Sunday, October 23, 2016

Cerpen Fantasi Romantis - TERIMA KASIH ("VAMPIR" bagian 1)

TERIMA KASIH
Ratna Juwita




Dua kata yang mudah terucap itu, mengapa menjadi rumus yang rumit saat tertuju untukmu?

Cutter yang kugenggam erat mendadak terasa sangat dingin. Ujung jari-jemariku berubah menjadi putih karena kupaksa mengganggam dengan sangat erat. Jantungku berdegup sangat kencang, senada dengan embusan napas yang memburu. Aku tidak mau tahu berapa banyak oksigen yang berebut masuk ke dalam paru-paru yang sebentar lagi akan berhenti.
Sesak. Dadaku mendidih karena ketidakmampuanku menerima ketidakadilan di dunia ini. Adakah dunia lain di sana yang lebih bisa menerimaku dengann utuh? Adakah dunia lain di sana yang lebih bisa membuatku tertawa dan mengecap sedikit saja bahagia?
Setelah ayah dan ibuku bercerai, aku tak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini selain melihat mereka kembali bersama. Kebahagiaan apalagi yang ingin direbut dariku? Kebahagiaan masa remaja yang kuimpikan seolah raib, direnggut waktu yang terus bergerak dengan dingin. Tak berperasaan. Adakah kutemu dunia lain yang lebih indah? Dimanapun, aku ingin ke sana.
Darah menetes perlahan dari pergelangan tangan. Bercampur dengan air asin yang keluar dari kelenjar lakrimal mataku. Membaur, menelanjangiku dengan kesedihan yang sudah menggerogoti jiwa. Mataku berkunang. Perih. Sangat sakit. Kutatap nanar cutter yang telah menancap di pergelangan tangan. Mendadak, ketakutan menyeruak ke dalam setiap inci tubuh. Takut. Sekelilingku menghitam, perlahan menyelubungi dan hendak menenggelamkanku.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Sebuah tangan menggenggam erat pergelanganku, entah darimana. Kabut hitam yang tadi menyelubungi, tiba-tiba pergi perlahan. Samar, kulihat seseorang berdiri di hadapanku, mengambil cutter yang menancap di pergelangan tangan dan menatapku dingin. Sangat dingin. Matanya merah dengan taring yang muncul di kedua sudut bibirnya. Sedetik kemudian, segalanya berangsur gelap.
***
“Kau tahu? Kudengar Rhean adalah seorang vampir!” Sebuah suara yang sangat kukenal, memaksa masuk gendang telinga. Mengusikku.
Vampir? Mitos mana yang sedang mereka bicarakan itu? Aku melirik ke arah Niela yang sedang bergerombol dengan sahabat-sahabatnya. Mereka adalah gerombolan tukang gosip yang kebetulan cantik. Aku menghela napas, menatap lekat lagi pergelangan tangan yang beberapa hari lalu kulukai dengan cutter. Sampai sekarang, aku tidak pernah tahu sosok yang saat itu datang dan menggagalkan rencanaku. Sekarang, luka itu terasa sangat perih sampai-sampai aku tidak ingin menggerakkannya untuk apapun.
“Ha? Masa?”
“Iya, katanya ada yang melihatnya beberapa hari lalu. Dia memiliki taring dan matanya berwarna merah!”
Aku menegakkan badan. Hampir terasa lebam dadaku karena debaran jantung yang terpacu. Rhean? Aku tidak berani memalingkan wajah ke belakang; tempat Rhean biasa duduk. Bulu kudukku mendadak berdiri, seseorang tengah memandangiku entah darimana. Tenggorokanku terasa kering dan ludahku surut.
“Pak Leon sudah datang!”
Teman-teman sekelasku langsung berhamburan masuk ke dalam kelas dan langsung menempati tempat duduknya masing-masing, tak terkecuali Niela dan gerombolannya. Sejenak, aku merasa bisa bernapas lega, meski masih tak nyaman dengan perasaan ini. Tiba-tiba mataku berkunang-kunang lagi, kusembunyikan muka segera di balik buku yang kuatur berdiri. Mungkin efek kehilangan banyak darah, ditambah tekanan dan debar jantung tak menentu tadi telah memengaruhi kondisiku.
