kami berempat terpisah. Lebih spesifiknya, aku yang terpisah dari mereka akibat pengurangan kuota kelas, sehingga dibentuk kelas baru. Di sana aku sering sendirian, entah karena sifat atau ketidakmampuanku menerima pelajaran dengan baik saat itu, aku tidak memiliki teman dekat. Semua menjadi teman biasa dan aku tetap menjadi orang biasa yang sendirian.
Mungkin sejak itu pikiran individualisku mulai tebentuk dan aku semakin sulit bersosialisasi, walaupun aku tidak sulit untuk mengakrabkan diri dengan orang baru. Bahkan, bisa dibilang aku cukup supel, namun keadaan terkadang terasa seperti menghimpit yang kemudian memaksaku menjadi orang yang sulit bersosialisasi di lingkungan yang baru.
Masuk di kelas delapan, entah karena nasib atau takdir, atau garis tangan, atau jalan Tuhan, atau apalah aku sekelas dengan anak-anak laki-laki yang suka mem-bully. Alasan? Seharusnya itu ditanyakan pada mereka, bukan aku. Tapi aku akan menjawabnya karena mereka takkan mungkin menjawabnya saat ini. Ya, karena aku jelek. As simple as that.
Awalnya, mereka terkesan biasa dan aku pun memiliki sahabat baru, sebut saja A. Namun, aku juga tidak tahu sejak kapan, mereka mulai mengeluarkan gerakan-gerakan aneh(?). di SD aku menjadi anak emas guru-guru di sekolah karena prestasiku, bahkan anak-anak cowok di sekolahku saat itu takut padaku karena aku masuk dalam ekstrakulikuler karate, serta disayang dan sering diamanahi oleh guru untuk mengatur kelas ketika guru tidak ada.
Tentu saja tak pernah terpikirkan olehku bahwa aku akan mendapat perlakuan yang seperti itu. Anak-anak cowok itu bahkan tidak mau duduk di samping, belakang, ataupun depanku. Tidak dimanapun yang berdekatan denganku. Aku mulai bertanya-tanya, ada apa dengan mereka? Apakah aku melakukan hal yang salah?
Mereka juga sering menertawakanku dengan lelucon yang tak terjamah telinga, bahkan ketika sedang melaksanakan upacara, mereka tak ada yang mau berdiri di sampingku meskipun hanya berbaris. Hanya berbaris.
Sahabatku, si A, juga tidak disukai di kelas. Bedanya aku tidak disukai hanya oleh anak-anak cowok saja, sedangkan sahabatku tidak disukai oleh hampir seluruh anak di kelas, alasanya karena sahabatku itu hiperaktif, suka semaunya sendiri—walaupun sebenarnya tidak mengganggu mereka juga setelah kupikir-pikir—, dsb. Tapi tidak sepertiku, sahabatku memiliki paras yang cukup cantik, setidaknya cukup cantik untuk terhindar dari bully-an anak-anak cowok di kelasku karena alasan jelek.
Akhirnya, kami selalu berdua, bahkan persahabatan kami termasuk erat, walaupun tak jarang aku dan dia bertengkar, saling diam, atau bahkan saling mengganggu. Tak jarang juga aku merasa kesal padanya sama seperti anak lain di kelas karena terkadang aku sulit mempercayai cerita-ceritanya. Bagiku, cerita-ceritanya terasa terlalu fantastis untuk dia saat itu, mengenai dia dan dua anggota gengnya di kampung yang menjadi primadona lelaki di kampungnya, dia dan dua anggota gengnya yang suka tampil di panggung dan melakukan modern dance hingga banyak cowok-cowok yang mengejarnya. Ah, pokoknya sulit kuterima saat itu jika melihat perilakunya. Tapi tetap saja kami sahabat baik saat itu.
Pernah suatu ketika aku berjalan di koridor menuju perpustakaan, dari jauh terlihat salah satu dari anak cowok yang suka mem-bully-ku, tapi aku tak bisa berbalik. Aku tetap melangkah meski dengan perasaan takut. Bisa ditebak, dia melihatku seolah dia kaget sambil mengucapkan, “Astaghfirullahhal’adzim!” Sambil berjingkat, menghindariku, seolah baru saja melihat sesuatu yang mengerikan di depan matanya.
Sungguh aku merasa frustasi saat itu, tekanan batin. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan untuk menghadapi mereka. Yang tumbuh dalam hatiku selanjutnya hanya kebencian yang mendalam pada mereka. Aku menangis. Menangis dalam setiap sujud, mengadukan segalanya pada Allah. Masih, kucoba sembunyinkan tangisan itu dari kedua orangtuaku karena aku tak ingin mereka khawatir padaku.
Tapi sepertinya kesabaranku itu pun berbatas, tak bisa selamanya aku sembunyikan dari orangtuaku. Saat itu, dengan segala pertimbangan dan mengukuhkan air mata agar tak menetes, aku mencoba membantu ibu melipat baju yang telah kering. Kami menonton tv, begitu juga ayah yang melakukannya sambil menjaga toko, satu-satunya pekerjaan ayah dan ibuku. Sebuah toko di samping rumah. Tidak begitu kecil dan tidak juga besar, namun cukup untuk membiayai hidup keluarga kami.
