Sunday, January 22, 2017

Cerpen Fantasi Romantis - SAMA-SAMA ("VAMPIR" bagian 2)

SAMA-SAMA
Ratna Juwita



Karena kau pun menjelma variabel sukar yang terlalu rapuh saat mataku tertuju padamu
“Terima kasih.”

         Langkahku terhenti ketika suara itu mampir ke telinga begitu seseorang menyentuh pundakku. Ketika berbalik, kutemukan seorang wanita paruh baya sedang mengucurkan air mata. Aku tertegun. Di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang ini, mengapa ia menangis?
         Untuk beberapa detik berikutnya, aku hanya memandang lekat keriput yang menghias sebagian wajahnya yang tampak familiar. Lidahku mendadak kelu, otakku seperti sedang berusaha menggali memori yang tak dapat ditemukan di folder manapun. Siapa dia?
***
         Berhari-hari, aku begitu terganggu dengan pertemuan bersama seorang wanita paruh baya saat itu. Sejenak, aku bisa melupakannya ketika beraktifitas di sekolah seperti biasa bersama manusia-manusia yang kuharap takkan pernah mengetahui identitasku. Aku senang berada di antara mereka, tapi di sisi lain aku selalu takut jika mereka mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Mereka pasti akan ketakutan, menjauhiku, bahkan mungkin juga menangkapku.
         Aku tidak pernah tahu bagaimana bisa dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan yang berbeda. Yang kutahu hanya kenyataan bahwa aku hidup dan perasaan kosong yang menjadi sahabat paling setia bagiku. Namun, setelah perasaan kosong dan pikiran yang tak pernah berhenti bertanya “mengapa”, pintu pertanyaan itu seakan sedikit terbuka ketika aku melihat wanita itu.
         Aku merasa pernah bertemu dengannya, aku merasa hangat walau hanya sesaat. Meskipun hatiku masih dipenuhi oleh keraguan, untuk pertama kalinya selama tujuh belas tahun ini, aku merasa menemukan sesuatu, sesuatu yang hangat pada matanya.
Akhirnya, aku hanya berjalan tanpa tujuan yang jelas dan berakhir di jalan ini. Jalan yang mempertemukanku pertama kali dengannya. Sekalipun kecil, ada harapan agar aku bisa bertemu dengannya. Sekali lagi.
         “Rhean?”
         Aku tersentak mendengar suara dan panggilan itu, seolah tertuju padaku. Aku menoleh dan mendapati wanita paruh baya itu sedang berdiri memandangiku dengan senyum yang tak pernah tanggal dari bibirnya.
         Ia memakai baju berwarna pink dengan rok selutut berwarna senada dan bermotif bunga-bunga, khas orang tua. Aku mengalihkan pandangan darinya buru-buru, berusaha melarikan bola mata kemanapun asal tidak pada manik matanya. Mungkin dia memanggil orang lain, aku mulai gugup. Ia memanggil orang bernama “Rhean”, sedikit mirip dengan namaku. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan kegelisahanku.
         “Apa namamu Rhean?”
Aku mengangkat wajah agar bisa memastikan bahwa pertanyaan itu memang tertuju padaku. Aku menggeleng.
         “N-namaku Rhein,” jawabku sedikit gagu. Ia mengembuskan napas berat, tapi masih dengan senyuman yang sama. Terpancar kelegaan dari matanya. “Kenapa?” Tanpa sadar, kata tanya itu meluncur begitu saja dari mulutku. Cepat, kukatupkan bibir.
         Wanita itu menyandarkan punggung pada dinding toko bercat abu-abu sama seperti yang kulakukan, tepat di sampingku. Ia tak segera menjawab, melainkan menatapku terlebih dahulu dengan lebih dalam, membuatku salah tingkah.
         “Aku ... pernah punya teman, dulu,” terangnya. “Namanya Rhean. Ia berulang kali menyelamatkan hidupku dan aku merasa berhutang budi padanya, tapi suatu hari kami berpisah. Ia mirip sepertimu.”
         Aku mengerutkan kening. “Itu berapa tahun yang lalu? Bukankah seharusnya dia juga seumuran denganmu? Sedangkan aku masih SMA.”
         “Ya, seharusnya begitu, tapi dia berbeda.” Ia memalingkan wajahnya dariku, menatap kerumunan orang yang berlalu-lalang di depan kami. Aku mulai memikirkan awal mula percakapan kami yang aneh ini.