Suasana berubah menjadi hening di dalam kepala, meski hatiku sedang berkecamuk. Aku tidak ingin membayangkan lagi rumah yang selalu sepi setiap pulang sekolah. Aku tidak ingin membayangkan teman-teman yang selalu berusaha membuatku seolah tidak pernah ada. Aku tidak ingin memikirkan dunia lain yang mungkin lebih bisa menerimaku yang seperti ini. Aku hanya ingin diam, sebentar saja.
“Fiola! Jangan tidur di dalam kelas!” Aku tersentak mendengar teriakan yang ditujukan kepadaku. Aku menegakkan tubuh dengan perlahan, mengintip wajah Pak Leon yang sudah berubah menjadi merah.
“Saya tidak tidur, Pak,” elakku. Memang aku tidak tidur.
“Jangan membantah! Sudah jelas-jelas kamu tidur!”
“Tidak, Pak—“
“Fiola!” Bibirku langsung mengatup. Bungkam. Teriakan Pak Leon bisa terdengar bahkan sampai ujung lorong sekalipun. “Kamu jangan seenaknya di kelas saya! Lihatlah nilai-nilaimu, tidak ada satupun yang memuaskan. Apa ibumu tidak mengajarkanmu di rumah, hah? Kemana ibumu?”
            Bahuku menegang. Mengapa Pak Leon jadi membawa-bawa ibuku? Aku paling tidak suka masalah keluargaku diungkit-diungkit di dalam kelas.
“Ibu saya pulang malam, jadi—“
“Kemana saja ibumu sampai pulang malam? Apa berangkatnya juga pagi-pagi? Ibumu bekerja apa?” Pak Leon terus menyerangku dengan berbagai pertanyaan yang tak mampu kujawab sepatah kata pun.
Dadaku terasa sesak. Air mataku menggenang di pelupuk, kugigit bibir bawah agar ia tidak terjun bebas melintasi pipi. Aku tidak ingin dicap sebagai anak yang cengeng. Sudah cukup mereka tak menganggapku, aku tak ingin mereka memberi embel-embel ejekan yang menyakitkan.
“Ibunya pergi sama laki-laki lain kali, Pak!” celetuk Niela. Hatiku sudah berada pada tahap nyeri, aku memandangnya nanar.
“Apa setelah bercerai dari ayahmu, ibumu bekerja sebagai—“
BRAK!
Spontan, semua kepala menoleh ke sumber suara yang berasal dari belakang. Rhean. Dia mendekapkan kedua tangan di depan dada, kaki kanannya setengah terangkat ke udara karena menendang meja yang kini telah tergeletak di atas lantai.
“Rhean, apa yang kamu—“
“Pak, apa sekolah ini mengajarkan bully sebagai salah satu materinya? Bapak belajar menjadi pem-bully sejak umur berapa? Ada murid yang sedang goncang karena keluarga yang kurang harmonis, tapi Bapak malah mencecarnya dengan banyak pertanyaan yang menyudutkan. Apa Bapak yakin, Bapak seorang guru?” Rhean kemudian melirik ke arah Niela, “Dan kamu tukang gosip, jagalah mulutmu dari berbicara yang tidak perlu!”
Kelas berubah hening. Hening yang suram dan tegang. Detik berikutnya, Pak Leon mengeluarkan Rhean dari kelas.
***
Aku mengambil kaleng minuman yang terjatuh dari mesin penjual otomatis. Otakku masih linglung karena kejadian di kelas tadi, sedangkan Rhean tak terlihat dimana pun. Aku merasa harus berterima kasih padanya karena telah berusaha membelaku, walaupun pada akhirnya dia dikeluarkan dari kelas. Rhean. Mengeja nama itu membuatku bergidik teringat akan perkataan Niela tentang dia yang sebenarnya seorang vampir. Aku tidak ingin mempercayai hal itu begitu saja, tapi di sisi lain aku juga tak mampu menyangkal. Bisa saja sosok bertaring dan bermata merah yang kulihat samar-samar saat aku sekarat saat itu benar-benar Rhean.