Waktu itu, tak satupun dialog dari para aktor dan aktris sinetron kesukaan keluarga kami yang berhasil masuk ke otak. Semuanya hanya terasa hampa dan kosong. Air mataku berulang kali ingin membanjir keluar ketika aku berusaha mengatakannya pada ibuku.
Akhirnya, ketika aku merasa telah cukup mampu mengutarakan semuanya, aku bertanya, “Bu, apakah aku jelek?” Seiring dengan berakhirnya kata-kata itu, air mataku menggenang, tak mampu lagi dibendung.
Ibu menatapku, “Tentu saja tidak. Ada apa? Apa kau diejek teman-temanmu?”
Air mataku turun dengan derasnya menyebrangi pipi. Aku menceritakan semuanya, segalanya hingga tak ada lagi yang bersisa. Ibu dan ayah memberikanku nasihat-nasihat setelah aku berhasil menceritakannya dengan berlinang duka tak berkesudahan. Meski begitu tetap, dadaku terasa sangat sakit ketika mengingatnya. Mengingat semua kenangan kelam itu.
Hal itu terjadi hingga aku lulus dan berhasil membuatku mengidap ‘Androphobia’. Aku sangat takut saat itu dengan lelaki, menjadi pesimis, dan minder. Aku takut dipandang sebelah mata. Aku takut dicemooh lagi, aku takut dihina. Aku selalu menghindari kerumunan cowok dan berusaha sebisa mungkin untuk menjauh dari makhluk bernama cowok.
Aku selalu bertanya dalam hati, apa salahku? Bukan aku yang meminta untuk diberi wajah seperti ini, Allah memberikanku. Meminjamiku raga secara cuma-cuma, lalu apa yang salah dari semua itu? Kenapa aku? Selalu hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang menggenang dan tak pernah kering di otak.
Aku tak pernah menyesal tidak dilahirkan cantik. Mungkin hanya satu banding seribu orang atau lebih yang mengatakan aku cantik. Aku tahu dan sangat mengerti. Yang tak kutahu, bagian mana dari diriku yang patut untuk disalahkan? Apakah aku harus mendurhakai Allah dan meluapkan segala sakit hati karena takdir-Nya? Aku tak bisa, tak mampu. Tapi hal yang paling menyakitkan bagiku adalah melihat kesedihan orangtua. Bagaimana kira-kira perasaan orangtuaku ketika aku menceritakan semuanya? Apakah kemudian mereka selalu memikirkan masalah itu bahkan setiap waktu mereka bekerja? Aku tidak tahu dan tak pernah tahu. Karena aku tidak tahu, aku berharap aku tak pernah mengalaminya lagi.
Aku ingin cukup aku yang merasa semua kesedihan itu, bukan orangtuaku. Masih kuberusaha menyembunyikan segala resah dan tangis yang tak pernah berhenti memaki dalam senyap, dalam sujud, dalam sepertiga malam. Harap luka itu suatu saat dapat sembuh. Sungguh bukan belas kasihan yang kuinginkan, aku tak akan pernah membutuhkannya. Tapi sakit, sungguh sakit rasanya diolok, diejek karena rupaku yang tak cantik. Pun sampai sekarang luka itu tak pernah kering, aku sensitif pada kata-kata jelek atau bahkan hanya kata ‘tampang-tampangmu’, sudah mampu menarik keluar air mataku, mengingat kembali ke masa lalu yang terus kucoba maafkan.
Dalam dzikirku, kurenungi diri. Kucoba terima, meski yang kulakukan hanya mengamini bahwa aku memang jelek. Sudah kucoba memaafkan masa lalu itu berkali-kali dan berhasil, tapi sebanyak itu pula gagal. Duka itu terus dan terus menghantui diri. Kapankah kan kutemu cahaya damai itu? Lepas dari jerat tangis ketika mengingatnya? Aku ingin tahu kapan. Pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.
Bahkan hingga saat ini aku masuk ke perguruan tinggi, rasa sakit itu masih bercokol dalam dada. Tidak bisa hilang. Meskipun saat ini aku sudah mulai berani dibonceng cowok (karena ada keperluan) ataupun berbicara bebas dengan mereka. Fantasi masa remaja yang seharusnya merasakan ‘cinta monyet’ itu lebur dalam kenangan pahit yang memuakkan. Namun, aku sampai kini terus percaya segala sesuatu itu ada hikmahnya.

Misalkan saat itu aku tidak dibully, mungkin saat ini aku bernasib sama dengan kebanyakan cewek yang pacaran dan gonta-ganti pasangan, nempel kesana dan kemari. Pun aku tak tahu bisakah aku bangkit seperti yang kulakukan saat ini, berprestasi di SMA dan masuk perguruan tinggi favorit di Indonesia, aku tak pernah tahu. Tak ada yang tahu. Aku bersyukur untuk itu, pengalaman tak terlupakan yang paling tebal saraf ingatannya di otakku itu, memberi hikmah besar sekaligus menggali lubang paling dalam di hati. Tapi tetap, sampai saat ini tujuanku satu. Bahagia orang tuaku. Tak pernah kurang dari itu.
What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com