Thursday, December 28, 2017

Sesi Curhat -- Menembus Dinginnya Puncak Sikunir




Baru sempat menulis pengalaman perjalanan ke Puncak Sikunir atau Puncak Dieng? Yang jelas, sebelum naik ke atas ada tulisan Sikunir. Jadi, Puncak Sikunir? Tapi, rencananya ke Puncak Dieng :’) atau sama saja? Efek tidak pernah jalan-jalan mulai nampak jelas, nih.

Sebenarnya, ajakan datang begitu tiba-tiba. H-seminggu keberangkatan, temanku mengajak untuk pergi ke Puncak Sikunir tepat setelah UAS selesai dan sebelum pulang ke kampung halaman. Maklum, kami anak rantau di daerah Yogyakarta. Setelah memikirkan masak-masak mengenai uang jajan yang dilindas habis untuk patungan menyewa mobil dan membayar bensin, jadilah kuputuskan pergi bersama rekan-rekan sekelompok perantauan yang sudah dari masuk kuliah disatukan takdir ini. Set, dah!

Kapan lagi bisa jalan-jalan ke tempat yang agak jauh dengan mereka? Pikirku saat itu. Akhirnya berbekal izin tidak ikhlas dari orang tua yang sebenarnya mengkhawatirkan anak rantaunya ini, mantaplah anggukan kepala untuk ikut pergi menuju Puncak Sikunir.

Kami berangkat berdelapan menunggangi kuda besi Avanza hitam, enam teman perempuan yang sudah disatukan takdir tadi, dan dua lelaki, pacar salah dua temanku. Tugas menyetir mobil diambil alih oleh pacar F. F dan pacarnya kebagian di depan mobil layaknya pasangan suami istri yang membawa rombongan keluarganya jalan-jalan. Nah, si pacar temenku S duduk di bagian tengah mobil, dengan S dan L. Aku duduk paling belakang dengan R dan P. Wkwk, macam rupiah saja RP. Sebenarnya, pacar S adalah orang Jepang yang mualaf dan habis sunatan, jadi kondisinya tidak begitu fit. Kami merasa durhaka karena sudah mengajaknya, tapi kami yakin dia juga menikmati liburan ini. Sing penting yaqin sek.

Mulailah perjalanan kami menerobos hujan pukul lima sore. Satu per satu, kami dijemput oleh F dan pacarnya. Eh, btw baru kali itu kami ketemu pacarnya F, untung orangnya supel dan gampang akrab. Hehe. Perjalanan kami bisa dibilang sangat menyenangkan. Bernyanyi, joget, sampai malu dilihatin pengendara dari luar saat lampu merah karena kami sangat ribut. Sesekali, kami menggoda F dan pacarnya yang tampak serasi seperti ibuk bapak di bagian depan. Antara geli dan iri. Beberapa dari kami pun mengeluh seandainya punya/bawa pacar juga *eh. Si S dan pacarnya juga tidak kalah membuat panas dengan kata-kata romantis seperti “sayang” dan “rindu” yang menurut pengakuan pacarnya S tumben sekali dikatakan S padanya. Wkwk. Ketahuan, dah, setting-an kayak program televisi katakan katakan katakan atau Rumah Ayu *eh.

Perjalanan dari Yogyakarta ke Wonosobo sebenarnya kami tempuh hanya dalam waktu kurang lebih 5 jam. Namun, perjalanan ke Puncak Sikunir ternyata menambah beban waktu yang cukup banyak. Ditambah kesasar. Tapi karena barengan dan aku gak kebagian menyetir mobil mah asyik enjoy aja gitu. Haha. Jadi pengin bisa nyetir mobil juga #ganyambung.

Karena mengikuti arahan mbah google yang kadang memang menyesatkan, kami sempat masuk ke jalan yang sangat sempit. Karena hari masih sangat pagi, untungnya tidak ada kendaraan yang lewat. Akhirnya, setelah memeriksa kondisi jalan yang sepertinya hanya bisa dilewati dengan sepeda motor atau jalan kaki, kami putar arah dengan perasaan was-was karena takut nyemplung terus arum jeram dadakan ke salah satu sungai yang mengapit jalan sempit itu.

Setelah melalui berbagai wewangian durian yang menggoda, berhenti di beberapa rest area, sempat makan bakso di pinggir jalan, dan menghadapi medan berkelok-kelok yang membuat sebagian besar kami hampir tumbang, serta memuntahkan cairan dari lambung—sebenarnya aku banyak tidur dan tidak terlalu memperhatikan jalan, muehehe—tibalah kami di parkiran Puncak Sikunir pada pukul setengah dua pagi. Lebih lama dari yang kami rencanakan. Tapi yasudahlah, yang penting kami harus tidur karena lelah (padahal sedari berangkat aku cuma duduk anteng di belakang).