Aku menggelengkan kepala cepat, mencoba mengusir segala pemikiran rumit yang selalu bertumpuk. Sudah cukup masalah keluarga yang pelik dan teman-teman yang memuakkan, membuatku tak ingin lagi hidup di dunia ini. Tidak ditambah dengan Rhean seorang vampir. Kuteguk habis isi kaleng minuman itu hingga tak bersisa. Aku berniat melemparkan kaleng itu ke keranjang sampah di depan jendela, saat kulihat Rhean berjalan keluar sekolah. Entah naluri apa yang menggiringku untuk mengikutinya diam-diam.
***
Kaleng yang ternyata belum sempat kubuang, terjatuh. Suara dentingannya berhasil mengagetkanku dan mungkin juga Rhean. Tubuhku mematung di balik dinding tanpa berani mencoba menengok ke arah manapun. Keringat dingin menyelimuti tubuh, menetes deras dari dahi. Jantungku kebat-kebit untuk kesekian kali hari ini, membuat otot kakiku terasa lemas. Aku ingin lari, tapi tidak bisa. Pun pita suaraku raib, tenggorokanku mengering seketika.
Kudengar langkah kaki mendekat. Napasku tertahan tanpa sadar, seolah suara embusan napas pun bisa membuatnya menyadari keberadaanku. Namun, semua itu sia-sia saat beberapa detik kemudian Rhean telah berdiri di hadapanku. Aku terpaksa membekap mulut agar tak berteriak saat kutatap mata Rhean yang berwarna merah dengan taring di kedua sudut bibirnya.
Keheningan yang menyusup di antara kami seolah membuat degup jantungku terdengar sangat keras. Bahkan, lebih keras dari suara klakson kendaraan yang berlalu lalang di ujung gang. Sial. Aku mengumpat dalam hati. Aku menyesali kaki yang seenak jidat bergerak kesana kemari mengikuti langkah Rhean. Aku tidak bisa lupa cara Rhean menangkap kucing yang lewat, kemudian ... aku meneguk ludah yang berasa seperti pasir.
Rhean menatapku tajam. Dingin. Membuatku benar-benar yakin bahwa dialah yang berada di gudang sekolah waktu itu ketika aku sekarat. Mata dan taring itu. Kematian seolah sedang mengintaiku lewat tatapannya. Takut. Lebih takut daripada merasakan sakit di pergelangan tanganku saat ini. Air mataku mengalir, tak mampu lagi terbendung. Tubuhku gemetar. Namun tanpa diduga, Rhean memalingkan wajahnya. Dia berbalik membelakangiku, seolah bersiap pergi. Aku takut, bibirku bergetar, tapi ada nyeri yang lain di dada.
“Rhe—“
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Aku terdiam. Kosakata seolah berebut lari dari jeruji memori, menelanjangi otakku tanpa satu huruf pun tersisa. Kalimat tanya itu, strukturnya memang sama persis, tapi nada yang digunakannya sama sekali berbeda. Meskipun aku tidak tahu letak perbedaannya. Kemudian, pembicaraan singkat itu berakhir dengan pertanyaan mudah yang tak mampu kutemukan jawabannya.
***
Esoknya, aku kembali ke gang yang sama. Gang yang sepi dan buntu. Tak kupedulikan rasa takut yang selalu menuntut agar tak kulangkahkan kaki ke sana. Aku ingin bertemu Rhean. Hari ini dia tidak masuk sekolah karena skors. Mungkin Pak Leon melaporkan tindakannya waktu itu kepada kepala sekolah. Tak perlu waktu lama hingga surat skors keluar dari meja kepala sekolah, mengingat Rhean bukanlah murid yang teladan atau penurut.