         “Berbeda bagaimana?” Aku tak bisa berhenti bertanya. Banyak hal yang ingin kuketahui darinya. Wanita tua itu tak langsung menjawab. Kami dicekam keheningan yang tidak mengenakkan untuk beberapa saat.
         Ia menoleh padaku. “Dia ... sepertimu.”
         DEG!
         Aku tercengang, hingga tanpa sadar kakiku mundur beberapa langkah menjauh darinya. Wanita itu sama terkejutnya denganku, mungkin tak menduga reaksiku. Mendadak, jantungku berdebar. Ia memang tak mengatakan dengan jelas, tapi entah kenapa aku merasa dia tahu identitasku yang sebenarnya.
Tanpa pikir panjang, aku berlari menjauh darinya. Aku mengabaikan teriakan wanita itu yang memintaku untuk kembali sambil meminta maaf.
***
         “Apa yang sedang kau lakukan?” Tiba-tiba, aku mendengar suaraku sendiri keluar begitu saja merupa bisikan ketika kulihat seorang gadis SMA tidur di sebuah gang buntu. Selanjutnya, tanganku bergerak melepas resleting jaket yang kupakai sedari tadi dan menyelimutkannya pada gadis itu.
         Wajah itu. Aku menatap lekat wajah polos yang seolah menyimpun ribuan derita yang tak pernah berhenti menyudutkannya. Aku seperti mengenal wajah itu, tapi dimana? Apakah dia menungguku? Aku bertanya dalam pikiranku sendiri, pertanyaan yang tak terjawab.
         Gadis itu kemudian tampak terbangun, buru-buru aku menyelinap ke sudut gang, tepat di belakang tong sampah. Aku berdebar, di satu sisi aku ingin menemuinya, ingin berbicara banyak hal padanya, tapi di sisi lain aku khawatir. Khawatir jika ia ketakutan saat mataku berubah merah dan taringku muncul. Aku tak ingin menakutinya.
         Eh, rasa apa ini? Mengapa ia bisa tahu bahwa aku vampir?
Gadis itu berdiri, kusembunyikan diri di belakang tong sampah lebih merapat ke dinding. Sesuatu menetes dari mulutku, cairan berwarna merah; darah. Aku mengusap sudut bibirku, apakah aku baru saja berburu?
         “Rhean ....”
         Kriing Kriingg
         “Rhein, cepatlah bangun! Ini sudah jam delapan!”
Aku langsung terduduk di atas tempat tidur. Tersengal. Lagi-lagi mimpi itu. Aku memegang kepalaku yang terasa berat. Cepat-cepat kumatikan alarm yang semakin membuat kepalaku serasa ditindih galon air.
         “Ya, Mom!” Kubuang selimutku dan bergegas turun dari tempat tidur. Aku masuk ke kamar mandi dan tertegun ketika kutatap cermin di hadapanku. Walaupun sekilas, aku seperti melihat bayangan gadis itu memantul pada cermin itu. Kukerjapkan mata. Mungkin aku sedang sangat kelelahan.
***
         Aku menyusuri jalanan Abbey Road hingga sampai di depan stasiun St John’s Wood, tempatku biasa menaiki kereta untuk bisa sampai di sekolah. Tetapi, langkahku terhenti lagi ketika kulihat wanita tua itu dengan baju dan rok yang sama seperti kemarin, sedang tertidur di samping Beatles Coffee Shop, tepat di sebelah pintu masuk stasiun. Aku gamang, takut. Bagaimana bisa dia berada di sana? Apakah ia sengaja mengikutiku sampai ke tempat ini kemarin? Kalau iya, dia benar-benar gila.
         Akhirnya, aku hanya terpaku di seberang jalan tanpa berani maju selangkah pun dari tempatku berdiri. Seolah-olah, derap langkah kakiku akan bisa membangunkannya. Wanita itu tidur dengan posisi kepala berada di antara kedua lututnya yang disatukan oleh kedua lengannya yang terlihat rapuh.
         Aku ingin pergi dari tempat itu segera, tapi aku tak menemukan cara lain untuk menghindar selain ke arah pintu masuk stasiun itu atau aku akan kena hukuman karena terlambat masuk sekolah. Oh, tidak. Aku tidak ingin membersihkan kamar mandi karena di sana adalah tempat paling menjijikkan seantero sekolah. Aku mengumpat dalam hati.         Pilihan mana yang harus kuambil?