Kami harus bersiap secara fisik dan mental menghalau dingin dan air WC—yang macam terbuat dari es saking dinginnya—nanti pukul empat pagi. Kami berniat mengejar sunrise di Puncak Sikunir. Setelah tidur tidak cukup alias dua jam saja, kami dibangunkan F dan pacarnya untuk bersiap menuju puncak tertinggi. Uyeah.

Begitu selesai memasang perlengkapan perang: sarung tangan, topi rajut, dan jaket, kami keluar dari persinggahan dan mendapati beuhh ... bahwa di bawah Puncak Sikunir saja sudah terasa dinginnya yang membuat tanganku terus menggosok satu sama lain. Kami kelupaan membawa senter, tapi Pacar S sepertinya cukup pengertian dengan mempersiapkan satu buah senter, sisanya pakai handphone masing-masing. Aku dan L memimpin di depan dengan sinar handphone. Keadaan sangat gelap karena masih pukul setengah empat pagi, ditambah jalanan berkabut dan medan yang asing, membuat kami selalu waspada. Jalannya cukup luas untuk dilewati dua orang, tapi semakin ke atas semakin menyempit. Ribuan anak tangga kami daki satu per satu dengan napas ngos-ngosan. Sepagi itu sudah olah raga mendaki ke puncak memang hal yang tidak biasa.

Kami berhenti beberapa kali karena kelelahan dan mengkhawatirkan Pacar S yang habis sunatan. Kami mendaki sekitar kurang lebih 20 menit saat merasa sudah sampai di puncak, tapi ternyata bukan. Tempat itu ternyata adalah tempat untuk sholat dan beristirahat sejenak. Cukup luas, gubuk berdinding anyaman rotan itu cukup untuk menampung sholat sekitar 15 orang dengan kurang lebih lima kamar mandi di sisinya. Karena hari masih petang dan air tidak mengalir untuk berwudhu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sakral itu. Kami bergandengan dan saling melindungi satu sama lain melewati medan yang melelahkan dan kadang licin karena hujan. Ceilah.

Begitu berjalan sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, kami diantarkan pada gubuk kecil (seperti gubuk di tengah sawah yang tak berdinding) dan beberapa orang yang sudah berada di sana lebih dulu. Jangan tanya tentang suhu, dingin dan berkabut! Atau aku yang tidak tahan dingin? Hehe. Saat itu handphone-ku dalam keadaan mati, jadi tidak bisa mengecek suhu di sana. Aku terus merapatkan jaket dan sarung tangan. Kami pun menggelar sajadah dadakan dari mantel hujan dan melaksanakan sholat subuh sembari memunggungi sang fajar.



Itu adalah pengalaman yang mengesankan bagiku. Baru kali itu aku mendaki ke puncak sebuah gunung, pegunungan, ataupun bukit dan perbukitan. Melihat fajar dan semburat benang tipis dari ketinggian seperti itu benar-benar pengalaman yang baru. Aku bisa melihat jelas, antara kabut dan keremangan, siluet gunung yang berdiri kokoh di sekitar kami. Tak menyesal rasanya memutuskan ikut bersama mereka. Walaupun kelelahan dan kedinginan, semua itu terbayar dengan tawa kami ketika berpotret membelakangi Sang Mentari yang menjanjikan cahaya setiap hari. Pertama kali aku menyaksikan sunrise secara langsung di sebuah puncak.

Akan tetapi, ada satu insiden menggelikan yang tidak boleh terlewatkan dalam catatan perjalanan ini. Temanku, L, mendadak sakit perut dan membuat kami kelabakan. Kami menduga pelaku yang bertanggung jawab atas insiden ini adalah susu kotak yang diminumnya beberapa saat sebelumnya. Alhasil, ia berulangkali memasang tampang yang tidak bisa dijabarkan sambil berdoa agar sakit perutnya segera hilang. Namun, rupanya doanya tidak terkabul begitu saja. Sakit perutnya semakin menjadi-jadi dan memaksa ingin segera dikeluarkan.

Dalam keadaan gelap, kami tidak melihat toilet atau semacamnya. Baru setelah matahari mengacungkan cahaya dari timur, nampak sebuah tempat yang seharusnya toilet. Seharusnya. Beberapa kali L pergi ke sana berbekal tisu dan botol aqua, namun selalu kembali tanpa hasil. Ia berdalih tidak bisa mengeluarkannya, entah karena tempat yang tidak nyaman atau suasana yang begitu dingin. Aku juga tidak tahu. Aku hanya bersyukur saat itu tidak mengalami nasib yang sama dengannya. Hehe. Jahat mode on.