Aku tak menyetujui sama sekali keputusan itu, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa diam-diam kembali ke gang ini seperti orang linglung dan berharap dia ada di sini. Namun, nihil. Rhean tidak ada di sini, tidak juga bangkai kucing yang kemarin tergeletak. Bersih, seolah tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Aku bersandar di dinding dan terduduk. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
***
Hari-hari berikutnya, aku tetap bersikukuh pergi ke gang itu dan lagi-lagi tak menemukan Rhean. Aku frustasi. Aku ingin mengatakan banyak hal padanya, tapi kosakataku seolah selalu raib tiap kali bertemu dengannya. Nada suaranya saat itu, aku baru menyadari bahwa nada itu adalah kekecewaan. Kekecewaan yang menyakitkan, tapi karena apa? Aku memejamkan mata. Erat. Kuputuskan untuk berdiam diri di sini hingga ia benar-benar muncul di hadapanku.
***
Apa yang sedang kau lakukan?”
Aku tersentak, ternyata aku tertidur. Kukerjapkan mata berkali-kali, hari telah beranjak malam. Gelap menyelubungiku di gang sempit ini Aku mencoba menggerakkan kaki yang kram, tapi usahaku terhenti saat kutemu jaket menutupi sebagian tubuh. Jaket siapa? Beberapa saat aku terdiam dengan pikiran macet. Rhean?!
Aku berdiri, menelisik ke sekeliling, tapi tak kutemu siapapun. Meski gelap, aku dapat dengan jelas memastikan ada tidaknya orang di sini. Aku menarik napas dan mengembuskannya pelan. Setidaknya bangunkan aku dan biarkan aku bicara meski hanya beberapa kata gagu.
Rhean ....” Aku menggumam sambil menatap lekat jaket hitam itu.
***
Esok harinya, aku berada di antara orang-orang yang melihat ke arahku sambil berbisik dan tatapan aneh. Aku tak bisa mendengar hal yang mereka bicarakan. Kuputuskan untuk segera beranjak ke dalam kelas dengan perasaan yang bercampur aduk. Mengapa teman-teman yang tak pernah menganggapku ada, tiba-tba jadi menaruh perhatian penuh padaku?
“Dia bersama Rhean saat itu di sebuah gang, apa yang mereka lakukan berdua di sana? Ngeri, kan?” Aku menahan napas ketika mendengar kalimat itu meluncur deras dari bibir Niela yang kini memandangku dengan tatapan sinis. Teman-teman yang lainnya pun melakukan hal yang sama kepadaku.
“Jangan-jangan mereka—“
Aku berdiri dari kursi. Saat itu pula ocehan mereka yang seperti dengungan lebah, berhenti. Aku menatap tajam ke arah Niela yang langsung bergidik. Lagi-lagi gosip ini, aku yakin pasti Niela biang dari segala bisikan dan pandangan aneh mereka.
“Apa lagi yang kau sebarkan, Niel?” tanyaku tajam. Aku tidak tahu keberanian dari mana yang mengasaiku saat itu.
“Apalagi? Fakta? Aku melihatmu berdua dengan Rhean di sebuah gang buntu di belakang sekolah. Orang normal pasti berpikir kalian melakukan sesuatu di sana.”
“Melakukan apa?” Aku mengerutkan kening.
“Yah, sejenis yang dilakukan ibumu dengan laki-laki—“
Aku menerjang ke arah Niela sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Air mataku membanjir. Aku menghantamkan tinju lemahku ke arah Niela. Tenagaku telah habis diserap rasa sakit yang terus menganga di dalam dada. Aku marah, aku kesal dengan segala hal yang tidak berpihak padaku di dunia ini. Mengapa? Mengapa semua ini terjadi padaku? Aku tidak menyadari hal yang kulakukan pada Niela, hingga seseorang menggenggam pergelangan tanganku. Saat itu, suara teriakan Niela yang memohon ampun, menusuk gendang telinga. Aku menganga melihat darah keluar dari sudut bibirnya. Teman-teman terlihat menjauh. Aku menatap Rhean yang menggenggam tanganku dengan mata merah dan taring di sudut bibirnya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Bibirku bergetar. Apa hanya kata-kata itu yang bisa diucapkannya?
***
“Apa kau ingin dikeluarkan dari sekolah?”