         “Apa yang sedang kau lakukan?” Lagi, aku mengumpat keras di dalam hati ketika tahu-tahu aku sudh berdiri di hadapannya.
         Siapa sebenarnya yang sedang mengkomando otakku? Aku merasa tidak sedang berada di dalam ragaku sendiri. Dan pertanyaan itu, mengapa aku menanyakannya? Wanita itu bergeming, sedikit demi sedikit ia mulai menegakkan kepalanya. Rambut putihnya sedikit dimainkan oleh sepoi angin yang berembus pelan. Ia mendongak, menemukanku berdiri mematung di hadapannya. Kuharap, ia takkan berteriak dan menghujaniku dengan pelukan seperti dalam drama romantis yang sering kutonton di televisi. Ayolah, dia hanya seorang wanita tua dan aku remaja lelaki yang waras.
         Tanpa kuduga, ia tersenyum. “Apakah kau tidak punya kalimat tanya yang lain? Sudah tiga puluh tahun, tapi kau sama sekali tidak berubah,” ucapnya menyindir. Anehnya, aku sama sekali tak tersinggung dengan kata-katanya itu.
         Aku tak menanggapi ucapannya, tepatnya bingung harus menjawab bagaimana. Wanita tua itu kemudian mengambil sebuah tas dari bahan kertas di samping kirinya. Ia berdiri, sambil memegang tas itu dengan kedua tangannya, seolah benda di dalamnya sangat berharga dan tak ingin dilepaskan.
         “Ini, kukembalikan padamu.” Ia menyerahkan tas itu. Aku ragu-ragu menerimanya. Aku tak merasa pernahmeminjamkan apapun kepadanya, bahkan kami hanya pernah bertemu dua kali sebelum ini. Sepertinya ia menangkap keraguan di mataku, ia segera mengeluarkan isi di dalam tas kertas itu. “Ini jaketmu. Aku tak sempat mengembalikannya waktu itu, maafkan aku dan ... terima kasih.”
         Aku menerima benda hitam yang disebut jaket itu darinya dengan perasaan bercampur aduk. Jaketku? Jaket itu tampak sangat tua, tapi masih terlihat baik. Mungkin ia begitu menjaganya dengan hati-hati, tapi aku tak pernah merasa pernah memiliki jaket seperti ini atau meminjamkannya padanya.
         “Mungkin, ini jaket temanmu waktu itu. Maafkan aku, kau salah orang.” Kuserahkan kembali jaket itu padanya.
         Ia menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuterjemahkan artinya. Aku sempat melihatnya berkaca-kaca, sebelum akhirnya kuputuskan untuk pergi begitu ingat bahwa aku akan terlambat ke sekolah jika tidak segera berangkat dengan kereta berikutnya.
        “Maaf, tapi aku benar-benar bukan orang yang kau cari,” kataku sambil berlalu.
         “Rhean ....” Kakiku memaksa berhenti mendadak. Kesal. Aku ingin mengatakan padanya bahwa namaku Rhein, bukan Rhean. “Terima kasih.”
         Aku berbalik untuk meluapkan kekesalanku padanya, tapi ia sudah berlari. Suara klakson mobil yang nyaring begitu memekakkan telinga. Sebelum sempat menyadari hal yang terjadi, wanita itu sudah menggelepar di tanah sambil memeluk seorang anak kecil.     Aku tercekat. Tenggorokanku mengering ketika kulihat darah berhamburan dari kepala dan tubuhnya. Anak kecil dalam dekapannya, menangis. Meringsekkan beberapa bagian hatiku yang seakan pecah.
          Aku berlari, membabi buta. Warna baju dan roknya mendadak dipenuhi warna merah, merah darah yang menyesakkan. Aku memandangnya tanpa berkedip, ia tampak tersengal dan terbatuk beberapa kali. Bau seperti besi dengan segera memenuhi indra penciumanku.          Mataku panas. Segera kututupi mukaku dengan telapak tangan dan berlutut di sampingnya. Aku merasa ada yang bergerak memanjang di sudut bibir. Taringku.
Jantungku berdebar dan sesak dalam waktu yang bersamaan. Aku takut. Takut orang lain melihatku dalam keadaan seperti ini, kemudian memburuku. Takut jika wanita tua aneh ini mati begitu saja di sini. Aku ingin menolong, membopongnya ke rumah sakit secepat yang kubisa, tapi aku takut. Orang-orang pasti akan langsung menyerbuku begitu tahu identitasku yang sebenarnya.
