Saturday, September 24, 2016

Dan Apakah yang Bisa Kulakukan Untuk Suriah?



    (Omran, seorang anak Suriah yang termenung dalam ambulans usai terjadi serangan)


Dan apakah yang bisa kulakukan untuk Suriah? Sedang di Garut pun kini pertiwi sedang meradang. Diri terluka dalam kehidupan yang penuh tawa. Aku melupakan saudara-saudaraku yang berjuang mempertahankan diri di antara tank-tank dan rudal yang menggetarkan tanah.
Ketika terasa diri cukup pengecut untuk berjihad di jalan-Nya dan atas nama kemanusiaan, masihkan tersisa hal yang dapat kulakukan untuk mereka? Banyak hal yang dapat kulakukan untuk mereka, dalam bentuk apa? Lagi, pertanyaan menggenang dalam ego yang terus menggigil dalam takut dan iba. Nurani yang tergedor karena mereka yang tak dapat lelap dalam tidur malamnya. 
Tak dapat terbayang serumit apa perasaan mereka. Mata berkedip di antara reruntuhan, debu, dan ketakutan. Mungkin frustasi menjelma moster yang kian membesar dalam benak mereka. Semoga Allah selalu melimpahi mereka dengan rahmat tak berkesudah, serta pahala atas segala kesabaran yang mereka kokohkan dengan duka dan lara.
Sedangkan di sisi ini, dengki kadang merambah, berebut kuasa, benci yang tak terinci sebab logis, dan segala bentuk keegoisan lainnya. Pertikaian tak berujung di atas kehidupan yang seharusnya disyukuri karena kedamaian.
Bergerak. Tubuh dan pikir harus menyisa sedikit tenaga dan akal untuk membantu mereka yang sedang tergenang dalam lara. Tidak bisa tidak.
Dan adakah yang bisa kulakukan untuk mereka?
Ada.
Banyak.
Tidak hanya aku. Kamu. Kita.
Atas segala syukur yang terpanjat akan kedamaian yang menghias dalam kehidupan, kita harus bergerak. Banyak link donasi untuk menyalurkan bantuan pada mereka. Meski beberapa receh rupiah atau lembaran merah dan biru yang terasa besar untuk disumbangkan, percayalah itu tak seberapa dibandingkan penderitaan yang sampai saat ini mereka rasakan. Membayangkan tank-tank yang saban waktu dapat menembakkan pelurunya dan rudal-rudal dari udara yang dapat meluluh-lantahkan raga dalam satu kedipan mata, itu tak seberapa.
Sebab mereka hidup dalam gelimang duka, kita harus bertindak. Mereka bertahan hidup dengan makanan yang seperti sampah; belalang, rumput. Demi mengukuhkan ruh dalam tubuh, mereka berjibaku dalam nestapa. Tak hanya diserang secara fisik, mental dan psikologis mereka pun sedang berjuang dalam ketakutan dan ketidaknyamanan di tiap hela napas.
Anak-anak yang tak tertawa seperti seharusnya, tak menggambar gunung atau lautan, melainkan tank, reruntuhan, dan makanan. Sungguh, adakah kita hanya berdiam diri?
Kita bisa melakukan hal-hal mudah seperti menyebarkan berita mereka agar banyak orang tahu dan terketuk untuk membantu. Selain menyumbangkan uang dan baju, atau bentuk materiil lainnya, kita bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan, dan segala bentuk donasi yang lain. Banyak hal yang dapat kita lakukan sekalipun tak langsung berada di sana, setidaknya kita melakukan sesuatu dan berniat meringankan beban mereka.
Adakah sekarang kita tergerak membantu mereka?


What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com