Aku hanya diam. Aku tak ingin mendengar apapun dari mulutnya saat ini. Insiden tadi sudah cukup membuat otakku terasa kram. Letih. Lagi-lagi, kami hanya terjebak dalam keheningan yang memuakkan. Aku mencari, tapi begitu menemukannya, aku hanya bisa terdiam seperti anak bayi yang belum bisa bicara. Aku lelah.
“Orang tua yang bercerai selalu memberi dampak psikologi yang besar pada anak-anaknya, ya,” ucap Rhean dengan tenang. Aku menatapnya kosong. “Kita sama. Tidak ada yang baik dari membunuh maupun bunuh diri. Keduanya sama-sama menentang takdir Tuhan.” Aku mengerutkan kening, tak mengerti arah pembicaraannya. “Jika hidup tak berjalan baik, mungkin ada yang salah dari cara kita menyikapi kehidupan itu karena kehidupan tak pernah salah.”
“Apa maksudmu?”
“Kau sudah lebih tenang?” Rhean tersenyum. Aku tak mengangguk maupun menggeleng, tapi dia tetap meneruskan, “Aku berbicara soal kita, Aku yang membunuh binatang untuk bertahan hidup dan kau yang mencoba bunuh diri karena hidup.” Rhean seolah sedang mengklarifikasi jati dirinya. “Aku seorang vampir. Ya, aku tahu kau sudah menyadarinya. Mataku akan berubah merah dan taringku akan nampak begitu aku mencium bau darah.”
“Mengapa kau menghentikanku?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.
“Niela memang bukan tipe orang yang bisa menjaga ucapannya, padahal ucapan itu bisa menjadi bumerang yang mematikan untuknya. Namun, menyerang orang lain dalam keadaan marah dan membabi buta, tak akan pernah berakhir baik.”
“Bukan itu yang kumaksud.” Rhean melirikku, “Kau menghentikanku padahal orang-orang sedang berkumpul di sana dan membiarkan jati dirimu terungkap. Mengapa kau malah mengorbankan diri? Kau tahu setelah ini kau pasti dicari dan diburu.” Air mataku menetes lagi tanpa sadar. Aku akui akhir-akhir ini aku terlalu mudah menangis.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Rhean. Rhean membawaku lari sesaat setelah ia berhasil menghentikanku, diiringi tatapan takut orang-orang di sekeliling kami. Rhean menggendong dan membawaku melompat dari jendela sekolah, lalu berakhir di gang ini.
“Apakah menolong orang lain butuh alasan?” Rhean menatapku lugu. “Aku berasal dari Transylvania. Umurku sebagai seorang vampir sangat singkat. Aku tidak peduli dengan mereka yang memburuku karena pada akhirnya aku akan hidup kembali, meski tanpa ingatan yang sama. Ya, seperti “rewind”, mulai dari seorang bayi dari rahim manusia, hingga umur tertentu dan pada akhirnya kami tidak bisa menyembunyikan identitas, diburu. Lalu, kembali lagi seperti awal. Begitu seterusnya dan aku tidak tahu titik akhirnya.” Rhean tersenyum. Senyum sedih. “Terkadang aku ingin agar memoriku tetap tersimpan agar aku tak begitu saja melupakan orang-orang yang berharga bagiku. Meski hanya satu.”
Sayup-sayup, sirine polisi terdengar mendekat. Membawaku dalam kegugupan yang sangat. Aku menengok ke arah ujung gang yang tampak sanat terang karena sirine dan lampu-lampu mobil polisi. Aku tak menggubris teriakan para polisi itu yang terdengar seperti racauan bayi di telingaku saat ini. Aku hanya memandang gugup ke arah Rhean yang tak bergeming.
“Jangan pernah putus asa, apapun yang terjadi. Kehidupan tidak pernah salah.” Hanya kalimat itu yang berhasil masuk di telingaku karena detik berikutnya, polisi berhamburan, menutup pandanganku dari Rhean. Membungkam duniaku dalam sekejap.