         Apa yang harus kulakukan? Suara orang-oarng yang berlarian dan berkerumun segera memenuhi indra pendengaran. Membuatku gugup, kalut.
         “Panggilkan ambulans!” teriak seseorang yang kemudian dikonfirmasi dengan bunyi tombol handphone.
         “Anakku! Kau tak apa?” Suara seorang ibu-ibu menyeruak. Tangisan anak itu semakin membuatku gelisah, memporak-porandakan logikaku. Aku sama sekali tak berani melepas telapak tanganku dari wajah,
         “Hei, Nak! Apa dia ibumu? Hei!” Seseorang mengguncangkan bahuku. Jantungku kebat-kebit, aliran darahku serasa bergerak sangat cepat. Aku tersengal karena panik. Apa yang harus kulakukan?
         Tiba-tiba, sebuah benda melayang ke kepala. Menutup cahaya yang usil masuk lewat celah jariku. Gelap. Samar-samar, kucium bau wangi yang sempat kucium dari wanita tua itu sebelumnya. Benda apa ini? Aku mencoba mengintip lewat celah jari, benda seperti kain berwarna hitam tengah bertengger, menutupi kepalaku.
         Tanpa pikir panjang, aku segera berlari sambil tetap menutupi wajahku dengan benda itu dan segera menerobos kerumunan. Berlari kemanapun kaki bisa membawaku pergi.
***
         Aku sampai di sebuah gang buntu. Tersengal, kulepas benda yang sedari tadi menutupi wajahku. Seketika tu aku dibuat tertegun ketika mengetahui bahwa itu adalah jaket hitam yang kukembalikan pada wanita tua itu tadi. Rupanya, wanita tua itu yang mungkin meletakkan itu untuk menutupi wajahku. Kenapa? Karena ia tahu mataku akan berubah menjadi merah dan taringku akan muncul saat mencium bau darah?
         Kutatap lekat jaket yang telah tertempel bercak darah, darah wanita itu. Aku mencium bau darah yang sangat familiar di hidung. Kemudian, aku menyusuri tempatku berada, meredam mata dan taring yang kuharap segera menjadi normal kembali. Gang buntu ini, mengapa terasa tak asing lagi? Aku mengacak rambutku karena tak mengerti dengan kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini. Mengenai wanita tua itu, mengapa segalanya menjadi begitu rumit saat berhadapan dengannya?
         Apa? Apa yang terlupakan olehku? Aku tidak tahu. Kutatap jaket itu lekat. Aku terhenyak saat menyadari jaket itu mirip dengan jaket yang ada dalam mimpiku akhir-akhir ini. Jaket yang dipegang oleh gadis dalam mimpiku. Gadis yang ...
         Rhean ...
         Lagi, aku hanya mampu terhenyak saat memori tiba-tiba berebut masuk. Seketika, aku tak bisa menahan diri dari kegelisahan untuk segera bertemu wanita itu.
***
          “Apa yang sedang kau lakukan?”
          “Aku yang seharusnya bertanya itu padamu.” Aku memandang wanita tua yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu.
         Aku menoleh ke arah pintu kamar. Mengangguk dan tersenyum, memberi isyarat pada suami dan keluarganya yang menunggu dalam keadaan cemas. Tak mudah bagiku untuk meyakinkan mereka agar bisa bertemu dengan Fiola. Anak remaja sepertiku, apa yang bisa membuat mereka yakin? Aku akhirnya bisa bertemu dengan Fiola, dua hari selepas koma atas permintaannya sendiri pada keluarganya.
         Setelah bangun, hanya kata tanya itu yang diucapkannya? Ia bercanda. Aku mengusap air mata yang mengalir perlahan dari kedua bola mataku.
         “Kau sudah ingat?” Fiola kembali bertanya dengan suara lemah.
         Aku menatap ke langit-langit kamar rumah sakit, berharap air mata kembali masuk ke dalam mata. “Ya.”
         Fiola terdengar tertawa pelan. “Mengapa kau menangis?”
         Aku melotot ke arahnya, tapi malah membuat tawanya semakin panjang. “Setelah ingat, bagaimana bisa kulihat teman lamaku terbaring lemah di atas rumah sakit tanpa tahu kapan ia akan terbangun?”
         Fiola berhenti tertawa. Keriput di samping matanya terlihat merenggang sejenak.
        “Aku ingin berbicara banyak hal padamu.”