Karena tidak tega melihat mukanya yang tidak lagi bisa dikondisikan, aku memutuskan membujuknya untuk sekali lagi pergi ke tempat-yang-seperti-toilet itu. Aku yang kebagian mengantarnya kali itu. Yah, tempatnya tidak terawat dan hanya satu bilik dengan bagian pintu bolong di bagian atas yang tidak terkunci. L masuk dengan peralatan perangnya (baca: tisu, aqua, dan kresek). Lagi-lagi, aku bertugas memegangi bagian atas pintu yang bolong karena pintunya tidak bisa dikunci dari dalam. Saat itu, aku harap-harap cemas dan deg-deg-an. Apakah itu cinta? Bukan, lebih takut mendengar suara-suara aneh atau mencium hal-hal yang tidak kuinginkan. Hehe.

Kuputuskan bersenandung. Lagu SNSD yang baru-baru ini kugandrungi. FYI, biasku adalah Jessica Jung yang sudah keluar dari grup itu pada tahun 2014 lalu, dih jadi sedih lagi ☹. Oke, back to the main topic. Sambil menggumam, hal yang tak kuinginkan terjadi. J berteriak dari dalam diikuti suara kresek dan air, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang terjadi. Setelah melewati semua itu selama beberapa waktu yang tak terhitung, L sukses mengusir rasa sakit di perut beserta isinya. Sebagai sahabat, aku juga merasa terharu. Dih, apadah. Wkwk.

Setelah melewati berbagai cobaan yang mendera, kami bisa kembali ke puncak Sikunir dengan senyum terkembang di wajah. Kakiku mati rasa saat itu. Entah sejak kapan, mungkin efek hanya memakai kaos kaki dan flat shoes berbahan karet. Pelajaran bagi siapapun yang ingin naik gunung, yang penting jangan pakai sandal jepit merk apapun. Mau merk skyhigh kek, swansea kek, smellow kek gausah. Mending pakai sepatu. Jangan sepatu hak tapi.



Ala-ala anak hits dan kekinian lainnya, kami pun asyik mengabadikan momen itu, berkali-kali kami memencet tombol kamera, pura-pura candid yang gagal, dan memasang tampang seberagam mungkin. Sepertinya, sebuah penelitian psikologi ada benarnya bahwa jiwa akan lebih merasa puas dan bahagia jika menggunakan uang untuk berpergian dan mencari pengalaman ketimbang menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang kita inginkan. Muehehe. Aku tidak tahu sumbernya, tapi coba cari di mbah google kalau ingin mengecek kebenarannya.

Untuk sejenak, sejenak saja aku melupakan masalah-masalah yang mendera. Di sana, di puncak yang tinggi itu aku menyaksikan keindahan semesta. Cahaya lampu rumah warga di sela pegunungan dan mentari yang mengintip malu sebelum benar-benar menampakkan kegagahan sinarnya. Pada detik itu, lagi, aku mengagumi ciptaan Tuhan dan membuatku terus bersyukur aku pernah menyaksikan dan menikmatinya bersama orang-orang yang kusayang. Aku berharap bisa menyaksikan pemandangan seperti itu lagi di lain tempat, bersama orang-orang yang kusayang lainnya. Aamiin.

Hidup itu indah. Lebih indah lagi jika kita bisa berbagi satu sama lain, bisa menikmatinya dengan rasa syukur sebanyak mungkin. Berterima kasih pada Tuhan karena telah mengizinkan kita lahir dan hidup di atas bumi ciptaan-Nya dan menikmati keindahan yang dihamparkan-Nya.

Malang, 27 Desember 2017

P.S. Aku tidak bisa memublikasikan foto-foto kami dengan alasan privasi. Hehe.

What do you think? :

0 Creat Your Opinion:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Translate

Search This Blog

よろしく!

My photo
Suka banget sama segala jenis buku, mau buku gambar, buku kosong, buku matematika, fisika juga oke, tapi gak perlu ngomongin nilai lah ya hehe. Suka dunia tulis-menulis sejak di Lauhul Mahfudz dan lagi gandrung banget nulis kata-kata baper padahal nggak kenapa-napa.

はじめまして !

ラトナジュウィタです、よろしくお願いします!
参加することはありがとうございました。 \(^o^)/ 楽しみてね 😘

友達になろう 😃

Total Pageviews

Blinking Cute Box Panda

Popular Posts

Powered by Blogger.

Atsuko Maeda (前田敦子)

Atsuko Maeda (前田敦子)
(ex member AKB48)
small rss seocips Music MP3
Hold my hand

Copyright © Ratna_Juwita 48 | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com