***
Tiga puluh tahun berlalu sejak kejadian itu. Namun, ingatan tentangnya begitu segar di kepala, seolah baru kemarin aku mengalaminya. Seperti kata-katanya, aku tak lagi pernah menyerah pada kehidupanku, bahkan sekarang aku memiliki keluarga baru, lebih utuh dari keluargaku yang dulu. Bersama suami, anak, dan cucu, aku hidup dalam kebahagiaan yang kucari dan kuperjuangkan sendiri. Namun, entah mengapa ada sesuatu yang kurang.
Aku tak pernah bertemu lagi dengan Rhean sejak saat itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah itu, tapi aku yakin dia masih hidup. Aku tidak tahu keyakinan mana yang sedang kupegang erat saat ini. Aku hanya yakin, keyakinan yang membawaku hidup hingga detik ini. Hanya karena pertemuan singkat dengan seorang vampir, hidupku berubah. Aku hidup dan memilih sendiri jalan hidupku. Kehidupan memang tak pernah salah, manusialah yang salah dalam menjalaninya.
Sampai saat ini, hanya satu hal yang terus kusesali. Aku tak pernah mengatakan terima kasih padanya. Padahal hanya dua kata itu. Aku ingin bertemu dengannya, meski haya satu menit atau satu detik. Menatap wajahnya sekali lagi dan mengucapkan dua kata itu. Selama tiga puluh tahun aku mencari, selama itu pula aku tak pernah bertemu lagi dengannya. “Rewind” yang pernah dikatakannya, apakah itu nyata?
Tidak, aku mulai mempertanyakan sendiri, apakah dia nyata? Apakah dari awal dia memang ada? Atau semua ini hanya bagian dari imajinasiku? Aku memegang kepalaku yang terasa pusing. Tiga puluh tahun ini, apa yang sebenarnya sedang kucari? Apakah aku akan benar-benar bisa menemukannya?
Tinn tinnn!
Aku terkesiap dan menoleh ke arah mobil yang melaju kencang ke arahku. Detik itu pula seseorang menarik pergelangan tanganku ke belakang. Mobil itu melintas di depanku dengan kecepatan tinggi, hampir menabrakku.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Aku tersentak, buru-buru kulihat orang yang menolongku barusan. Kutemu seorang lelaki remaja, wajahnya berbeda tapi terasa familiar. Ia tersenyum, kemudian berlalu begitu saja bersama pejalan kaki lainnya. Aku tertegun. Pikiranku berkecamuk. Segala rasa seolah tumpah ruah menjadi satu. Air mataku mengalir.
Siapapun dia, kuharap memang dia. Tubuhku bergetar menahan tangis. Tiga puluh tahun pencarian tak berujung ini, apakah kini telah berakhir? Kutatap punggung lelaki remaja SMA yang semakin menjauh itu. Aku menyentuh luka yang masih membekas di pergelangan tanganku. Luka itu berdenyut. Sesuatu yang kupercayai bahwa dia masih ada. Bahwa aku masih punya satu kesempatan lagi untuk mengucapkan terima kasih padanya.
Aku tidak ingin peduli dengan rewind atau apapun. Aku tidak ingin peduli dia vampir atau manusia. Aku tidak ingin peduli karena pada akhirnya, hal yang paling kusesali adalah kesempatan yang tak kuambil. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan apapun lagi, meski hanya dua kata yang tak pernah mengucur dari bibirku untuk sosok itu. Dua kata paling mudah untuk diucapkan, tapi hanya mampu kusimpan selama tiga puluh tahun untuk seseorang yang telah menyelamatkanku.
Kakiku bergerak, berlari. Tanganku mencoba menggapai lelaki itu di tengah kerumunan dan lalu lalang. Aku tidak ingin menyerah pada apapun lagi, tidak juga untuk hal ini. Sungguh aku tak ingin memedulikan apapun saat ini. Kata itu, untuknya.
“Terima kasih.”
***


What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

よろしく!

My photo
Suka banget sama segala jenis buku, mau buku gambar, buku kosong, buku matematika, fisika juga oke, tapi gak perlu ngomongin nilai lah ya hehe. Suka dunia tulis-menulis sejak di Lauhul Mahfudz dan lagi gandrung banget nulis kata-kata baper padahal nggak kenapa-napa.

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com