        “Aku juga,” sahutku cepat. Ia melirikku. “Yang pertama, mengapa kau tiba-tiba berlari, manabrakkan diri—“
         “Kalau tidak, anak itu akan tertabrak—“
         “Sejak kapan kau jadi seorang pahlawan begini?”
         Hening. Fiola tidak langsung menjawab, ia mengembuskan napas tertahan.
         “Sejak seseorang menyelamatkan dan mengubah hidupku. Bagiku setelah itu ... tidak ada yang lebih penting dari berterima kasih padanya. Dan membalas kebaikannya dengan menolong orang lain, sama seperti ia menolongku.” Fiola menatapku. Aku berusaha menyelami matanya yang seolah menjelma samudera yang dalam. Mata coklat tehnya berbinar.
         “Fiola—“
         “Aku bercanda.” Ia tertawa pelan. “Kakiku bergerak begitu saja tanpa kusadari,” lanjutnya.
         “Kau ....” Aku menepuk dahinya pelan. Ia mengerang sesaat, kemudian tertawa lagi. Bersamaku. Entah bagaimana, ada perasaan hangat yang menyelimuti hatiku saat ini, tertawa bersamanya. Satu-satunya orang yang kuingat selama rewind-ku. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa mengingatnya begitu saja.
       . “Bagaimana kau bisa mengingatku lagi?” Fiola bertanya setelah tawanya berhenti.
         “Aku tidak tahu,” jawabku. “Tapi mungkin karena kata-kata terakhirku saat di gang buntu waktu itu ... meski hanya satu, aku ingin mengingat orang yang penting bagiku.”
Fiola menatapku dengan pandangan yang lagi-lagi tak mampu kuterjemahkan.
          “Penting?” tanyanya kemudian.
         Aku menarik napas dalam. “Ya, baru pertama kali itu aku melihat orang yang mau menungguku di sebuah gang yang gelap hanya untuk bertemu denganku. Dan aku juga baru pertama kali mendapat bantuan bodoh dari wanita tua sekarat yang melemparkan jaketnya ke kepalaku.” Aku tertawa ketika melihat dahinya yang berkerut.
         Detik berikutnya, kami berada dalam suasana yang canggung, tapi tidak menyesakkan. Kami seolah sedang berbicara dan bersenda gurau dalam diam. Menikmati kebersamaan kami setelah tiga puluh tahun dalam keheningan yang menengkan. Perasaan hampa yang menjadi sahabatku selama ini, diam-diam pergi. Meninggalkan senyum tersungging di bibirku.
         Untuk pertama kali, aku memiliki seorang teman yang sangat menghargai keberadaanku. Mencoba melindungiku, meski dalam keadaan apapun.
         “Mengapa kau menolongku waktu itu?” tanyaku padanya ketika teringat bahwa ia bisa saja mengabaikanku yang sama sekali lupa tentangnya saat kecelakaan itu.
         "Apakah menolong seseorang butuh alasan?” Fiola tersenyum jail kepadaku. “Aku tak ingin peduli apakah kau manusia atau vampir, bagaimanapun dirimu kau tetap kuanggap temanku.”
         Aku tertegun. Seseorang mengatakan itu padaku, walaupun ia mengetahui identitasku yang sebenarnya. Mungkin, alasan mengapa aku mengingatnya kembali adalah ini. Karena kami sama-sama menganggap penting satu sama lain. Ia menunggu tanpa keraguan selama tiga puluh tahun, bahwa aku akan kembali. Mungkin, keyakinan itu yang membuahkan sebuah keajaiban. Untukku dan untuknya.
         “Rhein,”
         “Ya?”
         Fiola tersenyum hingga keriput di wajahnya menggurat.
         “Terima kasih. Aku tak ingin menyesali apapun lagi. Terima kasih.”
         Aku menatapnya. Ya, mungkin keajaiban ini yang selalu kutunggu selama ini. Keajaiban bahwa akan ada satu orang. Satu saja yang benar-benar menghargaiku, siapapun diriku. Yang benar-benar menerimaku apa adanya.
          “Ya.” Aku tersenyum. Aku juga tak ingin menyesali apapun. Dengan jelas, kukatakan padanya, “Sama-sama.”
***
What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

よろしく!

My photo
Suka banget sama segala jenis buku, mau buku gambar, buku kosong, buku matematika, fisika juga oke, tapi gak perlu ngomongin nilai lah ya hehe. Suka dunia tulis-menulis sejak di Lauhul Mahfudz dan lagi gandrung banget nulis kata-kata baper padahal nggak kenapa-napa.

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com